Pesan Abdul Mu’ti Kepada Para Cendekiawan Muda Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 08 Maret 2020 10:20 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, MALANG- Dalam acara yang bertajuk Kolokium Nasional Interdisipliner Cendekiawan Muda Muhammadiyah, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengapresiasi acara pertemuan para intelektual muda yang datang dari berbagai latar pendidikan dan keilmuan. Pada kegiatan yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang pada Sabtu (7/3) ini, Mu’ti menyampaikan harapannya bahwa semoga generasi muda ini dapat menjadi penerus yang dapat mengembangkan Muhammadiyah menjadi lebih baik lagi.

Selain itu, Mu’ti juga memberikan catatan kritis pada peserta yang hadir di forum tersebut bahwa dukungan kalangan intelektual muda Muhammadiyah sebagai kekuatan penyeimbang wacana harusnya menjadi sebuah keniscayaan sejarah.

“Selain saya mengapresiasi, saya sebenarnya ingin mengkritik juga. Para intelektual muda ini seharusnya membela Muhammadiyah dengan ilmunya, tapi yang ada malah mereka ikut-ikutan orang lain mengkritik Muhammadiyah dengan ilmunya. Kita tentu tidak anti kritik, malah saya sendiri senang dikritik. Namun aneh saja kok malah sepi nggak ada pembelaan intelektual pada Muhammadiyah,” kata Mu’ti.

Pada kegiatan pertemuan itu Mu’ti juga sempat menyinggung tentang kabar angin yang berhembus bahwa populasi warga Muhammadiyah dari tahun ke tahun secara grafik mengalami penyusutan. Walau tidak signifikan, namun Mu’ti mengingatkan bahwa data tersebut patut menjadi masalah yang perlu didudukkan cendekiawan muda Muhammadiyah secara saksama untuk menciptakan konten dakwah yang kreatif dan bermartabat.

“Tidak ada paksaan untuk bergabung Muhammadiyah, jadi gak apa-apa Muhammadiyah secara populasi belum lebih dari satu digit. Lebih baik sedikit tapi solid. Kita harus menjadi minoritas kreatif,” canda Mu’ti yang disambut gelak tawa hadirin yang menyimak paparan materinya.

Mu’ti menjelaskan bahwa kekuatan seorang intelektual diukur dengan seberapa jauh memengaruhi opini publik, dan ketajaman seorang cendekiawan dinilai dari seberapa luas wawasannya dalam menelaah literatur.

“Dalam al-Quran banyak berkisah tentang berjalan-jalan. Maksudnya adalah warga Muhammadiyah harus sering bersilaturahmi, mengikat jaringan, dan memiliki wawasan yang luas. Ketika ingin menjadi manusia yang berilmu, maka dekat-dekatlah bersama orang-orang berilmu. Artinya apa, artinya cendekiawan muda Muhammadiyah harus pintar tidak hanya pada aspek kognitif tapi juga dalam bersosial-kemasyarakatan,” jelas Mu’ti.

Di hadapan ratusan cendekiawan muda Muhammadiyah yang datang dari berbagai wilayah Indonesia, Mu’ti juga menyampaikan bahwa fokus kajian yang dimiliki generasi muda saat ini harus beragam spesialisasi agar dakwah Islam berkemajuan semakin berwarna. Cendekiawan muda Muhammadiyah sudah seharusnya mengisi berbagai lini yang ada seperti sastrawan, muballigh, seniman, agamawan, kesehatan, antropolog dan sebagainya tetapi tetap dilandasi dengan paham keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah.

“Kita memerlukan intelektual yang spesialisasi ilmunya berbeda-beda agar nantinya dapat saling menopang untuk kemajuan Muhammadiyah. Ada yang ahli tafsir, ada yang peneliti budaya, ada yang ahli sepakbola dan lain-lain. Harus ada yang fokus di berbagai disiplin ilmu untuk saling berintegrasi menghasilkan gagasan dan gerakan yang ‘Muhammadiyah banget’. Tapi harus ada juga model yang sedikit nyeleneh seperti saya,” canda Mu’ti yang kembali disambut gelak tawa.”

Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini menutup paparan materinya dengan ungkapan KH. Ahmad Dahlan yang masyhur di kalangan Muhammadiyah, yaitu: “hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan dimana dan kemana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan profesional lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu”. (ilham)

Shared:
Shared:
1