Seminar Pra Muktamar UM Cirebon Angkat Tema Pariwisata dan Entrepeunership

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 08 Maret 2020 11:50 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, CIREBON – Diangkatnya tema Pariwisata dan Entrepeunership sebagai bagian dari Seminar Pra Muktamar di Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Sabtu (7/3) semata-mata didasarkan pada pertimbangan strategis secara kultural dan ekonomi.

Rektor UMC Khaerul Wahidin melihat bahwa kekayaan sektor pariwisata alam dan kebudayaan Indonesia yang melimpah akan lebih bernas jika memiliki pengelolaan yang baik dalam sisi material maupun spiritual.

“Sektor pariwisata ini adalah andalan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat. Berangkat dari spirit kemanusiaan, muhammadiyah perlu berpartisipasi. Kita akan menghidupkannya dengan harapan bisa memberikan kado bagi muktamar untuk mendorong warga Muhammadiyah turut dalam pembangunan bangsa dan kemajuan pariwisata,” terang Khaerul.

Menyambung Khaerul, Menko-PMK Muhadjir Effendi mendukung tema tersebut meski menurutnya tidak populer.

Muhadjir melihat dari sektor strategis, wisata alam dan budaya adalah sektor yang paling bisa diandalkan di masa depan.

“Dua sektor itu yang negara lain tidak punya sebanyak kita. Apalagi empat besar pendapatan nasional adalah pariwisata, manufaktur, kelautan dan pertambangan. Karena itu mestinya hasil seminar ini dirumuskan dengan baik,” pesan Muhadjir.

Khusus wilayah Jawa Barat dan Cirebon, kekayaan potensi wisata alam dan budaya turut membuat UMC perlu mendirikan Museum Muhammadiyah Jawa Barat yang peletakan batu pertamanya dilaksanakan seusai rangkaian acara seminar.

 

MUHAMMADIYAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

Dalam kesempatan yang sama Bupati Cirebon Imron Rosyadi berterima kasih atas keberadaan Muhammadiyah yang menurutnya cukup mengangkat sumber daya manusia masyarakat Cirebon.

“Pendidikan di Pantura tidak bisa dibandingkan dengan kawasan Parahyangan. Karena itu untuk pembangunan SDM, terutama melalui pendidikan dan kesehatan dilakukan oleh Muhammadiyah. Alhamdulillah program daerah kami tertolong oleh adanya muhammadiyah. Kami ingin jangan sampai orang miskin di sini tidak dapat akses. Kalau Muhammadiyah maju, kehidupan masyarakat otomatis juga terangkat,” syukurnya.

Menanggapi Imron, Menko-PMK sekaligus Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendi menegaskan bahwa Muhammadiyah bersifat rahmatan lil ‘alamin sejak lama.

“Muhammadiyah tidak pilih kasih untuk memberi akses pada suku, golongan, agama, maupun kelompok tertentu. Muhammadiyah Rahmatan lil ‘alamin. Bahkan di wilayah Timur, ada berbagai sekolah dan universitas Muhammadiyah yang dihuni oleh mayoritas umat non-muslim,” tutupnya. (afandi)

Shared:
Shared:
1