Sambut 5.000 Mahasiswa Baru UMS Secara Daring, Haedar: Milenial Harus Miliki Daya Saing yang Tinggi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 13 Juli 2020 17:53 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan amanat dalam acara Masa Ta’aruf dan Penyambutan Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) secara daring pada Senin (13/7). Dalam sambutannya, Haedar mengungkapkan rasa bangga dengan capaian prestasi yang diraih UMS sebagai univesitas swasta yang diperhitungan di tatar Asia dan Indonesia.

“Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengucapkan selamat kepada UMS yang telah masuk dalam 10 universitas teratas di Asia dan menjadi universitas swasta terbaik di Indonesia. Capaian ini  merupakan satu penghargaan sekaligus juga merupakan prestasi yang luarbiasa yang diperoleh tentu dengan perjuangan keras, sungguh-sungguh, dan berkelanjutan,” ungkap Haedar.

Haedar menyampaikan bahwa dengan adanya raihan prestasi ini akan menjadi suatu kebanggaan bagi mahasiswa baru. Namun rasa bangga tersebut harus menjadi pelecut semangat untuk menimba ilmu dan mengamalkannya di kemudian hari.

“Ketika ananda sekalian masuk ke universitas ini, membawa orientasi, tujuan, dan spirit yang kuat sebagaimana sebuah tradisi besar bahwa ketika kita masuk pada lembaga perguruan tinggi ternama, mereka memiliki tradisi besar yang tinggi. Artinya, tidak sekadar masuk kuliah dan apa adanya, tetapi harus memiliki sesuatu yang di atas rata-rata, spesial, dan juga punya orientasi tinggi jauh ke depan,” kata Haedar.

Dalam sambutannya, Haedar juga berpesan kepada mahasiswa baru agar memiliki tujuan yang jelas kemana harus melangkahkan kaki dan tidak salah arah dalam perjalanan menuju destinasi. Kesalahan niat dalam langkahan kaki pertama akan membuat semuanya berantakan.

“Dalam konteks ini, tujuan berkuliah tentu ananda ingin mencari ilmu ke tingkat yang lebih tinggi, sekaligus juga membentuk kepribadian yang lebih dewasa lebih tinggi lagi. Mencari ilmu yang lebih tinggi itu sebagai kelanjutan menempuh tingkat pendidikan dasar dan menengah. Sekarang masuk menjadi mahasiswa,” pesan Haedar.

Guru Besar UMY ini mengingatkan bahwa pencarian ilmu antara tingkat pendidikan dasar dan menengah dengan pendidikan tinggi memiliki karakter yang berbeda. Di sekolah dasar dan menengah banyak dibimbing oleh guru, sementara gairah pencarian ilmu di Perguruan Tinggi menuntut kemandirian.

“Dosen itu hanya fasilitator, hanya pengarah, dan juga memberi simulasi yang bersifat dasar tapi selebihnya itu mahasiswa. Jadi, kalau nanti hanya mahasiswa menunggu dosen, dan tidak mengembangkan diri dengan kemandirian yang tinggi, itu tidak bisa berdaya saing tinggi. Jangankan di luar, mungkin di kelas pun tidak bisa bersaing. Semangat mencari ilmu dengan kemadirian itulah yang harus dimiliki mahasiswa baru,” tuturnya.

Selain kemandirian, Haedar mengingatkan agar mahasiswa baru menjadi manusia yang dewasa. Manusia dewasa tahu akan hal yang baik dan buruk. Kesadaran tentang sesuatu yang baik dan buruk merupakan modal yang penting dimiliki oleh mahasiswa baru.

“Manusia dewasa adalah manusia yang memiliki karakter. Dalam Islam disebut dengan akhlak karimah, insan yang berakhlak mulia yang kata-kata ucapan dan tindakannya itu betul-betul mencerminkan keluhuran budi pekerti,” terang Haedar.

Berakhlak mulia bagi Haedar merupakan sikap yang keren dan bukan sesuatu yang kuno. Sekalipun di usia milenial, kata Haedar, kalau memiliki sikap dan kepribadian yang jujur, amanah, dan terpercaya, akan menjadi manusia yang dihormati segala kalangan. Jangan karena merasa milenial kemudian bertindak yang aneh-aneh yang kemudian membawa pada hal yang tidak positif.

“Mahasiswa baru perlu mengubah kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak positif. Biarpun milenial, kalian harus memiliki kebiasaan-kebiasaan positif yang membawa pada kemajuan, kesuksesan, meraih cita-cita,” ungkap Haedar.

Shared:
Shared:
1