Semangat PKO sebagai Jalan Pembaharuan Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 13 Maret 2020 11:52 WIB

Oleh: A’an Ardianto

Mitsuo Nakamura, Profesor Antropologi dari Chiba University, Jepang, dalam penelitiannya tentang Muhammadiyah di Kotagede sekitar tahun 1970-an mengemukan bahwa, keberadaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya bidang kesehatan, Rumah Sakit dan Klinik Muhammadiyah tidak hanya bekerja sebagai pengobatan murni tetapi juga sebagai perantara penyebaran ide pembaharuan Islam.

Semangat Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) melekat kuat mengikuti eksistensi keberadaan instansi kesehatan yang dimiliki Muhammadiyah. Hal ini tercermin dengan jernih dalam Amanat Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta tahun 2010, yang berbunyi “Berkembangnya fungsi pelayanan kesehatan dan kesejahteraan yang unggul dan berbasis Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) sehingga mampu meningkatkan kualitas dan kemajuan hidup masyarakat khususnya kaum dhuafa sebagai wujud aktual dakwah Muhammadiyah.”

Di samping pendidikan, PKO juga termasuk gerakkan yang dirintis pada masa awal Muhammadiyah. Sebagaimana cerita yang sudah familiar dikalangan warga persyarikatan, kisah tentang Surat Al Ma’un. Surat yang diajarkan KH Ahmad Dahlan kepada santri selama tiga bulan, sampai suatu ketika salah satu murid bertanya perihal lamanya sang Kiyai yang hanya mengajarkan satu surat diantara 114 surat lain yang terdapat dalam Al Qur’an. Padahal para santri jika diuji hafalannya tentang bunyi surat ini sudah hafal di luar kepala.

Namun, Sang Kiyai dengan lembut menjelaskan kepada santri bahwa, ayat yang dipelajari bukan hanya untuk dipahami dan dihafal, melainkan juga untuk dipraktikkan. Tak lama setelah dijelaskan, KH Ahmad Dahlan beserta para santri kemudian mengumpulkan fakir, miskin, yang terlantar di sekitar Alun-alun Kota Yogyakarta, dan tidak lupa juga mengumpulkan anak yatim yang berada di Kampung Kauman dan sekitarnya.

Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di beberapa pidatonya mengatakan, contoh pembaharuan yang mudah ditemukan dan indetik dengan KH Ahmad Dahlan adalah kisah Al Ma’un. Satu diantara ratusan surat lain dalam Al Qur’an, yang selama ratusan tahun dihafal dan mayoritas umat Islam hafal, namun tidak mengubah apapun. Namun ketika surat ini diajarkan, diresapi, diinsyafi oleh KH Ahmad Dahlan lalu muncul gagasan besar, Rumah Sakit, lembaga pendidikan, Panti Asuhan, dan pelayanan sosial dihadirkan untuk membantu umat yang sedang kesulitan.

Bersebab ghiroh yang terinspirasi dari surat Al Ma’un ini, orang-orang yang berkhidmat di organisasi Muhammadiyah oleh Syafi’i Ma’arif selain disebut sebagai Dahlanisme juga sebagai Ma’unisme. Cerita heroik ke-PKO-an yang melegenda terjadi pada tahun 1919, ketika Gunung Kelud di Kediri saat mengalami erupsi dengan 5000 korban. Dipelopori KH Syudja’, warga peryarikatan digalakkan semangat berbaginya untuk membantu saudara sebangsa yang sedang ditimpa bencana di Kelud, Kediri, Jawa Timur. Di tahun-tahun tersebut masih sangat jarang umat Islam Indonesia memiliki semangat filantropi yang diinstitusionalkan.

Pertolongan sejenis juga diberikan kepada korban Gunung Agung di Bali tahun 1963. Peristiwa tersebut mendapat perhatian serius dari Muhammadiyah, kejadian tersebut dibahas dalam Sidang Tanwir  di tahun yang sama. Menghasilkan putusan untuk segera  dibentuk gugus tugas yang mengurusi korban bencana. Misi kemanusiaan universal tersebut diimplementasikan dengan rapi dan serius oleh Muhammadiyah.

Semangat ke-PKO-an dalam kebencanaan terrefleksi di Lembaga Penangulangan Bencana (LPB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Sebuah pelayanan mitigasi bencana yang diemban oleh MDMC-MPKU juga sebagai proses pembaharuan, yakni proses penyelamatan manusia dengan cara dan media yang logis. Artinya keselamatan yang diiginkan oleh manusia bukan lagi diembankan kepada ritus-ritus nir-ilmiah diarahkan kepada usaha-usaha yang melibatkan rasional, akal sehat dan ketentuan Allah SWT.

Sinergitas antara MDMC dengan Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) sebagai unsur pembantu pimpinan persyarikatan ini mampu memerankan fungsi strategis dalam urusan kemanusiaan. Kiprahnya semakin mentasbihkan bahwa Muhammadiyah dalam memberikan pelayanan kemanusiaan tidak membeda-bedakan. Aksi yang dilakukan mulai dari penangan bencana, persoalan kemanusiaan sebagai aktualisasi dari nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari perintah Tuhan.

Kembali kepada penyataan Nakamura, bahwa keberadaan RS dan Klinik Muhammadiyah bukan hanya bekerja untuk pengobatan, melainkan transformasi ide pembaharuan sebagai usaha membawa ke peradaban utama. Pernyataan tersebut tidak salah, mengingat keberadaan RS atau Klinik yang didirikan Muhammadiyah mampu menghadirkan alam berfikir rasional-ilmiah ketengah-tengah umat, mengingat pada masa itu umat masih terbelenggu oleh alam pikir mistik/klenik. Proses peralihan ini oleh Kuntowijoyo disebut sebagai transformasi yang menghasilkan demistifikasi.

Terjadinya perubahan dalam tatanan sosial masyarakat Islam di Indonesia yang dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai output dari paradigma atau cara pandang Muhammadiyah terhadap teks-wahyu. Menurut Muhammadiyah dalam memahami pesan wahyu harus melalui tiga pendekatan, yakni pendekatan teks (bayani), konteks (burhani) dan kejernihan hati (irfani). Ketiga pendekatan ini digunakan bukan untuk saling menegasikan satu diantara yang lain, melainkan ketiganya sebagai satu kesatuan padu dalam suatu pendekatan.

Sehingga hadirnya semangat ke-PKO-an meniscayakan adanya pembaharuan pada segala bidang, terutama kesehatan. Peluang besar pada pembaharuan teknik kesehatan maupun alat kesehatan (alkes) oleh Muhammadiyah bukan suatu angan yang utopis. Mengingat Muhammadiyah selain memiliki RS, Klinik, maupun Balai Kesehatan, juga memiliki ratusan perguran tinggi yang siap menyuplai ilmu-ilmu kesehatan dan alat kesehatan.

Di sisi lain, keberadaan Amal Usaha Kesehatan (AUK) juga sebagai tempat penyemaian bibit unggul kader. Program yang dijalankan AUK bukan hanya mengurusi persoalan keumatan secara luas, namun keberadaannya juga sebagai ladang untuk tumbuh suburnya kaderisasi persyarikatan yang kompeten di bidang kesehatan.

Shared:
Shared:
1