Mewujudkan Akademisi Islam sebagai Jalan Moderasi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 01 Juli 2020 14:35 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA -- Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah (PC IMM) Bantul, kerjasama dengan langgar Kidul Institue gelar diskusi online dengan judul “Upaya Praksis Mewujudkan Akademisi Islam Sebagai Jalan Moderasi.”

Ditunjuk sebagai pemateri, Al Audah, Penulis Buku Sosialisme Religius dalam paparannya menyampaikan bahwa, pada masa perang dingin dunia bukan hanya urusan tentang dua negara super power. Melainkan didalamnya juga terjadi pertarungan dua ideologi besar, kapitalisme dan komunisme.

“Sebenarnya ada watak di ideologi kapitalisme dan komunisme itu yang sebenarnya bermusuhan dengan orang-orang beragama atau teologis.” ungkapnya dalam rilis yang diterima pada (1/6).

Watak yang bermusuhan dengan kaum teologis dari ideologi kapitalis adalah keserkahan. Idologi ini mengekploitasi bumi tanpa batas, dan mempunyai standar ganda dalam Hak Asasi Manusia (HAM), watak ini yang menjadi titik curam perbedaan dengan nilai agama yang tidak menghendaki keserakahan.

Pada titik ini, agama dekat dengan watak atau nilai-nilai sosialis. Meskipun demikian, terdapat watak komunis yang berseberangan dengan watak teologis/ke-Tuhanan. Perseteruan tersebut disebabkan basis berfikir mereka yang materealisme. Basis berfikir demikian sama dengan yang dimiliki oleh ideologi kapitalisme.

“Dalam filsafat materealisme itu tidak ada eksistensi diluar materi. Tidak usah menyebut malaikat atau pun Tuhan, karena apapun yang diluar meteri itu tidak ada,” tambahnya.

Sedangkan orang religius atau beragama mempercayai dibalik bentuk atau materi eksistensi yang bersifat imaterial. Artinya bukan hanya materi tapi juga ada sisi ukhrawi. Maka dari itu ditawarakan sosialisme religius. Sebagai cara pandang muslim yang bertanggung jawab sosial untuk membangun bumi sebagai bukti pengabdian kepada Tuhan.

Sehingga, teologi pembebasan menghilangkan benturan yang terjadi antara nilai-nilai teologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Teologi pembebasan didaulat untuk mencounter nilai humanisme Barat, di mana nilai humanisme yang dibangun diatas basis nilai sekular yang jika semakin intens nilai kamnusiaan, maka semakin juah dari nilai-nilai ke-Tuhanan.

Teologi pembebasan adalah untuk membebaskan manusia dari nafsu keserakahan untuk menjajah bumi. Ini juga sebagai jalan moderasi, perannya sebagai “tempat perkawinan” antara pemikiran materealistik dan imaterealistik. Tawaran ideologi Sosialisme Relijius ini sesungguhnya mempunyai pijakan historis dalam sejarah bangsa Indonesia.

“Sosialisme Islam yang digagas oleh HOS Cokroaminoto tahun 1924, yang dapat disarikan menjadi tiga prinsip yaitu kemerdekaan (vrijheid liberty), persamaan (gelijkheid-equality), dan persaudaraan(broderschap-fraternity),” tuturnya.

Merujuk Cokroaminoto, Ali Audah menganggap bahwa Kapitalisme dan Komunisme sama-sama mempunyai watak 'anti agama'. Keduanya adalah ideologi asing yang dapat menjerumuskan bangsa dan negara Indonesia dalam cengkraman neo kolonialisme global.

Masuknya anasir kapitalistik dan komunistik ke dalam sejumlah gerakan legislasi akhir-akhir ini patut diwaspadai bersama sebagai upaya untuk melemahkan Pancasila sebagai dasar negara. Itu sebabnya Ali Audah mengajak agar dihentikan saja segala gerakan penafsiran tunggal Pancasila. (a'n)

Shared:
Shared:
1