Haji Sudja’: Bapak Amal Sosial Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 26 Mei 2020 13:18 WIB

Oleh: Afandi

Nilai-nilai agama tidak akan hidup jika tidak diamalkan pada kebaikan semesta, kiranya demikian yang dimaksud Kiai Ahmad Dahlan sebagai jalan pencerahan Islam sehingga beliau mendorong para muridnya untuk mengamalkan satu ayat terlebih dahulu daripada menambah banyak ayat yang hanya dihafalkan saja dan tidak diamalkan.

Dari pengamalan teologi Al-Ma’un, Muhammadiyah menjadi Non-Government Organization (NGO) Islam dengan jaringan aset amal usaha di bidang sosial, pendidikan dan kesehatan terbesar di Indonesia. Hingga usia yang ke-107 Muhammadiyah terhitung memiliki sedikitnya 20 ribu TK/PAUD, 7.651 sekolah, 174 perguruan tinggi, 457 rumah sakit, 318 panti asuhan, 54 panti jompo, dan 82 rehabilitasi penyandang disabilitas, termasuk 75 rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang disediakan untuk merawat pasien Covid-19.

Kiprah menggembirakan tersebut dirintis melalui keberanian para kader untuk mengamalkan Alquran dalam praktek sosial dengan gagasan yang melampaui zamannya, kendati tak sedikit dari mereka yang diremehkan hingga disemati tuduhan tak berdasar. Termasuk perintis khidmat amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan dan sosial, Haji Muhammad Syuja’.

Pengejewantahan Al-Ma’un

Menjelang kewafatannya, Kiai Ahmad Dahlan ketika dirawat di rumah sakit milik pemerintah kolonial berharap suatu saat Muhammadiyah mampu membangun rumah sakitnya sendiri sebagai pengamalan Al-Ma’un, demikian salah satu adegan dalam film 9 Putri Sejati (2019) karya LSBO PP Muhammadiyah.

Murid lingkaran dalam Kiai Dahlan, Haji Syuja’ mengawal komitmen tersebut dengan melemparkan gagasannya untuk membangun rumah sakit, armeinhuis (panti sosial), dan weeshuis (panti asuhan) pada sambutannya sebagai pengurus pusat (hoofdbestuur) Muhammadiyah yang otomatis ditertawakan oleh para hadirin dalam rapat anggota Muhammadiyah Istimewa 17 Juni 1920.

Tak patah semangat, Haedar Nashir dalam Muhammadiyah Gerakan Pembaruan: Muhammadiyah generasi awal 1912-1923 (2010) menerangkan bahwa Haji Syuja’ sebagai penanggungjawab di bidang PKO (Penolong Kesengsaraan Umum) justru segera menyanggah ejekan tersebut dengan argumen bahwa adanya surat Al-Ma’un adalah bukti bahwa umat Islam lebih layak membangun dibandingkan dengan umat lainnya.

“Banyak orang-orang di luar Islam yang sudah berbuat menyelenggarakan rumah-rumah panti asuhan untuk memelihara mereka si fakir miskin dan anak-anak yatim yang terlantar dengan cara yang sebaik-baiknya, hanya karena terdorong dari rasa kemanusiaan saja, tidak karena merasa tanggung jawab dalam masyarakat dan tanggung jawab di sisi Allah kelak di hari kemudian. Kalau mereka dapat berbuat karena berdasarkan kemanusiaan saja, maka saya heran sekali kalau umat Islam tidak berbuat. Padahal agama Islam adalah agama untuk manusia bukan untuk khalayak yang lain. Apakah kita bukan manusia? Kalau mereka dapat berbuat, kena apakah kita tidak dapat berbuat? Hum ridjal wa nahnu rijal (mereka manusia, begitu pula kita),” demikian sanggah Haji Syuja’.

Atas kegigihan Haji Syuja’, armeinhuis (panti sosial) Muhammadiyah pertama berhasil didirikan pada 1923 di Yogyakarta dengan menampung sekira 30 orang baik perempuan maupun laki-laki yang terus bertambah setiap tahunnya. Demikian pula terjadi pada pembangunan panti asuhan.

Dalam tahun yang sama, poliklinik Muhammadiyah pertama lahir di daerah Jagang Notoprajan dengan rerata 20-60 pasien. Meski seringkali mengalami defisit dana operasional di masa awal, semangat khidmah Al-Ma’un terus dijaga hingga mampu untuk menyediakan 10 ranjang rawat inap pasien pada 1925.

Kelak, kerelaan hati dr. Somowidagdo dari Malang untuk mengabdikan diri tanpa syarat kepada Muhammadiyah di Jagang Notoprajan, menjadi pintu pembuka bagi Muhammadiyah sehingga mampu mendirikan berbagai rumah sakitnya di seluruh Indonesia, demikian catat Didik L Hariri dalam Jejak Sang Pencerah (2018).

Sifat Kiai Ahmad Dahlan yang terbuka, adaptif, dan visioner kendati tetap berpegang pada prinsip syariat dalam melihat kebutuhan umat membawa Muhammadiyah melampaui zamannya dengan menghadirkan pembaruan dan pembangunan Islam yang berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan modern. Tak urung, tuduhan Kiai Kafir pun diterima oleh Kiai Dahlan dari muslim tradisionalis yang tidak siap menerima pembaruan di berbagai bidang sosial yang dianggap sudah mapan, demikian catat Imron Mustafa dalam KH. Ahmad Dahlan si Penyantun (2018).

Dimensi Amal PKO

Danilayin bin Raden Lurah Hasyim lahir pada 1885. Ayahnya adalah seorang lurah keagamaan di masa Sultan Hamengkubuwono VII. Nama Muhammad Syuja’ dia dapatkan setelah menunaikan ibadah haji.

Bersama dengan saudaranya di Kauman seperti H. Fachroddin, Ki Bagus Hadikusumo, Siti Bariyah dan pemuda Kauman lainnya seperti H. Zaini, H. Mukhtar, H.A. Badawi, H. Hadjid dan lainnya yang kelak menjadi tokoh-tokoh penting Muhammadiyah, Haji Syuja’ turut menjadi salah satu murid pertama Kiai Ahmad Dahlan. Dirinya jugalah yang memicu Kiai Dahlan menerangkan hakikat pengamalan Al-Ma’un.

Dalam Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan (2016) Abdul Mu’ti dan kawan-kawan mencatat bahwa semangat Kiai Dahlan melawan kuatnya kemusyrikan dan tahayul di dalam masyarakat beserta kondisi umat yang sulit diajak berpikir rasional justru dilakukan melalui peneladanan dan khidmat Muhammadiyah pada kaum lemah melalui berbagai amal usahanya.

Di bawah Haji Syuja’, PKO tidak hanya membangun panti asuhan, panti sosial dan klinik, tetapi juga turut terlibat dalam kerja kemanusiaan bencana alam seperti saat meletusnya gunung Merapi tahun 1930.

Kiai Dahlan bermimpi agar suatu saat Muhammadiyah mampu mendirikan Bagian Penolong Haji sebagai bagian dari kerja PKO setelah Belanda pada 1920 melarang para calon jamaah haji dari Indonesia dan meloloskan pelayaran calon jamaah haji dengan biaya enam kali lipat lebih mahal.

“Kalau sedemikian besar kongsi-kongsi pelayaran angkut jamaah Indonesia menggaruk keuntungan dari kaum muslimin yang pergi haji, maka Muhammadiyah harus dapat menegakkan pelayaran sendiri, walaupun cara bagaimana bentuk atau ragamnya pelayaran itu,” demikian terang Kiai Dahlan sebagaimana tercatat dalam Ahmad Faizin Karimi Pemikiran dan Perilaku Politik Kiai Haji Ahmad Dahlan (2012). Mimpi pendirian maskapai pelayaran Bagian Penolong Haji tersebut berhasil diwujudkan Haji Syudja’ melalui N.V. Pelayaran dan Dagang Indonesia yang disahkan Belanda pada 18 Januari 1941, 18 tahun setelah wafatnya Kiai Dahlan.

Dalam perannya di luar PKO, Haji Syuja’ menjadi sosok penting dalam meriwayatkan berbagai kisah yang dia saksikan bersama Kiai Ahmad Dahlan. Menjelang akhir hayatnya, Haji Syuja’ merasa nelangsa karena saat sakit dirinya tidak dirawat di Rumah Sakit PKO Muhammadiyah, mengingat saat itu peralatannya belum memadai, demikian catat Abdul Mu’ti (2016).

Bapak Penolong Kesejahteraan Umum sebagai kepanjangan tangan Kiai Dahlan tersebut wafat di Kauman pada tanggal 5 Agustus 1962. Pada perkembangannya, berbagai khidmah semangat kerja kemanusiaan yang beliau rintis di dalam Muhammadiyah terus berkembang dan meluas dari pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, kebencanaan nasional, hingga respon krisis kemanusiaan internasional di berbagai negara melalui Muhammadiyah Aid.

Shared:
Shared:
1