Perlunya Cakrawala dalam Beragama

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 14 Mei 2020 22:20 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Allah memberi kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan, akan tetapi jangan digeneralisasi. Karena kita semua tetap berharap bahwa Ramadan dan Hari Raya Idulfitri di tengah wabah ini hanya terjadi sekali ini sepanjang kehidupan kita.

Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum Piminan Pusat Muhammadiyah dalam materinya yang disampaikan di Pengajian Ramadan Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Sidrap pada (14/5), mengimbau supaya budaya keagamaan Idulfitri, seperti mudik dan sliturahmi lebaran di kala wabah juga dihindari.

“Jangan dikaitkan ini mengurangi rukun dan nilai ibadah kita. Supaya hidup kita ini tetap bisa beribadah dan bermu’amalah yang baik, kuncinya adalah taqarub ilallah. Baik di Masjid maupun di rumah di mana bisa bersujud, maka hakikatnya bukan fisiknya akan tetapi taqorub ilallah,” tutur Haedar.

Menurutnya, orang yang selalu dekat dengan Allah adalah mereka yang selalu bermuhasabah atau koreksi diri, dan mereka yang mampu menahan marah, termasuk dalam urusan furuiyah agama yang berbeda dengan dirinya. Terlebih menganggap orang lain tidak Islami dan menganggap orang lain jauh dari Allah, karena dianggap takut dan tidak berani dalam hal iman.

“Dalam beragama tidak boleh memiliki sikap razzaqu, dan janganlah engkau sekali-kali merasa paling bersih, suci, beriman, bertaqwa, dan paling beribadah, serta menganggap orang lain tidak,” tambahnya.

Ciri selanjutnya hamba yang dekat dengan Allah adalah selalu memiliki jiwa murroqobah (selalu merasa diawasi oleh Allah). Maka taqorub ilallah itu dengan dzikir dan tafakur yang menghasilkan kesalehan pribadi yang kuat. Kesempatan yang jarang didapatkan pada selain bulan ramadan adalah kesempatan untuk beramal shaleh, di mana dalam bulan ini amalan shaleh akan berlipar ganda pahalanya.

Bulan Ramadan ditengah wabah atau bencana virus saat ini adalah kesempatan yang baik bagi setiap muslim untuk membuka lebar pintu surga. Kesempatan beramal disaat seperti ini akan memberikan dampak yang signifikan dalam membangun kebaikan dan memperbaiki relasi sosial sesama umat dan warga bangsa.

Wujud dari bertauhid oleh Muhammadiyah membentuk kecintaan warga persyarikatan ini untuk berderma, dan melakukan banyak aksi sosial. Wujud aqidah dan beramal sholeh bagi seorang muslim bukan hanya ditampilkan dengan sujud di Masjid, melainkan juga bisa dilakukan dengan gerakan amal sholeh kepada semua umat manusia.

Sehingga diperlukan perluasan cakrawala dalam beragama, supaya praktik ritual keagamaan bukan hanya dalam perkara ibadah maghdoh. Terkait dengan amalan sosial yang dilakukan, Haedar menyebut bahwa ada ganjaran yang Allah menjanjikan terhadap mereka yang membersamai hamba-hambanya yang kesusahan.

“Jadi physical distancing adalah ikhtiar muslim dan bentuk cinta kepada Allah, supaya tidak menambah derita kepada yang lain,” tegasnya.

Haedar mengajak kepada seluruh umat Islam, khususnya warga Persyarikatan untuk berilmu dan mencerahkan peradaban dengan ilmu, sekaligus ditopang dengan akhlaqul karimah. Cara yang dapat ditempuh untuk menjadikan Al Qur’an sebagai sumber ilmu adalah dengan mengkaji secara menyeluruh, yang meliputi aspek bayani, burhani dan irfani.

Di mana Al Qur’an selain dipahami melalui teks (bayani), juga dilakukan pemahaman dengan konteks yang melingkupinya (burhani), baik saat pertama Al Qur’an turun maupun konteks saat ini. Serta tidak lupa melakukan pengkajian Al Qur’an dengan pendekatan kejernihan hati (irfani). Sehingga dalam beragamaharus lengkap, jangan hanya bertumpu pada teks.

“Kita membaca buku dan kitab itu juga bagian dari beriman, sesuai dengan wahyu pertama iqra’. Ini ayat yang luar biasa, penggunaan iqra’ sebagai alat mengkaji, meneliti, juga baca ayat semesta juga baca ayat Al Qur’an dengan tadabur, tafakur, dan ta’aqul,” pungkas Haedar.

Shared:
Shared:
1