Abdul Mu’ti Ungkap Tiga Hikmah Idhul Adha Masa Pandemi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 11 Juli 2020 13:55 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Menjelang perayaan Idul Adha 1441 H, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menganjurkan pengalihan dana kurban menjadi sedekah bagi korban terdampak pandemi Covid-19. Sebagaimana diketahui, Indonesia termasuk salah satu negara di Asia dengan jumlah peningkatan pasien virus tersebut secara signifikan.

Fatwa Muhammadiyah mengenai pengalihan kurban menjadi sedekah merupakan sikap keagamaan yang didasarkan pada asas Islam yakni tolong menolong, solidaritas, menggembirakan sesama manusia yang tengah di timpa ujian dan cobaan. Sikap kemanusiaan seperti ini bukanlah yang pertama. Sejak gempa dan tsunami Aceh, gempa bumi Yogyakarta, gempa dan tsunami di Donggala dan masih banyak lagi. Pemikiran Muhammadiyah selama ini senantiasa mengupayakan pemaknaan keagamaan, sosial dan ekologi harus menjadi spirit dasar Islam berkemajuan.

Abdul Mu’ti, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan bahwa penyesuaian temporal ketentuan ibadah selama masa penyebaran wabah Covid-19 bukan upaya mencari keringanan. Akan tetapi justru memaksimalkan bentuk ketaatan atas syariat Islam, sesuai kaidah ushul fikih (metode hukum Islam) dan maqashid syari’ah (pokok tujuan Islam).

“Tidak berarti kalau kita tidak menyembelih hewan kurban, kita tidak mendapatkan hikmah dari pelaksanaan Idul Adha. Karena, ibadah merupakan bagian kegembiraan dan kesyukuran atas anugerah Allah. Pertanda bahwa nikmat yang diberikan Allah pada kita itu jauh lebih banyak daripada kesulitan yang sekarang ini sedang terjadi,” ujar Mu’ti dalam Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah, Jumat tanggal 10 Juli.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa Idul Adha selama masa pandemi ini menghadirkan banyak hikmah penting. Terutama, jika seseorang hendak mengambil apa makna “pengorbanan” dan “berkorban” dalam konteks ibadah kurban. Menurut Mu’ti, Nabi Ibrahim telah mencontohkan betapa pengorbanan itu betul-betul “memaksa” seseorang meninggalkan sesuatu yang berharga bagi dirinya semata-mata untuk Allah Swt. Jadi, pengorbanan adalah kembali pada hakikat penyerahan total segala sesuatu yang kita anggap berharga.

“Berkaitan dengan kepatuhan, Nabi Ibrahim menjadi hamba Allah yang senantiasa mematuhi secara ikhlas meskipun perintah itu sangat berat untuk menunaikannya” ujar Mu’ti.

“Maka, kepatuhan inilah yang menjadi teladan bagi kita bahwa hamba Allah, harus mukhlisina lahu-din (ikhlas dalam beragama) betapa pun berat perintah itu kita harus menunaikannya,” imbuhnya.

Selain kepatuhan, hikmah yang bisa dipetik dari Nabi Ibrahim adalah keteguhannya pada kebenaran yang diyakininya, yakni kekuasaan Allah Swt. Bahwa prinsip kebenaran tidak bersifat populis berdasarkan banyaknya orang yang mendukung, tapi apa yang dituntunkan oleh Allah kemudian dijalankan dengan istiqamah.

Ketiga, bahwa keberhasilan Nabi Ibrahim sebagai hamba Allah dilalui melalui serangkaian cobaan yang tidak mudah. Juga bahwa ujian yang diberikan oleh Allah pasti ada hikmahnya.

Oleh karena itu, bagi Mu’ti, tidak menyembelih hewan kurban selama masa pandemi bukan berarti tidak berkurban. Semangat berkurban menolong sesama korban terdampak pandemi sebagai usaha untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia pun termasuk dalam peneladanan Nabi Ibrahim.

“Dalam situasi seperti ini kita perlu mengambil pelajaran agar kita sebagai warga Persyarikatan menjadi hamba-hamba Allah yang patuh, mematuhi pimpinan (Persyarikatan), mematuhi Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya. (afandi)

Shared:
Shared:
1