Membenahi SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 12 Maret 2020 12:52 WIB

Oleh: Abdulah Mukti, M.Pd*)

Hari Rabu, 11 Maret 2020 kemaren berkesempatan bersama Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bapak Dr. H. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum mengunjungi SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo.

Kunjungan kali kedua ini bisa mengunjungi aktivitas siswa yang sedang Ujian Tengah Semester (UTS), Bapak Ibu Guru dan Karyawan SMP Muhammadiyah Butuh dan Alhamdulillah hadir pula Ketua PDM Purworejo ditemani Wakil Ketua PDM Purworejo, Ketua Majelis Dikdasmen PDM, disusul berikutnya Biro Hukum Universitas Muhammadiyah Purworejo. Diskusi dan dialog kultural seperti ini sudah lama tidak menjadi kultur sekolah ini yang sempat viral karena kasus bullying.

Diawali suntikan motivasi oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bapak Dr. H. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. Pertama, kasus yang mendera kemaren merupakan musibah kita bersama tidak hanya di kalangan SMP Muhamadiyah Butuh, namun keprihatinan ini juga di kalangan persyarikatan cabang dan daerah. Yang paling penting adalah banyak hikmah dan pelajaran dari kasus kemaren.  Kedua, peristiwa kemaren memberikan hikmah agar sekolah mengoptimalkan tri pusat pendidikan, dimana sekolah mengupayakan komunikasi yang super intensif memadukan proses pendidikan antara sekolah, orangtua dan masyarakat. Proses komunikasi super intensif tersebut betul-betul dimaksimalkan dan mewujud dalam program yang dijadwalkan terprogram agar jalinan komunikasi tercipta. Ketiga, sekolah menghadirkan selalu nilai-nilai positif kepada siswa, sehingga siswa senang, kerasan dan menjadikan sekolahnya sebagai rumah kedua. Berikan selalu semangat hidup yang optimis akan masa depan, agar siswa istimewa tersebut ditengah himpitan bertubi – tubi akan kehidupannya masih menyimpan obor harapan dan optmistis memandang masa depannya.

Pencerahan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dilanjutkan dengan paparan stafsus PP Muhammadiyah menyampaikan beberapa masukan dan mendorong perlunya tindakan yang bersifat futuristik mengenai sekolah yaitu pembenahan dan menghidupkan kembali SMP Muhammadiyah Butuh. Pertama, perlu disadari bahwasanya menjadi sekolah “bengkel” diperlukan ketahanan yang super tangguh dalam “ngopeni” anak-anak “istimewa”. Semangat saja tidak cukup. Harus diiringi dengan banyak wawasan, ilmu dan skills ngopeni anak-anak special. Faktor penentunya ada di Kepala Sekolah dan Guru. Kepala Sekolah memainkan peranan penting melakukan proses menghidupkan sekolah dengan menerima anak-anak yang super istimewa. Kepala sekolah diharapkan menjadi stimulator, motivator, problem solver bahkan jika perlu memberikan keteladan dan berada di garda terdepan mau memproses dan ngopeni anak-anak istimewa ini. Sehingga sivitas akademika mau dengan rela hati kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlash dan kompak mengantarkan anak-anak istimewa ke depan pintu gerbang kesuksesan hidup.

Pengalaman stafsus menangani sekolah bengkel di awali dengan penguatan Guru dan Karyawan dalam melayani siswa istimewa dengan sentuhan hati karenanya mengubah mind set tranformasi from teach to touch. Tidak mudah awalnya, karena sivitas akademika yang dimiliki saat itu dominan guru-guru muda yang super semangat namun terkadang emosi gurunya belum stabil. Dengan ketekunan trainer dari Living Values Education yang dinahkodai Dr. Muqowim, M.Ag selama 1 tahun, mendorong passion sekolah berbasis nilai dan karakter perlahan dan pasti guru-guru muda tersebut mewujud menjadi guru yang menjadi lentera menumbuhkan pribadi siswa melalui serangkaian proses homonisasi-humanisasi sebagaimana langkah Kyai Ahmad Dahlan dengan manifesto Al-Ma’un dan Wal-Ashri “Bocah-bocah dimardikaake pikire. Anak-anak istimewa dipantik dan dihidupkan aktivasi hatinya agar mereka mengenali dirinya, potensi, mkinat bakatnya melewati batas kehidupan yang telah menganggap mereka seolah tidak punya masa depan kehidupan. Dengan ketekunan, keuletan, penuh kesabaran dan motivasi tingkat paling tinggi melakukan konseintasi bahwa mereka punya hak yang sama dengan anak-anak ain pada umumnya. Sekolah menjadikan mereka bangkit, berubah dan menemukan keistimewaan dirinya. Sudah kadung dianggap istimewa, maka nyebur saja sekalian menjemput keistimewaan mereka. Walau tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan, perlahan-lahan pendekatan hati, homanisasi dan balutan nilai dan karakter, SMP istimewa yang dinahkodai staf khusus tersebut mampu membesarkan sekolah from nothing to something.

Gerakan Menghidupkan Kembali SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo Berbasis Sekolah Ramah Anak

Untuk membenahi dan menghidupkan kembali SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo setelah melakukan dua kali kunjungan (kunjungan pertama dengan stafsus Menko PMK dan kedua dengan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah) dan proses interaksi dialogis bersama seluruh sivitas akademika SMP Muhammadiyah Butuh dan stakeholders SMP, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh agar SMP ini bisa pulih dan hidup kembali dan bangkit dari keterpurukan karena viralnya SMP ini.

Pertama, jadikan modal viral yang berakibat tenarnya SMP ini menjadi starting point titik balik ketenaran yang awalnya miring dan negatif di dorong berbagai pihak digeser ke arah yang positif. Brand dan passion SMP ini karena pada umumnya siswanya berasal dari kalangan siswa “istimewa” pilihan sekolah ramah anak menjadi pilihan alternatif yang bisa berpotensi yang positif, karena di tengah sekolah pada umumnya hanya mengembangkan aspek pengetahuan, SMP ramah anak mengupayakan pendidikan komprehensif dengan menekankan nilai, karakter, sikap dan skills yang mampu menggali, mengenalkan dan mengembangkan dan melejitkan potensi anak sekalipun anak tersebut berada di tengah kehidupan yang menghimpit masa depannya secara internal dan eksternal. Sekolah menjadi tempat yang mampu mewujudkan visi dan misi kehidupan anak yang sejati dengan nilai karakter sikap dan skills.

Kedua, brand dan passion sekolah ramah anak akan berhasil di kelola manakala di dukung oleh kepemimpinan sekolah yang kuat, memiliki pandangan ke depan, membaca segenap potensi dan peluang dengan jiwa enterpreneurshipnya menggandeng berbagai pihak terutama menggerakkan tri pusat pendidikan dalam mensukseskan program sekolah ramah anak. Untuk itu, tarnsformasi kepemimpinan kepala sekolah mutlak dibutuhkan oleh SMP ini. Apalagi Kepala Sekolahnya saat ini sudah menjabat selama 20 tahun lebih. Sebaik dan sehebat apapun sosok personal, jika terlampau lama memegang amanah tersebut di sekolah, transformasi kepemimpinan perlu dilakukan, selain menyehatkan sekolah, jugaagar proses kaderisasi estafeta kepemimpinan sekolah serta agar tidak menjadi monoton dan rutinitas, transformasi kepemimpinan sekolah segera mungkin di proses.

Ketiga, setelah ditempuh proses transformasi kepemimpinan perlu diiringi dengan menyamakan langkah frekuensi gelombang seluruh sivitas akademika dan stakeholders persyarikatan Muhammadiyah dalam membranding sekolah ini menjadi sekolah ramah anak. Saatnya berbagai pihak terutama owner sekolah ini atau persyarikatan “urun rembug” dan berkontribusi membenahi dan menghidupkan sekolah ini. Sehingga turun tangannya persyarikatan tidak lagi bersifat ad hoc atau karena ada kasus dan viral saja, jika saja berbagai elemen dan infra struktur persyarikatan bergandengan tangan bersama membenahi menghidupkan mengembangkan dan melejitkan sekolah dan amal usahanya, tidak ada cerita lagi sekolah Muhammadiyah terpuruk. Saatnya kolaborasi-sinergisitas berbasis persyarikatan dan gerakan menjadi komitmen bersama menghidupkan dan membenahi SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo. Berbagai pihak yaitu: PCM, PDM, PWM, Majelis Dikdasmen PCM, PDM, PWM, Kampus UM Purworejo, Lazismuh PCM, PDM, PWM Jawa Tengah bahu membahu bersama sama. Jika ini bisa ditempuh menjadi prototipe menghidupkan membenahi amal usaha bahkan mengembangkan dan melejitkannya pun tidak akan menjadi kendala yang berarti. Karenanya, perlu ditempuh bersama sama untuk berperan, berkontribusi dengan kapasitas masing-masing membenahi dan menghidupkan SMP ini.

Keempat, merancang bangun program sekolah ramah anak di SMP Muhammadiyah Butuh. Tentunya dampak perubahan dengan menjadikan brand dan passion sekolah ramah anak bersifat medium dan long term atau tidak sekejap diperoleh langsung dampak perubahannya karena berproses. Karenanya dibutuhkan kekuatan komitmen yang tinggi disertai terobosan-terobosan inovatif dari Kepala Sekolah meyakinkan sivitas akademika fokus mengoptimalkan brand dan passion sekolah ramah anak. Agar konsistensi terjaga, maka pendalaman penguasaan serta peningatan kapasitas sivitas akademika terkait program ramah anak sangat diperlukan secara rutin, terjadwalkan dan terpantau selalu program investatif ini. Karena jika program ramah anak ini mampu dikembangkan dengan optimal, menjadi budaya dan kultur sekolah, menjadi marketing sekolah menjadi sekolah yang berkembang pesat jumlah siswa dan kepercayaan masyarakat kembali pulih terhadap SMP Muhammadiyah Butuh.Karena, jika siswa merasakan manfaat dari terobosan dan inovatif SMP, mereka dengan sendirinya akan menjadi juru iklan yang jitu yang akan menviralkan SMP Muhammadiyah Butuh yang sudah berubah, berbenah dan inovatif.

Kelima, membangun komitmen bersama sama dengan orangtua wali murid dan masyarakat untuk mau bekerja sama, berpartisipasi dan bergandengan tangan bersama perubahan SMP yang menekankan sekolah ramah anak. Aktivitas parenting, sosialisasi bahkan jika diperlukan dikembangkan aktivitas bersama sama yang menghadirkan seluruh pihak Kepala Sekolah, Guru, Karyawan, Siswa, Orangtua Wali Murid dan Perwakilan masyarakat dalam kegiatan yang mewujudkan sekolah ramah anak akan sangat efektif perubahan sekolah tersebut digapai.

Akhirnya, perubahan yang ditempuh akan dapat diupayakan sangat ditentukan komitmen bersama, upaya yang keras, dan kesadaran bersama sama mewujudkan SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo bangkit, berubah, berbenah from nothing to something.  

*) Founding Gerakan Sekolah Muhammadiyah From Nothing To Something, Staf Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan UNY

Shared:
Shared:
1