Betulkah Mengukur Keimanan dengan Covid-19?

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 13 Mei 2020 15:15 WIB

Oleh:

M. Nurdin Zuhdi

(Pengajar Universitas Aisyiyah Yogyakarta)

Jumlah pasien positif Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meningkat tinggi. Kasus Covid-19 yang terjadi di DIY dibawa oleh tiga klaster besar, yaitu dari Jamaah Tabligh Sleman, Jamaah Tabligh Gunungkidul dan GPIB Kota Yogyakarta. Riris Andono Ahmad, Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Covid-19 DIY dan pakar epidemologi UGM mengatakan bahwa klaster Jamaah Tabligh Sleman dan Gunungkidul berasal dari dua orang yang mengikuti kegiatan keagamaan di Jakarta.

Menurut Riris, pasca mengikuti kegiatan keagamaan di Jakarta, dua orang tersebut pulang secara bersamaan. Salah seorang pulang ke Sleman, dan satu lagi ke Gunungkidul. Satu orang yang pulang ke Gunungkidul menjadi satu klaster yang berkembang menjadi 18 kasus. Sedangkan satu orang yang pulang ke Sleman membentuk klaster baru dengan 24 kasus.

Berty Murtiningsih, Juru Bicara Pemerintah Daerah DIY untuk Penanganan Covid-19 mengatakan bahwa kasus terakhir dari total 122 kasus yang terjadi di DIY merupakan laki-laki usia 39 tahun yang memiliki riwayat perjalanan mengikuti shalat jamaah di masjid dan merupakan klaster Jamaah Tabligh Akbar Kabupaten Sleman (TribunJogja.com/6/5/2020).

Pola penyebaran Covid-19 dengan perantara kegiatan keagamaan juga terjadi di Banyumas. Beberapa minggu yang lalu, Pemerintah Kabupaten Banyumas mengkarantina sejumlah wilayah di Kelurahan Kober Kacamatan Purwokerto Barat. Hal tersebut dilakukan setelah diketahui ada 10 warga yang positif Covid-19.

Achmad Husein, Bupati Banyumas, mengatakan bahwa kasus Covid-19 di Kelurahan Kober ini berasal dari klaster ijtima ulama Gowa Sulawesi Selatan (detik.com/18/4/2020). Sebelumnya, tepatnya pada Kamis 26 Maret 2020, ada sebanyak 300 warga di Kecamatan Tamansari Jakarta Barat juga dikarantina setelah diketahui berada dalam satu satu masjid bersama tiga warga yang postif Covid-19. Terbaru, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi mengatakan bahwa ada 727 orang WNI Jamaah Tabligh di India. Pada 5 Mei 2020, 276 orang WNI di India tersebut dilaporkan ke polisi karena diduga melakukan pelanggaran terhadap aturan karantina dan imigrasi. Bahkan 138 diantaranya berada di tahanan peradilan India (detik.com/6/5/2020).

Persuasi Salah Kaprah

Fakta-fakta di atas merefleksikan banyak hal dalam cara beragama. Tentu ini menjadi pelajaran berharga bagi semua komunitas keagamaan tanpa terkecuali. Tapi ada satu hal yang perlu didiskusikan, yakni dalih “takut pada Allah, jangan takut pada Corona”. Persuasi keagamaan semacam ini berpotensi melahirkan cara berpikir fatalis atau dalam sejarah kalam dikenal dengan nama Jabariyah. Secara sederhana, paham Jabariyah mendasarkan keyakinan bahwa mati dan hidup sudah diatur oleh Allah. Sehingga Corona tidak perlu ditakuti dan dijauhi. Paham Jabariyah ini jika keliru digunakan, mendorong sikap tanpa ikhtiar mencegah dan menghindari penyakit berbahaya. Padahal ada juga pandangan keagamaan dan medis yang mengharuskan seseorang mewaspadai bahaya wabah. Organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan otoritas wewenang seperti Pemerintah melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan penyebaran virus ini. PP Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta beberapa ormas lain melarang pelaksanaa shalat berjamaah di masjid, termasuk shalat jumat dan tarawih. Namun himbauan ini masih saja dianggap membatasi ekspresi ketaatan beragama.  

Belum lama ini beredar berita bahwa salah satu takmir masjid menggertak akan membongkar masjidnya sebagai respon kekecewaan atas kebijakan “ibadah di rumah saja”. Beredar pula video singkat nyanyian bangun sahur yang menyindir sepinya masjid dari jamaah shalat: eman-eman temen, teraweh kok dilarang // eman-eman temen, tadarus kok dilarang // Corona diwedini, Gusti Allah diadohi // Romadhon tahun iki, nelongso rasane ati. Tampaknya cara merespon kebijakan beribadah selama pandemi Covid-19 ini kurang tepat. Sebab, praktik beragama haruslah dilandasi dengan ilmu pengetahuan.  

Agama dan Ilmu Pengetahuan

Jelas banyak kelompok masih salah paham dengan himbauan “ibadah di rumah”. Rekomendasi ini bukan melarang praktik ibadah, melainkan memindahkan pelaksanaan ibadah untuk sementara waktu. Setelah wabah berlalu dan dapat ditangani, barulah kegiatan beribadah di masjid dapat dikondisikan lagi. Tentu himbauan “ibadah di rumah” tidaklah rumit. Sebab, tujuan utama himbauan ini adalah untuk sesegera mungkin meredam penyebaran wabah. Bukankah “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Imam Ghazali mengatakan, “ilmu tanpa amal gila, amal tanpa ilmu sia-sia”. Merebaknya wabah Covid-19 harusnya menyadarkan komunitas beragama bahwa ajaran agama haruslah dipahami secara rasional dan bertanggungjawab.

Selama pandemi, pemerintah Arab Saudi menutup Mekkah dan Madinah. Ulama-ulama pada umumnya sepakat menghimbau “ibadah di rumah saja”. Mereka tentu bukan tanpa sebab dan alasan. Fatwa tersebut dirumuskan dengan mempertimbangkan banyak hal. Proses pembuatan fatwa tidak dilakukan secara sembarangan. Prinsip dasar fatwa “ibadah di rumah saja” adalah untuk melindungi nyawa (hifdzun al-nafs). Bukankah dalam kaidah fikih telah dikemukakan bahwa dar’u al-mafaasid aula minjalbi al-mashalih: “menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemaslahatan”. Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

أَنَّرَسُولَاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَقَضَىأَنْلَاضَرَرَوَلَاضِرَارَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan bahwa tidak boleh berbuat mudarat dan hal yang menimbulkan mudarat.” (HR. Ibnu Majah No. 2331) 

Mengukur Keimanan dengan Corona?

Beriman pada Allah SWT tidak bertentangan sikap waspada dan berhati-hati pada wabah berbahaya. Nabi Muhammad SAW pernah bersembunyi di dalam Gua Tsur selama tiga hari tiga malam untuk menghindari kejaran suku Quraisy. Nabi Musa AS pernah lari dari kejaran Fira’un dan pasukannya. Umar bin Khattab, sahabat Nabi, pernah mengurungkan niat mengunjungi Syam yang sedang dilanda wabah.

Ada problem besar jika menghubungkan secara tidak tepat tantara keimanan pada Allah SWT dan ikhtiar menghindari marabahaya. Keimanan seseorang tidak dapat diukur dengan logika seperti demikian. Dalih “jangan takut pada Corona, tapi takutlah pada Allah” seolah-olah menghubungkan dua jenis ketakutan yang berbeda dan tidak saling berkaitan.

Shared:
Shared:
1