Menengok Kesiapan UMS sebagai Tuan Rumah Muktamar ke 48

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 12 Maret 2020 12:50 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SURAKARTA - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi kampus tempat perhelatan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah pada 1-5 Juli 2020 mendatang. Jika melihat pelaksanaan Muktamar beberapa periode sebelumnya selalu ditempatkan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), seperti  Muktamar ke-45 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ke-46 di Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY), ke-47 di Universitas Muhamadiyah Makassar dan yang akan datang Muktamar ke-48 di Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS).

Ketua Panitia Pusat Muktamar ke-48, Marpuji Ali, menerangkan sebelumnya Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mempertimbangkan dan mencari PTM yang dianggap mampu jadi tuan rumah Muktamar, kemudian dipilihlah UMS karena dianggap mampu sebagai tuan rumah.

"Setelah dilihat secara keseluruhan potensi di Jawa Tengah, ada UMS yang diharapkan mampu dan bisa menyediakan gedung yang berfungsi untuk muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah. Walaupun waktu itu UMS belum punya gedung yang standar untuk penyelenggaraan Muktamar, tetapi mulai dari situlah UMS punya semangat membangun gedung megah dalam rangka menyambut peserta dan penggembira Muktamar," ungkap Marpuji saat ditemui di Stadion Manahan Solo, Rabu (11/3/2020).

Gedung megah milik UMS yang akan jadi venue utama pelaksanaan Muktamar ke-48 dinamakan Edutorium. Marpuji menjelaskan dipilihnya nama Edutorium, karena sebelumnya lahan seluas 5 hektare itu digunakan sebagai Edupark yaitu taman edukasi milik UMS. Gedung tersebut akan menjadi gedung bersejarah dalam peradaban pergerakan Muhammadiyah.

"Selain itu untuk kepentingan UMS sebenarnya gedung Edutorium tidak hanya digunakan untuk pelaksanaan Muktamar saja, tapi kegiatan besar lainnya, seperti upacara wisuda, seminar dan lain sebagainya. Bahkan besok tanggal 28 Maret 2020 ini sudah dilakukan uji coba penggunaan gedung, yaitu pelaksanaan Upacara Wisuda" lanjut Marpuji.

Diperkirakan saat pelaksanaan Muktamar ke-48 nanti, wilayah UMS dan sekitarnya akan dihadiri kurang lebih satu juta orang. Gedung Edutorium menjadi magnet tersendiri yang akan menarik banyak masyarakat datang ke Solo. Selain itu, menurut Marpuji Kota Solo memiliki nilai sejarah yang sangat dekat dengan perkembangan Muhammadiyah pada kala itu. Berangkat dari Kota inilah, tercetus pemikiran K.H. Ahmad Dahlan untuk mendirikan kepanduan milik Muhammadiyah yakni Hizbul Wathan.

"Pada waktu Kyai Ahmad Dahlan dulu mulang ngaji di Sontohartanan, pulangnya selalu melewati Mangkunegaran. Di sana melihat ada kepanduan Keraton Mangkunegaran sedang latihan. Maka dari situ Kyai Ahmad Dahlan terinspirasi supaya Muhammadiyah memiliki kepanduan, maka lahirlah yang namanya Kepanduan Hizbul Wathan," pungkas Marpuji.

Sumber: (Risqi|Humas)

 

Shared:
Shared:
1