Kembali Lahirkan Guru Besar, Haedar Minta UMS Garap Rekayasa Sosial

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 13 Agustus 2020 22:34 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SURAKARTA – Di tengah pandemi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melahirkan Guru Besar melalui Sidang Terbuka Senat UMS secara daring, Kamis (13/8).

Dengan pidato seremonial pengukuhan bertajuk kontribusi Psikologi Islam terhadap peningkatan kualitas umat, Prof. Taufik, S.Psi., M.Si., Ph.D. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Psikologi Umum Fakultas Psikologi UMS.

Dengan pengukuhan itu Taufik menjadi Guru Besar UMS ke-30, sedangkan UMS menjadi Perguruan Tinggi Swasta pertama di Jawa Tengah yang telah melakukan pengukuhan Guru Besar secara daring sebanyak dua kali.

“Judul pidato ini sangat cocok untuk kondisi saat ini, terutama dengan kondisi negara, bangsa, dan warganya yang memiliki kepribadian luhur,” puji Rektor UMS Sofyan Anif sembari menekankan integralitas unsur kematangan kognitif, sosial, emosional dan spiritual untuk menjadi SDM unggul.

Memberi ucapan selamat, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berharap UMS sebagai pusat keunggulan dengan segala komponen yang dimilikinya dapat berbuat maksimal mentransformasikan nilai normatif ke dalam kehidupan empirik masyarakat.

Haedar melihat bahwa selama ini terjadi kesenjangan antara nilai normatif (nilai luhur yang bersumber dari kitab suci dan budaya) dengan realitas empiris perilaku manusia Indonesia.

Tulisan ilmiah begawan Antropologi Indonesia Koentjoroningrat, Pidato Kebudayaan Mochtar Lubis tahun 1977 hingga Human Development Index sebagai parameter tahunan kualitas manusia Indonesia yang mayoritas muslim menurut Haedar masih jauh dari nilai normatif akhlak Islam sebagaimana tercakup dalam berbagai karya klasik para ulama besar Islam.

“Maka boleh jadi ada problem transformasi, ada problem kesenjangan dalam masalah akhlak. Maka yang diperlukan adalah tahwilul akhlakul karimah al amah, mewujudkan akhlak karimah dalam perilaku normatif dalam realitas empirik menjadi etika publik, etika di keluarga, perilaku kolektif,” urai Haedar.

Haedar berharap transformasi nilai itu membawa Indonesia kembali meraih peradaban besarnya dan kaum muslimin yang mayoritas mengambil peran sebagai teladan akhlak dalam perilaku yang dinamis membawa pada kemajuan dan kesalihan semesta.

“Harapan kami dari PP Muhammadiyah, kita mencoba membikin rancang bangun mentalitas muslim Indonesia. Jika kita yakin betul bahwa akhlak mulia sebagai tonggak dan fondasi kita membangun bangsa, keyakinan itu harus kita bangun menjadi sesuatu yang empirik. Dan yang empirik itu harus ada alat dan instrumennya,” jelas Haedar.

“Muhammadiyah sudah berusaha dalam usia 1 abad ini mentransformasikan itu. Jika diperlukan dalam psikologi, maka bagaimana juga menjadi perilaku individual yang empirik pada tiap muslim sehingga nanti menghasilkan akumulasi orang baik dalam kehidupan kolektif, lalu terjadilah sebuah transformasi akhlak dalam etika publik kehidupan kebangsaan kita. Sehingga ke depan kita memberi sumbangsih Indonesia yang kuat jiwa raganya dan membawa kemajuan sehingga Indonesia unggul ke depan karena manusianya yang berkeunggulan,” pesan Haedar. (afn)

Shared:
Shared:
1