Imbauan Haedar Nashir Jelang Ramadan di Tengah Wabah Corona

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 03 April 2020 16:08 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA-  Umat Islam dan warga bangsa sebentar lagi akan menunaikan Ibadah Ramadan dan Syawal pada tahun ini. Sementara kita berada dalam suasana musibah wabah Covid-19, karena itu Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menyampaikan Maklumat dan Pandangan Ke-Islamannya mengenai ibadah di bulan Ramadan dan Idul Fitri. 
 
Berkaitan dengan Ibadah Ramadan. Pertama, tunaikan ibadah puasa Ramadan bagi mereka yang mampu sebagaimana mestinya. Bagi mereka yang sakit, tidak mampu, lebih khusus tenaga-tenaga kesehatan yang karena pertimbangan untuk kekuatan daya tahan tubuh dalam melayani pasien Covid-19. Maka dibolehkan untuk tidak menunaikan puasa pada saat itu dan dapat mengganti dihari lain atau bagi yang sesuai syariat melakukan fidyah.
 
"Ibadah-ibadah lain seperti tarawih, jika sampai pada bulan Ramadan wabah Covid-19 masih belum reda, tunaikanlah di kediaman masing-masing. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lain sebagaimana sholat Jum’at ditunaikan dalam bentuk sholat Dzuhur di tempat masing-masing," jelas Haedar.
 
Lebih dari itu, Haedar mengajak untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan untuk muhasabah (introspeksi diri), bulan untuk menambah kekhusyukan diri, kesalehan diri, dan bermunajat kepada Allah sambil terus kita berdo’a agar kita (bangsa Indonesia) dan umat manusia di seluruh dunia diringankan dan dikeluarkan dari musibah yang besar ini. 
 
"Sehingga kita dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab kehidupan sehari-hari sebagaimana biasa," ucap Haedar.
 
Berkaitan dengan idul fitri, dalam pandangan Islam ibadah sholat idul fitri di tanah lapang adalah Sunnah Muakkadah mengikuti jejak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tetapi apabila sampai bulan Syawal wabah Covid-19 masih juga belum mereda, maka menurut Tarjih Muhammadiyah kita tidak perlu menunaikan Sholat Idul Fitri 
 
"Kegiatan-kegiatan lain, takbir keliling dan syawalan bahkan mudik juga tidak perlu dilakukan. Khusus berkaitan dengan mudik pertimbangkanlah protokol pemerintah juga pertimbangkanlah kondisi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat," jelas Haedar.
 
Prinsip dalam menghadapi situasi yang seperti ini adalah apa yang di Sunnahkan Nabi dalam hadistnya La Dharara wa Laa Dhirara, jangan berbuat sesuatu yang mudharat untuk diri sendiri, keluarga sendiri, atau juga menimbulkan kemudharatan bagi orang lain atau masyarakat luas. 
 
"Disinilah pentingnya menjadi panduan kita bersama," tegas Haedar.
 
Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengeluarkan kita dari musibah yang besar ini. Seraya dengan itu kita tetap bersyukur, sabar, tawakal, dan ikhtiar dalam menghadapi wabah Covid-19 ini sekaligus juga  menjadikan diri kita sebagai insan yang beriman, bertaqwa dan beramal saleh untuk kebajikan orang banyak. 
Shared:
Shared:
1