Keterlibatan Kaum Muda Muhammadiyah Suarakan Islam Wasathiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 15 Maret 2020 13:40 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan mendorong kaum muda Muhammadiyah ambil bagian ikut menyerukan Islam Wasathiyah di media.

“Kaum muda Muhammadiyah harus ambil bagian menyerukan Islam Wasathiyah di media, bisa dalam bentuk yang lebih milenial misalnya buku, komik ataupun meme di media sosial,” dorongnya. 

Dorongan itu disampaikan dalam Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Aula Ahmad Dahlan FKIP Universitas Prof. Dr. Hamka (Uhamka) pada Sabtu, 14 Maret 2020.

Noorhaidi menilai menyerukan Islam Wasathiyah itu adalah pilihan jitu kaum Muda Muhammadiyah agar paham kegamaan kamu mudanya tidak dimasuki oleh paham-paham lain yang tidak sejalan dengan Muhammadiyah bahkan tidak sejalan dengan Islam Wasathiyah.

Selain mendorong kaum Muda Muhammadiyah menyerukan Islam Wasathiyah, Noorhaidi juga mendorong agar kaum muda Muhammadiyah terlibat aktif dalam aksi-aksi perdamaian, menyalurkan energi postitif dan berupaya intensif pencegahan konflik.

“Karena dari energi kaum muda itulah paham radikalisme bisa dibendung. Misalnya Muhammadiyah melalui gerakan filantropinya turut mengembangkan kreatifitas kaum mudanya agar terhindar dari paham radikalisme dan ekstrimisme,” ajaknya.

Dalam paparan materinya Noorhaidi menyoroti bergabungnya kaum muda dalam radikalisme dan terorisme tidak bisa dilepaskan dari tingginya angka pengangguran, ketiadaan fungsi struktur keluarga dan ekslusi sosial.

Sementara kaum muda memiliki watak ‘rebellious’, mereka sangat terbebani dengan ketidakpastian ekonomi, dan kerap merupakan korban kekerasan dan kestabilan politik. Dari sinilah kata Noorhaidi radikalisme dan terorisme kemudian menjadi tempat pelarian kaum muda atas kekecewaan mereka terhadap situasi yang dihadapi.

Lebih jauh Noorhaidi menguraikan radikalisme kaum muda saat yang rawan terpapar radikalisme dan terorisme berusia antara 15 – 29 tahun. Bahkan dari rentang usia mereka telah menjadi tulang punggung organisasi-organisasi radikal.

Noorhaidi menyebutkan terpaparnya kaum muda terhadap radikalisme dan terorisme menjadi masalah yang serius terlebih adanya bonus demografi bisa menjadi ancaman. Untuk itulah Noorhaidi mendorong organisasi Islam moderat seperti Muhammadiyah harus mengambil langkah strategis untuk mencegahnya.

Hal strategis untuk membendung radikalisme dan terorisme kata Noorhaidi adalah pertama, menggunakan pendekatan ideologis dan melancaran progam deradikalisasi. Kedua, menggunakan pendekatan ekonomi dan sosial.

Langkah ini dalam rangka menciptakan situasi politik dan sosial ekonomi yang mendukung terciptanya kondisi struktural sehingga member ruang kaum muda yang lebih luas untuk mengeksprsikan diri dan identitas mereka.

Ketiga, progam perluasan kesempatan kerja, kata Noorhaidi hal ini dapat dimulai dari kegiatan filantropi yang diarahkan untuk menopang progam ini sehingga mendorong kaum muda kreatif dan bisa mendapatkan kesempatan kerja. (Andi) 

Shared:
Shared:
1