Merawat Paradigma Berpikir Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 08 Maret 2020 10:05 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, PURWOKERTO — Saat ini ditengah pembangunan dan kemajuan Muhammadiyah perlu untuk dibangun madrasah atau rumah intelektual, pesantren pemikiran, mazhab filsafat dari dalam Muhammadiyah sendiri, agar dapat menjadi penopang yang kuat dalam merawat paradigma berpikir Muhammadiyah yang bersanad.

Hal tersebut disampaikan oleh Robby Habiba Abror, Tim Filsafat Pendidikan Muhammadiyah (FPM) Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah dalam acara Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah 48 di Kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Purwokerto pada Sabtu (7/3).

“Kehidupan di era global, pendidikan keagamaan Islam yang terstruktur dan tersistemisasi secara utuh sangat diperlukan oleh umat Islam, masyarakat luas, termasuk para penyelenggara Negara dan tokoh pimpinan gerakan sosial politik dan keagamaan,” ungkapnya.

Muslim abad pertengahan banyak mengambil manfaat dari pemikiran filsuf, pemikiran ulama muslim melalui karya-karya mereka. Kemapanan filsafat tersebut dapat memberikan pondasi yang kokoh terhadap suatu peradaban, sehingga bertolak dari hal tersebut, dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi bisa diberikan solusi adanya kemapanan berfikir yang dimiliki oleh suatu perkumpulan.

Pembangunan struktur pemikiran yang bersanad merupakan jalan menuju “cahaya” yang ditempuh dengan kesabaran, keuletan, dan ketekunan dalam jangka yang panjang. Pola-pola tersebut jika dilakukan akan menghasilkan ilmuan yang berkarakter dan memiliki komitmen keIslaman yang khas. Menurut penulis buku Filsafat Pendidikan Muhammadiyah ini, tujuan diadakannya madrasah pemikiran sebagai usaha mencetak ilmuan muslim yang mencintai agama dan ilmu, dan ilmuan muslim yang sadar diri sebagai ulil albab.

Serta ilmuan yang fokus pada kajian keagamaan dan kefilsafatan yang tidak tergoda oleh politik praktis, ilmuan dan ulama yang rendah hati dan berwawasan luas, kemudian juga diharapakan melahirkan ilmuan yang siap dan bersedia mendedikasikan hidupnya untuk Allah SWT dan ilmu pengetahuan.

“Semua itu harus dimulai dengan menekankan pendidikan yang baik, yang berarti bahwa pendidikan dapat membawa kepada pertumbuhan individu dan masyarakat secara menyeluruh, baik dari aspek intelektual, moral-spiritual, teknologi serta kesadaran sosial.” Ucapnya

Namun pendidikan tidak cukup hanya baik, melainkan juga harus dengan benar. Yakni dengan memperhatikan hakikat kebenaran dalam semua proses pembelajaran. Filsafat pendidikan Muhammadiyah dalam hematnya adalah usaha yang bermaksud ingin mengembalikan kebeneran cara berfikir, bertindak, dan cara belajar yang sebena-benarnya.

“Sehingga pendidikan harus dibangun dengan kesadaran, keseriusan dan ketulusan berdasarkan Al Qur’an-Hadis dan pemikiran para ulama dan ilmuan yang lurus,” tutupnya. (a'n)

Shared:
Shared:
1