Sang Panglima Tertinggi dalam Melawan Corona

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 31 Maret 2020 12:26 WIB

Oleh: Ilham Ibrahim

Sampai detik ini wabah Covid-19 masih menghantui bumi. Beragam dampak dari ekonomi, psikologi, dan spiritual telah kita rasakan. Seorang bapak yang mengundi nasib pada upah harian harus rela menahan rasa lapar, seorang anak yang membutuhkan kasih sayang harus rela berpisah dengan orang tuanya yang terdampak, seorang muballigh harus rela berhenti berkhotbah dari mimbar ke mimbar. Semua itu dilakukan karena khawatir pasukan mikroba parasit sedang mengintai kita di suatu sudut.

Begitu WHO secara resmi menyatakan COVID-19 sebagai pandemik global setelah dua bulan terdeteksi dan mengganas di Wuhan.Para ilmuwan, dokter, dan perawat di seluruh dunia langsung mengumpulkan informasi dan bersama-sama berhasil memahami bagaimana dunia mikroorganisme ini bekerja, sehingga mereka tahu mekanisme di balik wabah dan cara melawannya.

Pada abad ke-14 ketika kuman-kuman lincah memusnahkan jutaan manusia, orang abad pertengahan tidak pernah menemukan apa yang menyebabkan Maut Hitam. Namun sekarang, hanya butuh waktu dua minggu bagi para ilmuwan untuk mengidentifikasi virus corona, mengurutkan genomnya, dan mengembangkan tes yang dapat diandalkan untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi.

Begitu para ilmuwan memahami apa yang menyebabkan pandemi, menjadi lebih mudah untuk melawan tentara-tentara corona. Meningkatkan kebersihan, memperkuat imun, dan mematuhi instruksi medis menjadi strategi perang yang dapat memungkinkan umat manusia untuk unggul dari predator yang tak kasat mata ini. Karenanya, di era perang melawan wabah, mengingatkan orang terkasih untuk mencuci tangan setiap saat, getaran romantiknya sebanding dengan menyatakan “will you marry me?”

Karenanya, Haedar Nashir pernah menyampaikan ajakan moral bagi kepentingan kita bersama. Menurutnya,  dokter dan tenaga medis menjadi benteng pertahanan terakhir yang keberadaannya sangat penting. Mereka adalah saudara kita tercinta. Kalau mereka berguguran di medan laga ini yang tentu tak kita hendaki, maka tidak ada lagi yang dapat diharapkan untuk membendung wabah global. Pengorbanan mereka harus didukung penuh dengan tidak melakukan hal-hal yang gegabah dan ceroboh seperti dalih mati di tangan Tuhan.

Tenaga medis saat ini mungkin menjadi pekerjaan yang memiliki resiko tinggi. Tak mudah bagi mereka untuk tetap sehat saat menangani pasien positif corona dengan baju Alat Pelindung Diri (APD). Apalagi dari waktu ke waktu stok APD terus menyusut mengingat adanya peningkatan jumlah pasien. Dalam aturan pakai yang ditetapkan WHO, apabila baju APD dilepas maka tak dapat digunakan kembali. Tentu ini menyulitkan tenaga medis ketika ingin menyalurkan fungsi biologisnya seperti makan, minum, buang kotoran.

Bayangkan jika seorang tenaga medis yang masih mengenakan baju APD sedang dalam kondisi kehausan setelah berjam-jam menangani pasien. Dalam semua kemungkinan yang terjadi, dia akan menahan diri untuk tidak tergoda mengambil air minum dari galon. Dia sepenuhnya sadar stok APD akan semakin menyusut kalau dirinya membesihkan diri dan melepas baju itu untuk sekadar minum segelas air. Selain itu, di sekitar tubuh tenaga medis itu tentu dipenuhi kuman-kuman yang kalau dia gegabah tanpa perhitungan dengan meminum air, ranjau-ranjau mikroskopis akan meledak dalam tubuhnya.

Itu jika mereka hanya kehausan. Bayangkan bagaimana jika mereka ingin buang air kecil? Haus mungkin dapat ditahan beberapa waktu, namun menahan laju air kencing tentu beresiko tinggi bagi kesehatan dirinya. Apa yang harus dilakukan tenaga medis ketika dalam kondisi tersebut? Apakah mereka harus membuka baju APD, membersihkan diri, kemudian menyalurkan hasrat fisiologisnya? Atau apakah dia harus menahannya karena stok baju APD akan semakin berkurang kalau dirinya melepas baju itu untuk sekadar membuang air kotor dalam kandung kemihnya?

Kalau kita merasa simpatik dengan mereka, maka patuhi apa yang mereka perintahkan. Karenanya, Haedar menghimbau agar masyarakat hendaknya menjadi frontliner, yakni pejuang di garis depan lawan Covid-19. Caranya, mari kita berkorban bersama-sama memutus rantai penularan sebagai tindakan yang hebat, mulia, dan ksatria. Melakukan jarak sosial dan mengikuti seluruh protokol yang ditetapkan pemerintah. Dengan demikian berarti para tenaga kesehatan memiliki waktu dan sumber daya leluasa untuk melayani mereka yang sakit. Sayangilah para tenaga medis yang berkhidmat untuk sesama dengan bertaruh nyawa.

Memang agak sulit mengendalikan warga negara yang selama puluhan tahun nyaman dengan kebebasannya. Biarpun pemerintah telah dengan tegas menerapkan kebijakan agar senantiasa jaga jarak sosial hingga lockdown wilayah, aturan itu belum tentu diikuti di negara-negara demokratis seperti Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Italia. Namun ketika kita dihadapkan untuk memilih antara hak kebebasan dan hak kesehatan, manusia cenderung memilih kesehatan. Bahkan kita akan rela menyerahkan kekayaan terakhir kita yaitu privasi, demi kesehatan.

Sambil menunggu waktu para ilmuwan menciptakan bom-bom vaksin dan antibiotik untuk menghancurkan kamp-kamp virus dalam tubuh manusia, kita harus mematuhi instruksi dari para dokter. Menjaga jarak dengan siapa pun, menyemprot cairan disinfektan di ruang publik, berdiam diri di rumah. Bilamana kita mengabaikannya, itu akan menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah tidak hanya bagi virus corona, tetapi juga terhadap semua patogen di masa depan. Jika tak dapat membantu tenaga medis, minimal jangan menjadi beban. Dalam perang melawan kuman, dokter adalah panglima tertinggi.

Shared:
Shared:
1