PTMA Diharap dapat Berinovasi Secara Serius

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 22 Mei 2020 00:36 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA-- Ketua Pimpinan Pusat (PP) MUhammadiyah Bidang Pendidikan, Muhadjir Effendy mengatakan dampak adanya wabah pandemi covid-19 adalah adanya perlambatan ekonomi atau hibernasi ekonomi, pola ini secara jelas akan berdampak kepada Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).
 
Hibernasi ekonomi dalam penjelasannya adalah pengkondisian tubuh atau sistem untuk supaya lebih hemat dan siap menghadapai masa yang akan datang dan dalam bentuk berbeda. Hal tersebut disampaikan Muhadjir pada Kamis (21/5) dalam acara Webinar Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah Se-Indonesia, dengan tema “Strategi Eksistensi PTMA di Tengah ANomali COvid-19: Antara Ketidakpastian dan Keunggulan.”
 
“Perlambatan ekonomi ini akan diikuti naiknya angka penganguran, juga jumlah orang miskin baru akan bertambah.” ungkapnya.
 
Dalam tugasnya sebagai Mentri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), setidaknya ada tiga ujung tombak yang bisa digunakan dalam penyelesaian masalah. Yakni dalam bidang kesehatan, sebagai cara untuk melakukan penanganan virus covid-19.
 
Selanjutnya adalah menciptakan jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang terdampak, kemudian strategi pemulihan ekonomi. Ketiga ujung tombok ini dikerjakan dengan seimbang, tidak boleh saling menegasikan. Selain usaha yang dilakukan oleh negara, di tengah kesulitan penanganan wabah covbid-19, ternyata masyarakat Indonesia mampu survive dengan melakukan temuan-temuan alat yang selama ini didatangkan melalui import.
 
“Menurut saya ini tantangan PTMA kedepan, mereka harus berani melakukan inovasi secara serius dan sungguh-sungguh yang saya kira ini nanti akan survive,” tambahnya.
 
Sehingga kedepan konteks harus berubah, terkait metode, strategi dan studi pembelajaran di PTMA. Menurutnya, kampus-kampus miliki Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus berangkat dari reseacrh. Bukan lagi hanya research tentang teori-teori murni, tetapi juga dalam research ilmu terapan. Serta riset yang pro pasar, saat ini tidak perlu terlalu tinggi, akan tetapi hasil research yang bisa diterapkan dengan cara mudah dan modalnya murah.
 
Muhadjir percaya, bahwa kualitas sumber daya dosen yang dimiliki kampus Muhammadiyah tidak kalah saing dengan kampus negeri. Mereka perlu untuk lebih diarah dengan serius dalam pengembangan kemampuan yang telah dimiliki. Serta dalam urusan kemahasiswaan, kedepan diharapkan para mahasiswa bukan lagi hanya menghabiskan biaya, akan tetapi dalam waktu bersamaan mereka juga bisa berpenghasilan dan berpengalaman dalam pembelajaran (akademik).
 
“Tantangan kedepan bagi PTMA adalah untuk sesegera mungkin mengadopsi kemajuan yang ada di era 4.0. Akan tetapi jangan kita terdikte oleh situasi, tapi usahakan PTMA yang harus mendikte situasi ini.” terang Muhadji.
 
Dihadapkan dengan new normal, Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berpesan kepada seluruh PTMA untuk tetap menjaga solidaritas dan kolaborasi. Ia memberikan kunci terkait keberhasilan melalui 3C, yakni creativity, communications, and colaboration. Kepada pengelola sistem kampus, Muhadjir mengajak untuk semakin akrab dengan dunia virtual.
 
Meskipun harus berdekatan dan mengubah pardigma belajar, akan tetapi keberadaan PTMA tetap harus memegang misi suci sebagai pencerahan dan pengadaan program studi keagamaan tidak boleh diabaikan. Bahkan program studi keagamaan ini harus diberi kemampuan ganda. Sehingga nanti jangan sampai lulusannya menjadi penyiar agama yang hidupnay tergantung atas aktivitas kepenyiaran keagamaannya.
 
“Jangan sampai mereka tergantung sebagaimana mereka mendapat amplop, tetapi justru mereka sebagai penyiar keagamaan itu bisa menyapaikan ilmu keagamaan dengan sumber penghasilan yang lain,” katanya.
 
Muhadjir mengajak kepada para penyiar agama untuk mendalami teladan yang diberikan oleh KH Ahmad Dahlan. Di mana selain bersyiar, Ahmad Dahlan adalah seorang enterpreneur. Pada saat ini berjejaring dengan orang dengan motive berdagang, ia juga melakukan aksi syiar agama Islam. Secara tegas Muhadjir juga berpesan, meskipun dalam kondisi yang serta digital, namun Fakultas Agama Islam di PTMA jangan sampai dihapuskan.
 
“Saya tahu ini tidak mudah, tetapi kalau secara paradigma dibentuk dan dibangun di PTMA, saya yakin itu bukan suatu hal yang mustahil. PTMA yang penting saat ini jangan sampai mati, dan harus tetap survive. PTMA memiliki jaringan yang luas, mereka bisa saling mendukung, saling solidaritas dan saling menyelamatkan sesama PTMA," pungkasnya. (a'n)
Shared:
Shared:
1