Vis a vis, Pak AR dengan Leonardo DiCaprio

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 10 Maret 2020 15:32 WIB

Dalam kamus hukum, kata vis a vis adalah suatu kondisi di mana para pihak ditempat pada kondisi yang saling berhadap-hadapan. Tapi dalam tulisan singkat ini, vis a vis  dimaknai dengan sederhana, di mana pihak di tempat dalam kondisi yang berbeda, namun bukan sebagai ajang atau arena mereka untuk memperdebatkan argument.

Pertama adalah Abrul Razak Fachrudin yang kerab disapa Pak AR, beliau adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah yang kesepuluh. Lahir di Purwanggan, Yogyakarta pada 14 Februari 1916 dan meninggal pada 17 Maret 1995 di usia 79 tahun. Pak AR mejabat sebagai ketua Umum PP Muhammadiyah mulai dari tahun 1968 mengantikan KH Faqih Usman sampai tahun 1990 digantikan oleh KH Azhar Basyir.

Sementara Leonardo Wilhelm DiCaprio lahir di Los Angeles pada 11 November 1974. Leo panggilan akrabnya merupakan seorang aktor film dari Amerika Serikat. Namanya meroket ketika membintangi film bergenre romantik yang berjudul Titanic. Film tersebut mengisahkan perjalanan kapal besar yang pada masa itu belum ada tandingannya, namun nahas di tengah perjalanan kapal tersebut terbelah karena menghantam gunung es.

Di tengah kesibukannya sebagai aktor, Leo menunjukkan minatnya pada pelestarian alam dan hewan. Dikutip dari laman media sosial instagramnya, Leo banyak memposting gambar dan video tentang perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang menyebabkan terganggunya ekologi, termasuk menyusutnya volume es di kutub dan semakin langkanya beberapa hewan ikonik dari berbagai belahan dunia. Di mana kerusakan tersebut mayoritas dilakukan oleh manusia.

Seperti postingannya pada 22 Februari 2020 di media sosial instagram, dalam postingan tersebut Ia menampilkan seekor beruang kutub yang sedang berada di atas tumpukan es disertai dengan tulisan “Polar bears are getting thinner and having fewer cubs due to melting sea ice, study says.” (beruang kutub semakin kurus dan memiliki lebih sedikit anak karena es laut yang meleleh, kata penelitian). Kemudian ditambahkan caption di bawahnya tentang sebuah fakta bahwa keadaan tersebut terjadi akibat perubahan iklim.

Dalam feed instagramnya yang lain banyak menampilkan video dan gambar serupa, yang pada intinya adalah mengajak kepada masyarakat dunia untuk menjaga dan melesatrikan lingkungan.

Kampanye dan kesadaran akan kelestarian lingkungan sekarang ini marak digalakan, termasuk melalui dibentuknya World Wildlife Fund (WWF) pada 29 April 1961 di Swiss. Namun praktik pelestarian lingkungan dan menyayangi binatang telah dilakukan dan digalakkan oleh Pak AR kurang lebih 20 tahun sebelum WWF berdiri dan 81 tahun sebelum Leonardo DiCaprio membuat feed di instagramnya. Atau bisa jadi lebih lama ketimbang itu, yakni pada tahun 1918 tahun sejak beridrinya Hizbul Wathan (HW) di Yogyakarta.

Ketika Kongres Muhammadiyah ke-28 tahun 1939 di Medan. Pak AR yang pada tahun-tahun tersebut ditugaskan oleh PP Muhammadiyah sebagai guru di daerah Ulak Paceh, Talangbae, Sumatera Selatan (Sumsel), mendapat kabar bahwa Muhammadiyah akan mengadakan kongres ke-28 di Medan, Pak AR berinisiatif untuk bersepeda dari Talangbae menuju tempat Kongres di Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Kurang lebih jarak yang ditempuh menuju lokasi Kongres sepanjang 1.300 KM, melewati hutan lebat kawasan yang saat ini disebut sebagai Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Gunung Leuser. Bersama 12 anak Pandu HW, Pak AR dan rombongan menempuh waktu 8 jam setaip hari. Beruntung jika pada hari itu ada bis yang sedang jalan, tapi kalau tidak ada, rombongan akan mengayuh sepeda mereka sampai tidak kuat lagi, lalu beristirahat. Bisa numpang di rumah warga, masjid atau mendirikan tenda di tengah hutan.

Dalam perjalanan tersebut, tidak jarang rombongan berjumpa dengan hewan liar. Mengingat saat itu hutan kawasan Sumatera masih sangat jarang dijamah manusia. Biasanya berjumpa dengan babi hutan, gajah, ular dan lain sebagainya. Perjumpaan ini menguji pengetahuan dan ketangkasan rombongan. Terlebih ketua rombongan, Pak AR, dalam menangani konflik yang terjadi antara manusia dan hewan.

Cara mengusir hewan biasanya dilakukan dengan cara membuat gaduh, misalnya memukul panik, menup terompet, memainkan pencahayaan senter dan sejenisnya, initinya membuat gaduh supaya hewan tidak berani mendekat. Cara tersebut dimaksudkan supaya tidak ada yang terluka, baik dari rombongan ataupun dari hewan buas yang ingin mendekat.

Salah satu pengalaman menarik dan menegangkan yang didapatkan rombongan adalah ketika berada di tengah hutan daerah Jambi. Setelah mendirikan bifak atau tenda yang dibawah, rombongan kemudian menyusun sepeda melingkar, mengelilingi tenda sebagai tameng/penangkis mereka dari serangan atau gangguan hewan buas. Tengah malam tepat, rombongan dikagetkan dengan suara auman ‘Mbah Loreng’ (Harimau Sumatera/Panthera tigris sumatrae).

Diriwayatkan oleh Syaefudin Simon dari bukunya yang berjudul Pak AR Sang Penyejuk, suasana menegangkan tersebut diceritakan Pak AR kepadanya supaya anak penghuni kos di rumahnya bisa mengambil hikmah. Diriwayatkan Pak AR, malam itu semua anggota dibangunkan untuk bersiap menghadapai segala kemungkinan, setelah bermusyawarah rombongan bersepakat bahwa jika Mbah Loreng menyerang, bagaimanapun rombongan HW harus membela diri. Jika tidak, maka harimau tersebut tidak diganggu. Akan tetapi malam itu bisa dilewati dengan aman, dan tidak ada yang terluka dari kedua pihak.

Ajaran menyayangi hewan merupakan janji yang diucapkan para kader HW, “HW adalah penyayang semua mahluk”. Janji ini kemudian melekat pada pribadi Pak AR, diceritakan Sukriyanto AR, “Pak AR jangankan membunuh hewan tak bersalah, mengusir hewan dari rumah pun Pak AR tidak berani.” Ternyata, sikap demikian jika dirunut kebelakang sama dengan yang diterapkan oleh KH Ahmad Dahlan kepada para santrinya. Ajaran Welas Asih yang diajarkan kepada santri, salah satunya adalah harus menyayangi binatang.

Sebagai organisasi Islam Berkemajuan yang di abad keduanya ingin memajukan Indonesia dan mencerahkan Semesta, Muhammadiyah mempunyai bekal yang utuh dan cukup mengenai pelestarian lingkungan dan gerakan lainnya. Bekal yang tidak ‘mengada-ada’, keberadaan Muhammadiyah tidak risau dengan kuantitas pengikut/warga/partisipannya. Melainkan keberadaan Muhammadiyah dibuktikan secara nyata melalui kontribusi dan peranannya yang bisa dirasakan langsung, bukan hanya untuk kemanusiaan tapi juga semesta alam, sebagai implementasi Islam rahmatan lil alamiin. (A’n AR)

Shared:
Shared:
1