Sekolah Alam Ekoliterasi ala Muhammadiyah: Solusi Ketimpangan Ekologi dan Pendidikan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 10 Juli 2020 12:06 WIB

Oleh: Ilham Ibrahim

Kita harus mengakui satu hal bahwa manusia selalu baik dalam menciptakan alat tapi tidak bijak dalam menggunakannya. Akibatnya, banyak tindakan manusia yang tidak bijaksana terhadap lingkungan, seolah-olah manusia tidak bergantung pada ekosistem. Padahal, manusia dan alam mempunyai hubungan yang bukan sekadar erat tapi sangat vital. Diakui atau tidak, kehidupan kita sangat bergantung pada alam. Seluruh komponen dharuriyat dalam hidup mulai dari oksigen, air, makanan, papan dan sumber daya alam lainnya bahkan sampai kebutuhan hajaiyyat, disediakan oleh alam. Kecuali karbondioksida kita untuk tumbuhan, alam hampir tidak mempunyai kebergantungan kepada manusia.

Dalam rangka menjaga hubungan baik manusia dan lingkungannya, sebagaimana penegasan Fritjof Capra, kita perlu merevitalisasi lembaga pendidikan, yang dia sebut sebagai agenda ekoliterasi. Sekolah alam dalam bentuk idealnya adalah jawaban praktis atas ketimpangan ekologi. Kehadiran sekolah alam ibarat sebuah impian yang menjadi kenyataan bagi mereka yang menginginkan perubahan nyata dalam dunia pendidikan. Dalam sekolah alam, pendidikan menggunakan alam terbuka sebagai media utama dalam proses belajar dengan metode pembelajaran yang aktif. Dengan kata lain—mengutip istilah dari Carl Rogers—sekolah alam berusaha mencetak manusia yang berfungsi penuh (fully functioning human being).

Kehadiran sekolah alam diharapkan mampu menjadi solusi atas kesenjangan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan sikap dan perilakunya. Sebab menurut Syed Naquib al-Attas, hakikat dari tujuan pendidikan adalah mencetak good man, yaitu manusia beradab yang pikiran dan perilakunya selaras dan mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dengan pengertian lain, pendidikan merupakan prosesuntuk menghilangkan akhlak tercela (akhlaq al mazmumah) bagi murid dan menggantikannya dengan akhlak yang terpuji (akhlaq al mahmudah), serta mencetak pemimpin di bumi (khalifah fi al-ardh).

Inisiasi Awal Sekolah Alam Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam tengah membangun Sekolah alam sebagai langkah merespon kerusakan lingkungan tersebut. Dua di antaranya Sekolah alam Muhammadiyah Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Muhammadiyah Green School), dan Madrasah Ibtidaiyah Alam Klopogodo Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Sekolah alam Muhammadiyah Banjarbaru terletak di JL. Golf Swargaloka RT 12 RW 003, Syamsudinnnor, Kec. Landasan Ulin, Kota Banjarbaru Prov. Kalimantan Selatan. Sedangkan Madrasah Ibtidaiyah Alam Klopogodo Gombong yang telah berdiri sejak tahun 1959 terletak di dusun Brangkal desa Klopogodo Gombong Kebumen. Kedua Sekolah alam milik Muhammadiyah ini fokus mengembangkan keterampilan sosial, kognitif, emosional, dan fisik anak-anak melalui pengalaman belajar sambil bermain. Porsi kegiatan mereka tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di area terbuka untuk menanjamkan semua alat indera mereka. Proses belajar mereka seperti aktivitas kehidupan nyata yang dihayati dengan kegembiraan.

Kehadiran dua Sekolah alam tersebut selaras dengan semangat persyarikatan Muhammadiyah. Jihad konstitusi yang pernah dilakukan Muhammadiyah, misalnya, merupakan satu sikap meluruskan kiblat bangsa dari kehancuran ekologis. Dalam fatwa Tarjih yang termuat dalam Fikih Tata Kelola juga menyebut bahwa merusak dan membuat kerusakan lingkungan merupakan tindakan yang terlarang. Karenanya, perlu untuk semakin memaksimalkan keberadaan Sekolah alam ini sebab agenda ini merupakan karakter Muhammadiyah yang otentik.

Selain itu, penting untuk diperhatikan bahwa banyak sekolah Muhammadiyah berada dalam lanskap geografi rentan bencana alam.  Misalnya, kebakaran hutan (Riau, dan Sumatera pada umumnya), kawasan agraria (Jawa Tengah), kawasan eksplorasi batu bara (Kalimantan), dan lain-lain. Namun patut untuk disayangkan betapa belum banyak sekolahMuhammadiyah yang didorong untuk punya fungsi mitigasi lingkungan dan ekologi spesifik padahal sekolahadalah salah satu institusi penting dalam perbaikan masa depan lingkungan di Indonesia. Kedua Sekolah alam ini patut menjadi contoh paling aktual sebab peka terhadap situasi dan kondisi lingkungan saat ini.

Muhammadiyah kiranya perlu untuk lebih fokus dalam pengembangan konsep Sekolah alam ini. Sebab sekolah ini memberikan kebebasan untuk berkreasi, menggali dan menemukan potensi, serta  menemukan pengetahuan berbasis pada pengalaman-pengalaman dari dunia realitas. Kalau kita memerhatikan dua model di atas, Sekolah alam ala Muhammadiyah memiliki karakter khusus. Karakter tersebut tercermin dalam perpaduan yang harmoni antara pelajaran keislaman, kemuhammadiyahan, dan ekopedagogi.

Sementara itu, model implementasinya menerapkan kurikulum tadabur alam sebagai muatan alam dan muatan lokal.Model Tadabbur Alam yang diterapkan dalam Sekolah alam ala Muhammadiyah ini membuat atmosfer belajar siswa tidak menegangkan, komunikasi antara guru dan siswa juga hangat dan juga mementingkan pada active learning. Dalam tadabbur alam, siswa dikenalkan pada pepohonan dan makhluk-makhluk lainnya yang kemudian diberi pengetahuan tentang benda-benda alam serta ditanamkan pemahaman tentang siapa yang menciptakan alam tersebut dan bagaimana tindakan yang tepat terhadap alam beserta isinya. Jadi, sejak dini siswa tidak didoktrin menjadi kapitalis-kapitalis perusak ekosistem.

Selain itu, perkembangan keberadaan sekolah alam ala Muhammadiyah sangat ditentukan oleh skema kemitraan. Maksudnya, kebanyakan sekolah alam inisiasi awalnya digerakkan dengan menjalin kerjasama dengan kampus-kampus Muhammadiyah. Oleh karena itu, Muhammadiyah sebetulnya memiliki posisi yang strategis dalam pengembangan sekolah alam ini. Ada sekitar 174 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Akan sangat menggembirakan apabila setiap kampus-kampus tersebut berpartisipasi dalam mengembangkan sekolah alam sehingga menjadi trendmodel di Indonesia. Jalinan kerjasama antar kampus dalam pengembangan sekolah alam ini akan mampu mengatasi dua problem sekaligus: ketimpangan ekologi dan pendidikan.

Shared:
Shared:
1