Ramadan di Tengah Coronavirus

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 21 April 2020 12:18 WIB

Oleh: Ilham Ibrahim

Ramadan merupakan bulan pengekangan terhadap seluruh atribut hasrat-hasrat duniawi. Orang sekular Eropa akan merasa heran melihat penduduk Indonesia malah gegap gempita menyambut bulan yang setiap individu wajib membatasi fungsi perut, mulut, mata, telinga, dan kelamin ini. Bagi warga Indonesia, Ramadan merupakan pembebasan yang menyenangkan dari rutinitas yang maha membosankan. Kedatangan Ramadan di Indonesia adalah peristiwa kebudayaan yang luar biasa.

Ramadan memang ditunggu dan dinanti oleh umat Islam di Indonesia. Bagi anak-anak, Ramadan seolah momentum yang pas untuk keluyuran hingga larut malam. Bagi remaja, Ramadan menjadi modus reuni berlatar buka bersama dengan teman sekolah atau kerabat sekampung. Bagi orang tua, Ramadan merupakan waktu berkumpulnya sanak keluarga yang datang dari tanah rantauan. Demikianlah, bulan yang terseliup di antara Sya’ban dan Syawal ini seolah memiliki mantra ajaib yang secara bimsalabim mampu memulihkan kembali ikatan sosial yang mungkin sempat retak selama sebelas bulan.

Mudik lebaran adalah satu-satunya kesempatan bahwa penduduk kota harus terhubung kembali dengan teman-teman dan kerabat keluarga. Akan tetapi kedatangan virus corona memaksa kita untuk menghentikan festival budaya tahunan ini. Kebijakan pemerintah dan fatwa para ulama mengimbau agar masyarakat urban yang sedang mencari nafkah dan mahasiswa lintas kota yang sedang mencari ilmu menyetop hasrat mudik ke kampung halaman.

Pemerintah, para ulama dan tenaga medis khawatir dari kepulangan para perantau selain membawa baju lebaran juga membawa serta kuman-kuman parasit. Himbauan ini juga sebagai upaya meminimalisir ekspansi virus. Membatalkan rencana untuk mudik adalah pengorbanan yang menyakitkan tetapi satu hal yang diperlukan untuk membendung pandemi.

Bukan hanya mudik, fatwa ulama dari berbagai ormas Islam juga menginstruksikan agar praktik tarawih berjamaah diganti dengan salat di rumah masing-masing. Dalam kondisi normal, salat tarawih merupakan ibadah yang menyenangkan. Seluruh elemen masyarakat meluber dan berbondong-bondong pergi ke masjid. Dari anak-anak, remaja perempuan, sampai ibu-ibu yang membawa serta anaknya menikmati rangkaian ibadah ini. Selepas pulang dari masjid biasanya dilanjutkan dengan membaca al-Quran atau pergi ke tempat jajan.

Ketika para ulama menyarankan agar selebrasi salat tarawih dilakukan di rumah masing-masing tidak sedikit masyarakat yang mengungkapkan rasa kekecewaannya. Bagi anak-anak itu artinya mereka tak dapat lagi bermain dengan teman-temannya hingga larut malam. Bagi remaja itu artinya mereka tak bisa lagi mengintip-intip calon pasangan yang berada di suatu sudut masjid. Sementara bagi orang tua pelaksanaan tarawih di rumah akan merasa ada sesuatu yang janggal dan tidak biasa.

Selain instruksi untuk tidak mudik dan salat tarawih di rumah, Majelis Tarjih juga telah menelurkan fatwa agar tidak melaksanakan salat ied. Ini mungkin jadi fatwa yang paling berat untuk dilaksanakan. Pasalnya, selepas salat ied segenap elemen muslim biasanya saling bermaaf-maafan yang kemudian jadi tradisi ajang pertunjukkan baju baru. Sulit dibayangkan budaya saling memandang baju lebaran ini harus ditiadakan dan menunggu setidaknya satu tahun lagi.

Mudik lebaran, baju baru, dan rangkaian kegiatan selepas tarawih adalah aspek yang sangat dicintai dari budaya Muslim Indonesia. Meski demikian hal tersebut bukanlah komponen yang subtil dari ajaran agama tentang puasa di bulan Ramadan. Karenanya, ini adalah momen yang tepat untuk kembali memikirkan ulang tentang makna puasa. Apa yang disayangkan sebagian masyarakat yang merespon fatwa dari para ulama barangkali mereka hanya takut akan hilangnya kegemerlapan duniawi bukan keshalehan ukhrawi.

Hal ini juga sekaligus sebagai upaya mengikis budaya buruk yang selalu hadir selama Ramadan seperti buka bersama/ngabuburit. Seorang ustaz muda Muhammadiyah pernah mengatakan bahwa hampir tidak ada ketaatan dalam ngabuburit. Anak-anak muda berkumpul untuk bersenang-senang. Lalu saat berbuka mereka lampiaskan syahwat perut mereka. Salat maghribnya lalu tertunda. Selepas salat maghrib tidak jarang dilanjutkan dengan berbincang sehingga membuat salat isyaknya juga tertunda, lalu tarawihnya terlewat.

Ramadan tanpa mudik, baju lebaran, dan buka bersama tetaplah Ramadan. Ada aspek-aspek lain yang lebih utama yang dapat kita lakukan ketika Ramadan di tengah pandemi corona. Anda bisa menghabiskan waktu di rumah dengan mengajari anak baca al-Quran, menyimak kajian para ilmuwan di youtube, dan membaca buku yang belum sempat dibuka. Mengisi kegiatan positif di rumah selama Ramadan saat pandemi corona setidaknya memiliki dua keuntungan: menambah pahala dan menghentikan penyebaran virus.

Jangan sampai Ramadan malah menjadi nereka pandemelogis karena adanya transmisi lokal yang kemudian menularkan virus begitu saja antar warga. Pelaksanaan salat tarawih dalam kondisi seperti ini memang baiknya dilakukan di rumah agar masjid tidak jadi ruang pemukiman virus. Salat ied secara bermajaamh di lapangan juga tak perlu dilakukan di tengah pandemi global karena pelaksanaannya bersifat sunnah muakkadah.

Kita memang harus bersabar setidaknya menunggu satu tahun untuk kembali memeriahkan Ramadan dengan sedikit perbaikan. Semoga Ramadan di tahun ini kita mendapatkan pahala yang berlipat dan pengampunan dari Allah SWT.

Shared:
Shared:
1