Tantangan Pendidikan Holistik Bagi Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 07 Maret 2020 18:28 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, PURWOKERTO — Muhammadiyah sudah lebih dari seratus tahun mengabdi untuk negeri. Artinya dengan usianya yang semakin tua, Muhammadiyah harus lebih mampu menghadapi tantangan dunia di depannya. Diantara tantangan tersebut adalah terkait dengan tingginya heterogenitas manusia dalam usia di abad ini.

Diketahui bahwa, masa sekarang merupakan era berkumpulnya empat generasi yakni generasi baby boomers, generasi x, y, dan z. Dalam bidang pendidikan hal ini menjadi persoalan tersendiri, karena guru yang mengajar generasi Y dan Z masih kebanyakan berasal dari generasi baby boomers. Alhasil system dan cara mengajarnya sering tidak up to date, menyebabkan generasi yang di didik enggan atau bahkan malas untuk menimbah ilmu.

Menurut Prof Zaqiyudin Baidhawy, Rektro IAIN Salatiga Jawa Tengah menyatakan, perbedaan generasi tersebut menimbulkan gap pengetahuan yang lebar. Persoalan ini menjadi salah satu persoalan dalam Muhammadiyah jika menerapkan pendidikan holistik untuk abad keduanya. Sehingga peremajaan SDM di penyelenggara pendidikan menjadi utama dalam penerapan pendidikan holistik Muhammadiyah abad kedua.

Persoalan ini secara khusus dibicarakan dalam Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah tahun 2020, di Universitas Muhamamdiyah (UM) Purwokerto pada Sabtu (7/3).

Tantangan pendidikan kedua muncul dari pola belanja masyarakat abad ini. Alokasi belanja harian manusia post modern dilimpahkan kepada kebutuhan pendukung, sehingga alokasi untuk belanja kebutuhan pokok tergeser. Misalnya, dalam salah satu survey menyebutkan bahwa manusia Indonesia ongkos belanja pulsa lebih tinggi dari pada ongkos belanja makanan yang sehat dan mengandung protein, bergesernya pola belanja tersebut tentu berdampak pada turunnya kesehatan jasmani dan pikiran.

“Data yang dirilis oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia menyebutkan bahwa pengguna internet terbanyak di Indonesia adalah generasi Y dan Z. Sehingga sebagai orangtua yang menjadi bagian dari pendidikan holistik juga harus memiliki hitung-hitungan soal ini,” ungkapnya.

Zaqiyudin berkelakar, teori piramida Abraham Maslow sekarang menjadi berkembang. Ia mengatakan dua lagi kebutuhan mendasar manusia, yakni baterai dan wi-fi. Perubahan pola sosial masyarakat ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pola belajar dan bermain anak-anak, jika dahulu anak akan dicari dan diajak pulang karena larut bermain dan lupa makan, kini anak oleh orangtuanya didorong keluar rumah karena terlalu sering hidupnya dihabiskan dengan gawainya.

Tantangan selanjutnya dari pendidikan holistik adalah ketiadaan empati pada diri manusia dan anak di masa sekarang. Karena mereka bisa berkumpul secara fisik, namun secara hati mereka tidak saling bertaut perilaku ini disebabkan mereka terdikotomis dalam dunia masing-masing yang berada di dalam gawainya. Maka dengan keadaan demikian diperlukan pasar keilmuan yang menawarkan kebaruan, yaitu keilmuan yang sifatnya bukan lagi mono tapi sudah harus inter, multi atau bahkan transdisiplin.

Jawaban selanjutnya adalah pasar inovasi, di abad 21 sekarang ini gagasan atau ide itu penting. Dan di abad ini pengalaman itu sudah dikalahkan, sehingga jika generasi masa lalu adalah menawarkan pengalaman, maka cara berfikir tersebut berubah secara drastis oleh generasi milenial yang dating untuk menawarkan ide atau gagasan.

“Jadi siapa yang cepat mempunyai dan mengkreasi ide, maka dia yang akan berada di depan. Ide kemudian dikembangkan pada level teknis yang berkembang lagi menjadi penemuan, dan yang lebih penting dari penemuan adalah inovasi itu untuk menjadi suatu yang berharga,” tuturnya.

Namun melihat fakta yang saat ini terjadi dalam dunia pendidikan dan menjadi sebuah masalah adalah linieritas keilmuan yang masih dipegang kuat. Hal ini menyebabkan dikotomi keilmuan yang tidak ada habisnya, sehingga menyebabkan generasi yang hitam-putih. Persoalan pelik ini ditambah dengan birokrasi ilmu pengetahuan yang sangat rumit. Sebagai pelaku akademis, Ia merasakan persoalan administratif sebagai suatu yang memperlambat kelancaran lalu lintas keilmuan.

Tidak bisa dielakkan, tantangan pendidikan di masa sekarang juga disebabkan oleh post truth society (masyarakat pasca kebenaran). Munculnya kebiasaan masyarakat jenis ini juga dibentuk melalui adanya gawai, inilah segolongan masyarakat yang krisis akhlak. Maka Muhammadiyah sebagai gerakan kemanusiaan universal harus sudah mulai mengembangkan pendekatan irfani, di mana yang saat ini yang lebih dominan di Muhammadiyah adalah bayani dan burhani, ketiga pendekatan ini harus diseimbangkan.

“Pendekatan irfani itu jangan dipandang sebagai suatu yang terlalu abstrak. Contohnya ada pada anak-anak kecil ketika bermain dengan kawan sejawatnya bisa pegang benda apa saja, bisa saja kayu misalkan. Dia bisa membuat balok kayu itu mobil, pesawat terbang dan menciptakan teman dan dialog imajiner. Inilah irfani pada tahap yang rendah,” pungkasnya.

Mengutip Kuntowijoyo, tujuan pendidikan meliputi tiga hal yakni liberasi, humanisasi, dan transendensi, inilah tiga ciri pokok generasi pendidikan holistik berkemajuan. Dalam Islam sendiri sudah banyak teori yang menyinggung pendidikan holistik, diantaranya tarbiyah (personal development), ta’dim (karakter building), dan ta’lim (knowledge base). Karena beramal usaha tidak cukup hanya dengan iklas amal, tapi juga harus dibarengi ilmu pengetahuan (research). (a’n)

Shared:
Shared:
1