Haedar: Tugas Cendekiawan Muhammadiyah Memperkaya Dimensi Pemikiran

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 06 Maret 2020 11:41 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, MALANG- Tantangan untuk terus memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta kedepan dirasa tidak mudah. Sebab dunia sedang berada dalam situasi yang tampak nyata tapi sebenarnya tidak nyata, atau bahkan juga sebaliknya. 
 
"Perlu sekali kita membaca semua detail yang ada dalam menyelesaikan masalah masalah dengan cepat, subtantif dan efektif," seperti yang diungkapkan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat membuka Kolokium Nasional Interdisipliner Cendekiawan Muda Muhammadiyah pada Jumat-Sabtu (6-7/3) di Universitas Muhammadiyah Malang. 
 
Haedar mencontohkan bahwa KH Ahmad Dahlan menjadi pembaharu dan menyampaikan gagasannya (Al Maun) sejak usia muda, sekitar 20-21 tahun. 
 
"Gagasan Muhammadiyah tentang Al Maun lahir dari pemikiran Ahmad Dahlan Muda, " ungkap haedar. 
 
Pembaharuan itu, dilanjutkan oleh Haedar Nashir,  lahir dari adaptasi KH Dahlan dalam menyelesaikan permasalahan pada zamannya. Membaca realitas zaman dengan interdisipliner dalam perspektif yang lebih luas dan berkemajuan. Serta melihat sesuatu dari banyak dimensi perspektif. 
 
Haedar juga mengingatkan bahwa cendekiawan itu mengkapitalisasi ilmu dan kecerdasan nya untuk membaca realitas, berpikir substantif dan menyelesaikan sesuatu dengan cepat serta efektif. 
 
"Kita sering kali menyelesaikan sesuatu hanya dengan mem-block cangkangnya, bukan menyelesaikan substansi nya,"ungkapnya.
 
"Kita sering berselisih tentang istilah, padahal istilah itu bukan sesuatu yang absolut," sambungnya. 
 
"Kedepan, tugas cendekiawan adalah memperkaya dimensi. Dan Muhammadiyah selalu punya kemampuan untuk mendeteksi secara detail. Maka saya sangat bangga melihat anak anak muda muhammadiyah berkumpul untuk menyelesaikan masalah dimulai dengan memetakan masalah, membuat gagasan dan mengimplementasikan nya dalam tindakan," lanjut Haedar. 
 
Sementara itu Rektor Universitas Muhammadiyah Malang,  Fauzan berpesan bahwa hanya dengan berpikir inklusif-lah kita akan dapat bertahan di masa depan.
 
"Kedepan, berpikir secara inklusif itulah yang akan membuat kita dapat beradaptasi dengan keadaan," ungkapnya. 
 
Dalam kolokium nasional ini juga dilaunching buku mencerahkan semesta. Ada 100 lebih cendekiawan muda Muhammadiyah yang datang dari berbagai daerah. Hadir pula, Menko PMK, Muhadjir Effendy.
 
Kontributor: Irvan Shaifullah
Shared:
Shared:
1