Haedar Paparkan Tujuh Model Pesantren Muhammadiyah yang Berkemajuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 14 Maret 2020 13:27 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, SEMARANG- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan pidato kunci pada seminar Pra-Muktamar dengan tema pengembangan pesantren Muhammadiyah yang berkemajuan. Dalam seminar yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Semarang pada Sabtu (14/3) ini, Haedar menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT telah mewujudkan mimpi besar Muhammadiyah mengembangkan pesantren di berbagai wilayah. 
 
“Muhammadiyah sekarang ini sudah memiliki pesantren, dan lembaga yang mengurusnya. Tentu tidak sekadar banyak, tapi dibangun dengan planing dan analisis yang serius. Buat apa punya banyak pesantren jika kualitasnya tidak baik. Lebih baik sedikit tapi berkualitas. Tapi juga sedang mengupayakan bagaimana caranya agar banyak tapi semuanya berkualitas,” kata Haedar.
 
Bagi Haedar, pengembangan pesantren tidak mesti sama dengan model lama, karena hal tersebut bukanlah sesuatu yang absolut. Maka dari itu, pesantren Muhammadiyah harus memiliki ciri khas yang berbeda dengan pola-pola pesantren lama, namun tentu saja ada unsu-unsur lain yang harus tetap dipertahankan dan diperbaiki dari tradisi pesantren masa lampau.
 
“Ketika kita mengembangkan pesantren, tidak mengapa kita tidak sama dengan pola-pola pesantren lama. Pesantren bukanlah sesuatu yang qathi. Muhammadiyah ingin mendesign pesantren yang memiliki kategori berkemajuan dan berorientasi ke depan. Pesantren berkemajuan itu seperti apa profilenya? Ini tugas seminar pra muktamar ini. Agar bagaimana membangun pesantren yang kompatibel dengan Muhammadiyah,” tantang Haedar kepada peserta yang hadir dalam seminar Pra-Muktamar itu. 
 
Model Pesantren Berkemajuan
 
Alumni pondok pesantren Cintawana Tasikmalaya ini menyampaikan beberapa pemikirannya terkait model pesantren yang berkemajuan. Pertama, pesantren yang berbasis pada sistem pendidikan Islam modern. Hal tersebut merupakan ciri khas Muhammadiyah yang sejak awal mendirikan lembaga pendidikan, tanpa harus parno dengan gelombang zaman.
 
“Siapapun yang mengelola pesantren Muhammadiyah, harus berbasis pada pendidikan Islam modern. Kenapa? Karena ide awal dari gagasan dari sistem pendidikan Muhammadiyah, karakternya berbeda dengan yang lain. Dahlan tak menggagas pesantren, padahal dia menimba ilmu di berbagai pondok pesantren, termasuk jadi santri di Mekkah. Namun dirinya malah mendirikan sekolah berbasis Islam medorn. Beliau tidak puas dengan pendidikan pesantren pada waktu itu yang memisahkan agama dari ilmu pengetahuan, dan tidak terbuka dengan dirasah islam yang baru,” terang Haedar.
 
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menegaskan bahwa integrasi agama dan ilmu pengetahuan adalah karakter dari pendidikan Islam modern. Beliau sepakat dengan ungkapan Kuntowijoyo yang mengatakan bahwa Muhammadiyah telah berhasil menciptakan generasi muslim terpelajar melalui pendidikan lantaran dapat mengembangkan mutu sekolah yang mengajarkan dirasah Islam tapi tidak alergi dengan sains modern. 
 
“Inilah yang akan menjadi embrio melahirkan banyak tokoh yang pintar secara agama maupun ilmu pengetahuan. Pesantren yang mampu menghadapi tantangan zaman. Karakter ini harus ada baik pada pesantren maupun sekolah Muhammadiyah. Mau bikin pesantren, sekolah atau apa pun itu, kalau itu dilekatkan pada Muhammadiyah, prinsipnya harus pendidikan Islam modern untuk melahirkan muslim terpelajar. Bahwa ada eleman-elemen lama yang baik terus pertahankan tapi jangan secara tekstualis sama,” tutur Haedar.
 
Kedua, model pesantren yang berkemajuan adalah segenap santri, ustaz, dan pimpinan harus memiliki pemikiran yang berorientasi ke depan dan menjadi teladab yang baik. Haedar mengungkapkan bahwa pikiran maju menjadi karakter unik Muhammadiyah. Sebagai pendiri Persyarikatan, KH. Ahmad Dahlan merupakan konseptor sekaligus eksekutor yang melampaui rata-rata intelektual pada zamannya. Haedar kagum dengan Sang Pencerah karena dapat membaca al-Qur’an yang tidak dapat dilihat oleh sebagian orang dan menghasilkan organisasi Islam yang tahan banting melawan badai zaman.
 
“Kontekstualisasi QS. Al Maun, misalnya, dapat menjadi gerakan yang menjadi pelayanan sosial yang sangat dibutuhkan masyarakat. Aneh tentu. Surat yang singkat, tapi lama dipelajari. Buat apa hafal tapi tidak paham. Bagi Dahlan, al-Quran bukan hanya diingat dan dipahami, tetapi juga menjadi amal yang nyata. Ingat, memahami dan mengimplementasikan Quran harus jadi karakter santri, ustaz, dan pimpinan di pesantren Muhammadiayah,” tegas Haedar.
 
Haedar juga menyampaikan bahwa selain segenap penghuni dan pengurus pesantren harus memiliki pemikiran yang maju, mereka juga harus menjadi uswatun hasanah, teladan yang baik. Bagi Haedar, sepintar apa pun seseorang, dirinya akan jatuh menjadi pribadi yang hina bila perilakunya tidak mencerminkan ilmu yang dimilikinya.
 
Maka dari itulah, menurut Haedar, pesantren harus menciptakan santri-santri yang tidak saja berpikiran maju tapi juga memberi teladan. Tentu hal tersebut dimulai dari ustaz dan pimpinannya. 
 
Ketiga, model pesantren yang berkemajuan memiliki infrastruktur yang maju dan modern. Menurut Haedar, memberikan kenyamanan fasilitas akan lebih memudahkan dalam proses belajar mengajar. Keempat, pesantren yang berkemajuan memiliki keyakinan pada prinsip-prinsip agama, sikap dan paham Muhammadiyah. 
 
“Al Islam dan Kemuhammadiyah sudah cukup lengkap. Materi itu memiliki peran penting dalam pembentukan karakter seluruh siswa yang bersekolah di Lembaga Pendidikan Muhammadiyah. Selain itu ada rumusan al-masail al-khamsah yang lahir tahun 1935 kemudian disempurnakan dan ditanfidzkan pada 1964. Lima pokok masalah itu meliputi konsep tentang al-din, al-dunya, al-ibadah,  sabilillah, dan al-qiyas atau ijtihad,” ujar Haedar.
 
Selain rumusan lima yang terilhami dari realitas bahwa umat dalam kondisi belum mampu menjadikan Islam sebagai agama yang konstekstual dan berkemajuan, Haedar juga mengungkapkan arti penting Manhaj Tarjih Muhammadiyah yang memiliki trilogi pendekatan yaitu bayani burhani dan irfani. 
 
“AIK, Masalah Lima, Manhaj Tarjih, dan paham-paham Muhammadiyah yang lain inilah yang harus dipegang oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah. Jangan yang lain. Pendidikan di Muhammadiyah saya tegaskan kembali jangan jadi infrastruktur politik!” tegas Haedar. 
 
Kelima, pesantren yang berkemajuan harus jadi institusi yang membawa dan mencapai tujuan Muhammadiyah yaitu menjadi masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Bagi Haedar, pesantren Muhammadiyah harus menciptakan kader umat yang terbaik (khair al-ummah). Keenam, pesantren yang berkemajuan harus memiliki sistem yang bagus. 
 
“Pesantren Muhammadiyah harus membangun sistem yang maju. Kenapa? Tata kelola yang bagus, administrasi yang rapi. Hal itu boleh dilakukan oleh ahlinya, sedangkan astiz, para ustaz, para pimpinan, dan santri hanya fokus pada pengembangan keilmuan,” terang Haedar. 
 
Ketujuh, pesantren yang berkemajuan harus memiliki wawasan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.
 
“Ajari santri harus bisa berkomunikasi dengan masyarakat, jangan malah jadi musuh masyarakat. Kebangsaan juga sama, saya prihatin ada pesantren yang anti dengan negara baik yang terselubung maupin yang terbuka. Jadi di pesantren harus disampaikan paham Muhammadiyah bahwa Pancasila sebagai dar al-‘ahdi wa al-syahadah. Muhammadiyah sudah menyegel hubungan Islam dan negara dengan prinsip itu,” ucap Haedar.
Shared:
Shared:
1