Pentingnya Perluasan Dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam Isu Lingkungan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 05 Maret 2020 18:46 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA—Hadapi berbagai jenis tantangan dan mad’u yang berlatarbelakang bermacam-macam, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (PPA) gelar Focus Group Discussion (FGD) pada Kamis (5/3) di Kantor PPA Jl. KH Ahmad Dahlan No. 32 Ngampilan, Kota Yogyakarta. Hasil dari acara ini sekaligus sebagai bahan rekomendasi untuk Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah di Solo tanggal 1-5 Juli 2020.
 
Bertema Membangun Dakwah Inklusi di Komunitas, PP ‘Aisyiyah menghadirkan Siti Syamsiatun, Anggota LPPA PP ‘Aisyiyah dan Zuly Qodir, Dosen sekaligus Sekretaris Program Doktor Politik Islam – Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Secara khusus membahas sejarah dan landasan teologis pergerakan dakwah Muhammadiyah adalah Siti Syamsiatun.
 
Menurutnya, sejarah persebaran agama Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah oase ditengah gersangnya etika yang berjalan waktu itu. Membawa etika baru yang berkesesuaian dan mampu menjawab persoalan masyarakat disekelilingnya, Nabi Muhammad berhasil mengorbitkan Islam sebagai agama yang diterima dan eksis sampai sekarang ini.
 
Irama tersebut sejalan dengan sejarah lahirnya Muhammadiyah. Dalam konteks Indonesia di masa penjajahan, KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 mendirikan Muhammadiyah yang memiliki konsep beragama yang berkemajuan, saat itu dianggap relefan untuk menjawab permasalahan yang mendera umat Islam di masa itu. Yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan waktu itu adalah dengan cara memahami Al Qur’an dengan melibatkan akal budi pikiran yang murni.
 
Kejumudan yang dialami oleh mayoritas umat Islam masa itu yang disebabkan oleh tertutupnya pintu ijtihad, oleh Ahmad Dahlan pintu tersebut dibuka dan menghasilkan produk pemikiran yang berupa amal usaha nyata yang menguatkan keagamaan melalui sector lain umat Islam masa itu. Yakni menggarap lahan-lahan potenisal di sektor kesehatan, pendidikan, pelayanan sosial.
 
“Dalam penalaran bukan hanya melibatkan unsur otak/akal, tapi juga melibatkan unsur rasa. Jadi ketika berfikir itu bukan hanya pinter, tetapi pinter yang berempati dan etika welas asih. Jadi pinternya bukan untuk menipu atau pintar hanya untuk diri sendiri. Tetapi pinter dan rasa yang memberi perdamaian, kesejahteraan dan membangun peradaban," jelas Syamsiatun.
 
Sehingga melalui pemahaman semacam itu, kesholehan mewujud sebagai gerakan yang membebaskan dan memberdayakan umat disekelilingnya. Menurutnya, Dahlan dalam hidupnya berorientasi pada tiga aspek yakni pikir, rasa dan karya. Orientasi tersebut tercermin dalam sosok Dahlan yang memiliki nalar kreatif. 
 
Menurutnya, Islam berkemajuan abad kedua, Muhammadiyah harus melakukan perluasan ijtihad, jihad dan cakupan area yang dari persoalan ibadah, ke persoalan sosial dan moralitas publik. Dalam bidang ilmiah atau intelektual, Muhammadiyah penting untuk melakukan reproduksi, inovasi dan distribusi pengetahuannya melalui sistematika yang runtut dan jelas. Juga melakukan adopsi potensi kemanusiaan dan peradaban melalui pendekatan bayani, burhani dan irfani. Serta melakukan pemaknaan ulang dan relevansi visi umat yang unggul.
 
Dengan gayanya yang khas, Zuly Qodir berkelakar bahwa Muhammadiyah atau ‘Aisyiyah akan hilang atau musnah dari peradaban jika diurus oleh orang-orang yang tidak memiliki keikhlasan. Sebagai suluh peradaban, Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah memiliki ciri hidup seperti lilin yang mampu menyinari sudut-sudut ruang yang belum tercerahkan. Maka, jika ingin mengurus Muhammadiyah harus dilandasi dengan niat ikhlas, karena tugas pencerahan bukanlah tugas yang ringan.
 
Sebagai langkah konkrit, kehadiran organisasi ini ditengah gulitanya peradaban harus mampu menjadi penerang yang menunjukkan umat kepada jalan kebaikan, kesejahteraan dan kemerdekaan. Sehingga persoalan yang melingkupi masyarakat secara otomatis menjadi urusan Muhammadiyah untuk mengentaskannya, misalnya persoalan tuna susila yang sulit terpecahkan, Muhammadiyah harus hadir dan memberi solusi untuk persoalan tersebut.
 
Dalam konteks kemanusiaan, pria yang aktif di Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah ini menyoroti nilai kemanusiaan yang luruh disebabkan oleh gawai/gadget. Menurutnya, penggunaan media sosial yang melekat di gawai menjadi ‘biangkeladi’ bobroknya kedalaman keberagamaan umat. Karena sajian informasi yang dimuat melalui media sosial sering tidak utuh, dan hanya menyentuh pada persoalan-persoalan dangkal, serta bukan substantif.
 
Meskipun demikian, Muhammadiyah perlu untuk mewarnai dakwah melalui media sosial. Ia beralasan karena saat ini sasaran dakwah juga tersebar melalui media sosial. Namun yang harus menjadi pembeda antara dakwah virtual yang dilakukan oleh Muhammadiyah dengan yang lain adalah Muhammadiyah harus lebih mendalam dan mencerahkan. Mengomentari komposisi da’i yang saat ramai di media sosial, Zuly Qodir mengaku Muhammadiyah masih tertinggal dengan masifnya dakwah yang dilakukan oleh yang lain.
 
Kembali kepada inklusifitas dakwah, selain dakwah kepada kelompok minoritas dan tertindas. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sudah harus berani melakukan perluasan dakwah kepada isu-isu lingkungan atau ekologis. Persoalan lingkungan sering menjadi pokok masalah yang menimbulkan permasalahan yang lain. Misalnya kemiskinan, penindasan secara terstruktur dan lain sebagainya. Maka dalam hal ini peran perempuan berkemajuan ditunggu aksinya untuk pelestarian lingkungan. Karena yang mengalami dampak paling awal dan mendasar dari kerusakan lingkungan adalah kelompok perempuan. (a'n)
Shared:
Shared:
1