ICRC dan Majelis Tarjih Berbagi Ilmu tentang Manajemen Jenazah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 12 Maret 2020 12:30 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA - Komite Palang Merah Internasional atau International Committee of the Red Cross (ICRC) berbagi ilmu dengan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah terkait dengan management of the dead (MotD) di aula Pusat Tarjih Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan pada Rabu (11/3). ICRC yang didirikan pada tahun 1863 merupakan sebuah organisasi internasional non-goverment yang bergerak di bidang kemanusiaan. Fokus kajian yang dibahas dalam pertemuan ini mengenai peningkatkan pengetahuan tentang manajemen jenazah setelah bencana.

Ahli forensik dari ICRC regional Indonesia dan Timor Leste Eva Bruenisholz menjelaskan bahwa kondisi geografis dan geologis Indonesia membuat negara ini rentan terhadap berbagai bencana alam seperti tsunami, gunung berapi, longsor, gempa bumi, dan lain-lain. Menurut Eva, salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi bagi korban bencana alam adalah mengidentifikasi data-data personal korban.

“Untuk memahami manajemen jenazah, kita belajar dari dua kasus di Banten dan Palu. Di Banten, daerah cuma satu, dan gampang diidentifikasi. Sementara saat bencana di Palu, banyak yang meninggal dan banyak yang belum bisa diidentifikasi bahkan ada yang baru dapat ditangani sampai pada tiga hari,” tutur Eva.

Eva mengungkapkan bahwa meskipun setiap hari ada orang yang meninggal, tapi tidak tiap hari mereka melakukan management jenazah yang baik. Karena itu penting ada suatu organisasi yang menangani teknis perawatan jenazah korban bencana. Di Indonesia sebenarnya sudah ada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara Muhammadiyah punya Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Eva mengungkapkan bahwa kedua badan kebencanaan itu dapat berperan sebagai penolong pertama.

“Tugas tim penolong pertama terdiri dari tiga orang: orang pertama relawan memakai pakaian standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) kemudian mengambil jenazah; kedua mengambil data seperti ambil foto dan mengisi formulir; dan ketiga yang mengambil benda-benda yang ditemukan di sekitar jenazah walau pun belum tentu milik jenazah,” terang Eva.

Setelah itu Eva menjelaskan bahwa saat setelah jenazah itu diambil, maka tim penolong pertama harus membubuhkan nomor identifikasi unik. Baiknya ada keseragaman misalnya mengambil dari nomor interpol. Nomor itu dilekatkan dengan jenazah dengan barang-barang jenazah. Dan pelabelan pun harus memperhatikan bahan yang tidak cepat hilang. Setelah itu kata Eva diambil foto dengan sudut pandang yang fokus memuat nomor ninuk.Sementara petugas yang mengisi formulir harus mengisi dua formulir dengan nomor yang sama. Setelah pencacatan dan pengambilan foto baru jenazah dimasukkan dalam kantung mayat.

“Setelah jenazah dimasukkan ke dalam kantung mayat, kita pindahkan ke pada titik pengumpulan sementara, dan ingat harus menggunakan kendaraan yang hormat dan bermartabat. Nanti biasanya di titik pengumpulan ada penanggung jawab di mana ketika penyerahan jenazah harus ada formulir serah terimanya. Inilah SOP si penolong pertama yang harus dilakukan,” jelas Eva.

Setelah tugas penolong pertama selesai, maka tugas selanjutnya ditangani oleh tim forensik atau yang biasa disebut dengan Disaster Victim Investigation (DVI). Karena bencanamerupakan suatu kejadian yang mendadak dan tidak terduga, seringkali korban mati ditemukan dalam kondisi tidak berbentuk, trauma berat, membusuk, atau kombinasi bermacam keadaan sehingga sangat sulit untuk mengenalinya. Karena itu menurut Eva, tugas forensik adalah melakukan pengumpulan data untuk mengedintifikasi jenazah secara ilmiah.

“Identifikasi jenazah dilakukan dengan proses mencocokkan data setelah meninggal dengan data-data sebelum meninggal. Data sebelum meninggal diisi oleh keluarga yang kehilangan anggotanya. Ketika cocok semuanya itulah disebut sebagai jenazah yang terindentifikasi. Proses identifikasi adalah sesuatu yang kompleks dan butuh waktu dan itulah karenanya tidak bisa dilakukan kecuali oleh ahlinya,” ucap Eva.

Setelah selesai melakukan identifikasi jenazah, tahap selanjutnya adalah proses pemakaman. Bila pihak keluarga tidak mengklaim seorang jenazah, maka akan dimakamkan oleh pihak forensik dengan keterangan di mana dikuburkan. Patut untuk disayangkan karena proses ini seringkali tidak memuliakan jenazah secara bermartabat. Eva melihat proses penguburan massal bagi jenazah bencana biasanya seperti mengubur sampah dalam tanah. Walau mereka dalam kondisi tak bernyawa, namun penghormatan terakhir kepada mereka jangan sampai luput dari perhatian.

“Beberapa kesalahan di dalam penguburan adalah penguburan secara massal seperti sampah.  Tetap ketika dimakamkan harus ada data-datanya agar mayat punya hak untuk ditemukan oleh keluarganya. datanya bisa ditulis di nisan makam dengan tulisan nomornya. Sehingga ketika mencari ada datanya dan di mana ia dimakamkan,” kata Eva.

Seusai Eva Bruenisholz menerangkan setiap detail teknis manajemen jenazah karena bencana, dirinya mengagumi Muhammadiyah telah melangkah maju menyusun Fikih Kebencanaan. Sebagai delegasi ICRC regional Indonesia dan Timor Leste, Eva berharap produk Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah itu dilengkapi dengan management of the dead (MotD) yang ditinjau dari perspektif ajaran Islam. Dalam Islam, seseorang harus lebih sering mengingat kepastian datangnya kematian, ketimbang peluang-peluang yang dihadirkan oleh kehidupan ini. (ilham)

Shared:
Shared:
1