Tantangan Ekstrimisme Bagi Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 14 Maret 2020 11:33 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Membuka Seminar Nasional Pra-Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Pasar Rebo Jakarta, Sabtu (14/3) Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqaddas menyampaikan rasa syukurnya atas keluasan dan jangkauan ekspertasi kontribusi Muhammadiyah di berbagai bidang.

“Ini sebagai bagian dari proses demokratisasi. Seminar Pra Muktamar diadakan berbagai tempat dengan menghimpun berbagai topik yang diisi oleh berbagai ahli untuk membentuk program kerja di Muktamar ke-48. Hasil pemikiran ini akan diintegrasikan dengan berbagai analisis dengan realitas pemikiran, kinerja dan umat Muhammadiyah di seluruh Indonesia,” jelas Busyro.

Seminar Nasional Pra Muktamar Muhammadiyah UHAMKA membawa tema “Ekstrimisme  Sosial  Keagamaan dan Perdamaian Semesta”.

Penjabaran ekstrimisme akan diuraikan dalam berbagai bidang dari akarnya di dalam masyarakat agama, masyarakat sosial hingga hubungannya dengan kesenjangan ekonomi.

 

Tantangan Ekstrimisme Bagi Muhammadiyah

Sesuai dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan, Busyro menilai Muhammadiyah menghadapi tiga bentuk kelompok yang menjadi tantangan terbesarnya dalam membawakan manhaj moderasi Islam Tengahan.

“Pertama di Indonesia ini ada kelompok kecil yang ultra konservatif, tidak kenal dialog, memiliki imam besar dan memiliki ketaatan doktrin dalam berbagai hal. Kelompok ini disintegratif sehingga memecah belah dengan doktrin-doktrin takfiri,” ungkap Busyro.

Kelompok kedua menurut Busyro adalah organisasi yang dikendalikan dari luar negeri sejak 1997 dan selalu berusaha membenturkan umat Islam dengan Pancasila.

Kelompok ketiga menurut Busyro, lahir sebagai respon atas ketidakadilan ekonomi oleh para birokrat korup yang lahir dari proses politik demokrasi yang terlalu liberal dan transaksional.

“Jadi topik ini perlu dibahas bersama-sama karena di sana-sini terjadi konflik. Seminar ini berusaha menghimpun pemikiran dan mengikat berbagai unsur di dalam masyarakat dengan negara kita. Aktivisme Muhammadiyah yang sedang mengalami kristalisasi di tengah fenomena ini perlu penguatan dan pendekatan ijtihad yang berwatak tajdid,” tutup Busyro. (afn)

Shared:
Shared:
1