Penumpang Gelap saat Terjadi Gelombang Penyebaran Informasi Wabah Covid-19

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 10 April 2020 12:14 WIB
Oleh: A'n Ardianto
Mengutip pendapat yang ditulis dalam artikel yang berjudul “The Pandemic of Social Media Panic Travels Faster Than The Covid-19 Outbreak,” yang terbit pada April 2020 ini mengulas mengenai dua sisi mata pisau media sosial yang menyebarkan berita mengenai wabah pandemi covid-19. Secara implisiti, artikel ini ingin mengatakan bahwa, alih-alih memberikan pencerahan informasi, peran media sosial ditumpangi ‘penumpang gelap’ dalam penyebaran informasi wabah covid-19 yang menimbulkan persoalan semakin terpolarisasi. 
 
Penumpang gelap saat terjadinya gelombang penyebaran informasi wabah covid-19 yang terjadi secara besar-besaran seperti gelombang tsunami, tanpa disadari menimbulkan kepanikan masal, tumpang tindih dengan rumor sesat, bergandeng dengan tesis konspirasi, rasisme dan panic buying pada masyarakat global. Kejadian tersebut disebabkan oleh ekosistem media abad 21, di mana peran media sosial dalam penyebaran informasi wabah covid-19 begitu dalam dan akut.
 
Keterwakilan abad 21 sebagai era yang bergerak di arena waktu-kecepatan-percepatan, meniscayakan distribusi informasi tidak lagi mengenal teritorial/geografi. Abad ini bergerak diatas lintasan orbit percepatan, artinya indikasi yang dipakai untuk menilai suatu kebaikan-kebenaran adalah siapa yang paling cepat atau paling awal. Sehingga filtrasi informasi lepas dari rangkaian ‘perangkat’ penentu kebeneran/kebaikan atas informasi. 
 
Dalam mengejar kecepatan-percepatan, informasi yang diproduksi secara melimpah/masal harus sesegera mungkin bisa terdistribusi, jika lambat dan memiliki tengat waktu informasi tersebut akan basi dan tidak layak konsumsi. Logika demikian yang menjadikan produksi informasi mengenai wabah covid-19 tersebar secara masif dan ugal-ugalan. Logika percepatan informasi tersebut menyebarkan kepanikan lebih cepat dari pada penularan virus covid-19 itu sendiri. 
 
Fenomena tersebut akhirnya berdampak multi sektor, seperti yang disebutkan sebelumnya. Masyarakat bisa saja terlepas dari persoalan kesehatan yang disebabkan oleh virus covid-19, namun jaring kepanikan yang dianyam oleh jari-jari yang suka meng‘klik-share’ informasi telah siap menjerat manusia. Jeratan tersebut menimbulkan menurunya kesehatan mental, luruhnya solidaritas, dan memicu munculnya egoisme. 
 
Terkait luruhnya solidaritas dapat menimbulkan terjadinya tindakan rasisme. China sebagai negara awal berkembangnya virus covid-19 mendapat perlakuan tidak mengenakkan. Bahkan orang China yang tidak pernah menginjakkan kakinya di China turut menjadi korban dari rasisme virus itu. Di Indonesia, terjadi penolakan pemakaman jenazah pasien covid-19, perawat diusir tetangga kontrakannya, ODP/PDP yang melakukan isolasi mandiri dikucilkan. Arus besar informasi wabah covid-19 yang oleh Direktur Umum WHO disebut lebih berbahaya dan lebih cepat menular ketimbang virus corona itu sendiri.
 
Berbagai cara digunakan untuk menghambat persebaran virus covid-19. Meskipun sebagai bencana kesehatan, namun cara untuk mencegah penyebaran virus ini nihil dilakukan dengan intervensi kesehatan/farmasi. Negara-negara terdampak melakukan pencegahan melalui kebijakan yang dibuat oleh pemangku kebijakan dengan cara pembatasan sosial (Social/Physical Distancing), dengan kata lain adalah intervensi non-farmasi. 
 
Virus yang belum ditemukan obatnya ini menyebar disebabkan kontak dan kedekatan fisik, sehingga kebijakan yang dipilih untuk menghentikan laju penyebarannya virus adalah mengatur pembatasan atau jarak pertemuan secara fisik. Dalam keadaan sosial semacam ini diperlukan medium yang tetap bisa menyatukan dan mempertahankan relasi antar manusia agar tetap terjalin. Sehingga pemanfaatan media sosial menjadi mutlak, sebagai medium penghubung antar mereka. 
 
Pemanfaatan media sosial dalam hal ini bisa digunakan sebagai alat penyebar informasi yang benar oleh pihak-pihak otoritatif mengenai sifat dan perilaku masyarakat dalam menghadapi wabah ini. Serta bisa digunakan untuk menjelaskan terkait pilihan kebijakan yang dilakukan oleh pemangku kebijakan. Kedepan perlu dilakukan pemutakhiran strategi komunikasi.
 
Pemutakhiran tersebut sebagai kontribusi terhadap kebutuhan mendesak dalam merespon kesehatan masyarakat. Pengembangan ini penting dilakukan sebagai persiapan untuk menghadapi wabah global di masa depan. Karena dalam persoalan kesehatan disuatu wilayah bukan fokus pada institusi kesehatan dan pemerintah di wilayah tersebut, serta masyarakat terdampak kesehatan saja. Namun juga tidak boleh menegasikan peran signifikan media sosial yang menjadi faktor X dari munculnya suatu realitas (masalah wabah). 
 
Sehingga, kesalahan yang dilakukan oleh pejabat teras Republik ini ketika menyampaikan informasi bisa ditekan. Bisa jadi dihilangkan, karena statmen yang disampaikan oleh para pejabat sudah diwakili oleh konten-konten kreatif dan edukatif yang telah melewati verifikasi ketat, kemudian disebarkan melalui media sosial. Keterwakilan ini memiliki dampak, baik positif maupun negatif. Karena bisa jadi pejabat tersebut popularitasnya akan berkurang, seiring semakin jarangnya setor muka pada khalayak. Namun sisi positifnya, mereka bisa bekerja efisien tanpa memikirkan tampilan/citraan ketika tampil di depan publik yang berada dalam tekanan.
 
Keberhasilan sistem pengaman ini juga ditentukan oleh khalayak yang biasanya dengan mudah melakukan klik-share informasi yang belum diketahui kebenaran dan asal-usulnya. Momen bulan Ramadhan yang akan datang dalam waktu dekat ini bisa dijadikan alasan untuk mempuasakan jari-jari yang selalu haus dan lapar akan pujian, ingin dianggap paling awal, yang paling paham, dan sifat-sifat keakuan lain. Jadikan momen puasa bukan hanya untuk menahan dahaga dan lapar di perut, tapi juga menahan dahaga dari perilaku-perilaku narsistik.
Shared:
Shared:
1