Tiga Ciri Ulama Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 08 Agustus 2020 09:49 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Pelepasan Pengabdian Thalabah dan Thalibat Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah akhirnya digelar pada Selasa (4/8) pagi. Mahasiswa PUTM sebagai pengkaderan calon ulama Muhammadiyah pastinya diharapkan menjadi tonggak masa depan Persyarikatan.

“Apapun yang dilakukan Muhammadiyah itu selalu berawal dari Pasal 4 Anggaran Dasar Muhammadiyah yang menyatakan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang bersumber kepada al-Quran dan al-Sunah serta berasas akidah Islam,” sambut Syamsul Anwar dalam acara Pelepasan Pengabdian Thalabah dan Thalibat Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah pada Selasa (4/8) pagi.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini menjelaskan bahwa tujuan utama Muhammadiyah adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam upaya mewujudkan cita-cita ini, Muhammadiyah gencar mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabligh di mana membicarakan Islam, mendirikan lembaga wakaf dan masjid- masjid serta menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat-surat kabar dan majalah.

“Gerakan amar ma’ruf nahi munkar itu luas sekali, yaitu segala daya dan upaya dari berbagai aspek kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang tertuang dalam al-Quran dan al-Sunah sebagaimana diinterpretasi oleh Muhammadiyah,” terang Syamsul.

Syamsul juga menyampaikan bahwa Majelis Tarjih memegang peranan dalam tubuh Muhammadiyah sebagai pengkaji agama Islam. Pada awalnya pendirian Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya sebuah institusi di Muhammadiyah yang memiliki otoritas keagamaan dan berperan sebagai katalisator gerak pembaruan Muhammadiyah.

“Jadi, tugas pokok Majelis Tarjih itu ada dua: pengkajian ajaran Islam untuk memberikan tuntunan kepada masyarakat baik di dalam maupun di luar Muhammadiyah seperti mengeluarkan sejumlah fatwa; dan melakukan pembinaan ulama tarjih itu sendiri, kader ulama Muhammadiyah,” jelas ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini.

Pada kesempatan itu juga Syamsul menyampaikan tentang karakter khas Ulama Muhammadiyah. Menurutnya, ciri pertama seorang ulama itu berilmu.

“Seorang ulama harus berilmu. Ilmu yang pertama adalah ilmu agama dari berbagai aspek. Dan itu tidak cukup, harus ada ilmu lainnya yaitu sesuai dengan minat masing-masing bisa ilmu sosial, hukum, dan lain-lain. Karena ilmu-ilmu itu akan memberikan wawasan ketika melakukan penafsiran terhadap ajaran Islam di dalam konteks yang dihadapinya,” ujarnya.

Ciri ulama kedua yaitu memiliki tingkat kesalehan. Sebelum mengajak masyarakat pada kebaikan, seorang ulama harus memberikan tauladan yang baik. Ketika seluruh laku aktivitas seorang ulama tidak mencerminkan kesalehan, maka ilham Allah tidak akan sampai pada nuraninya. Karenanya Syamsul menjelaskan bahwa peran ulama itu memberikan mauidhah kepada umat dan mengawal moral masyarakat.

“Ada perbedaan antara ulama dan sarjana. Seorang sarjana mungkin sibuk di laboraturium sehingga salatnya singkat-singkat saja, kadang zikirnya juga tidak sempat. Kalau ulama beda. Sehingga dari kesalehan itu ada kepekaan nurani dari ilham Allah,”

Ketiga keterlibatan dengan masyarakat. Seorang ulama harus sudah sampai di mana bacaan dan pengetahuan itu mewujud dalam dirinya dalam kesederhanaannya dan kerendahhatiannya. Syamsul menjelaskab bahwa seorang ulama harus berperan aktif dan berbaur dengan masyarakat.

“Seorang ulama itu harus dari dan untuk masyarakat,” tutur Syamsul. (Ilham)

 

Shared:
Shared:
1