Fatality Rate Tinggi, Masyarakat Harus Hati-Hati Mencari Informasi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 08 Agustus 2020 09:54 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Tidak maksimalnya komunikasi publik, sikap dan pengelolaan informasi seputar Covid-19, justru menjadi bumerang bagi pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19.

Banyaknya sebaran berita palsu (hoaks) hingga teori konspirasi muncul sebagai akibat karena masyarakat yang tidak percaya (distrust) dengan data dan sikap pemerintah berusaha mencari informasi alternatif yang lebih mudah dimengerti, demikian jelas Founder Drone Emprit Ismail Fahmi Dalam diskusi interaktif Covid-19 Talk TvMu, Jumat (7/8).

Distrustberakibat pada suburnya teori konspirasi. Masyarakat butuh jawaban yang tegas dan mudah dicerna, teori konspirasi memberikan itu,” terangnya.

Mendukung Fahmi, pakar Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono menilai sikap pemerintah yang terkesan meremehkan ketika pandemi belum masuk ke Indonesia justru memperburuk akibat sehingga muncul efek distrust seperti penolakan pasien, tenaga kesehatan, ketidakpatuhan pada protokol kesehatan hingga masyarakat yang berbohong saat menjalani test Covid-19.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Slamet Budiarto menilai di kawasan Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara yang paling lambat dalam merespon Covid-19.

“Kita ambil contoh Thailand, di bulan Januari sudah menyediakan masker untuk masyarakat. Sementara di bulan Januari kita tenang dan leha-leha,” sesal mengutip kebijakan masker di Indonesia yang baru diterapkan pada akhir Maret.

“Dampaknya pemerintah ikut terlena, masyarakat juga, akhirnya kematian banyak. Dari data Gugus Tugas bahwa yang (angka kematian) ODP, PDP, dan Terkonfirmasi ada  12 ribu. Angka fatality rate dan nakesnya juga tertinggi di dunia. Jangan sampai pemerintah, pakar, herbalis membuat hoaks,” himbaunya.

Di kawasan Asean, hingga hari ini Jumat (7/8)  Indonesia telah mencatat 5.593 kematian sementara Malaysia baru mencapai 125 kematian, Singapura 27 kematian dan Vietnam 10 kematian. Untuk kematian tenaga kesehatan, IDI mencatat 78 dokter telah meninggal dunia karena Covid-19 (tidak termasuk perawat) sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan fatality rate tenaga kesehatan tertinggi di dunia.

“Menyelesaikan penyakit kuncinya 4 yaitu promotif (himbauan), preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), dan rehabilitatif (pemulihan). Di Indonesia, promotif preventif tidak optimal,” sesal Slamet sembari menilai bahwa tindakan kuratif bisa ditekan jika promotif dan preventif berjalan optimal.

“Harusnya  Puskesmas kerja di luar untuk keliling pada masyarakat. Yang ada malah gap. Tidak ada yang melakukan, akhirnya masyarakat mencari info sendiri,” jelasnya. (Afn)

 

Shared:
Shared:
1