Muhammadiyah Harus Menjadi Juru Damai

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 05 Maret 2020 12:03 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA - Sebelum Muhammadiyah berdiri tahun 1912, KH. Ahmad Dahlan sebagai pendirinya telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka bekerjasama dengan berbagai kelompok masyarakat dalam misi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Memberi pangan pada masyarakat yang kelaparan. Memberi kebutuhan pendidikan pada anak yang terlantar. Memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat yang membutuhkan. Demikian ungkapan Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad saat ditemui di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah jl. Cikditiro pada Rabu (5/3).

“KH. Ahmad Dahlan adalah tokoh yang serius mengusung moderasi, washathiyah, bergumul langsung dengan unsur-unsur masyarakat. Walau pun penegasan kepribadian Muhammadiyah secara tertulis baru ada sekitar tahun 60-an, namun jiwanya telah ada sejak awal kelahirannya,” tutur Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati ini.

Menurut Dadang, Muhammadiyah sebagai gerakan yang notabenenya Islam, dapat bergandengan tangan dengan sebuah organisasi yang berbasis nasionalis yaitu Budi Utomo. Sebagai organisasi yang mempunyai pandangan netral terhadap agama, Budi Utomo turut mendukung berdirinya Muhammadiyah ini. Selain dengan Budi Utomo, Muhammadiyah juga sering mengadakan dialog lintas mazhab bahkan lintas agama dengan tokoh-tokoh kunci Katolik.

“Kita selalu berusaha menjaga keharmonisan baik dalam berbangsa maupun dalam beragama. Karena itu, sebagai warga Muhammadiyah, kita tidak boleh mengklaim bahwa kelompok kita yang paling benar. Walaupun misalnya keyakinan itu ada, tapi tetap harus kasih penuh dengan sayang, dalam artian tidak diskriminatif terhadap siapapun, tidak memandang rendah orang yang berbeda keyakinan dan kepercayaan,” ujar Dadang.

Dadang juga mengatakan bahwa sekiranya ada pihak yang mengusik persatuan, tugas utama yang perlu dilakukan adalah menjadi juru damai. Dadang mengutip QS. Al-Hujurat ayat 9-10 ditegaskan bahwa segala bentuk perselisihan di antara umat manusia hendaknya didudukkan secara adil serta diupayakan jalan keluarnya yang paling baik dan bisa diterima oleh pihak-pihak yang terlibat.

“Ayat Quran jelas bahwa kita harus melerai perselisihan. Artinya, sebagai warga Muhammadiyah jangan menjadi sumber konflik. Artinya tidak menjadi agen adu domba, itu yang pertama. Yang kedua, jangan membiarkan orang lain konflik. Warga Muhammadiyah harus jadi penengah. Ini ajaran wasathiyyah Muhammadiyah sejak dulu,” tegas Dadang.

Dadang kemudian mengutip QS. Al-baqarah ayat 224 yang menegaskan bahwa berbuat untuk mendamaikan terhadap suatu pertengkaran itu lebih baik bagi segenap umat Islam. Ayat ini menurut Dadang juga bisa dijadikan sebagai landasan untuk menjadi agen pemersatu bangsa.

“Kalau saya pake teori, orang-orang yang moderat, selalu ingin damai, tanpa diskriminasi, menghargai keragaman, selalu berukhuwah adalah cerminan dari universal ethic. Artinya tidak membeda-bedakan orang, hanya karena perbedaan keyakinan suku bangsa, keyakinan, warna kulit dsb,”jelas Dadang.

Sementara itu Dadang menjelaskan bahwa prinsip yang perlu untuk dipegang ketika ada pihak-pihak yang mengusik dan memecah persaudaraan adalah dengan sabar. Sabar dalam konteks ini menurut Dadang adalah tidak ikut terpancing untuk membuat kegaduhan yang lebih besar, sambil berusaha mencari jalan keluar dengan cara yang paling bermartabat.

“Kalau ada orang jahil yang memprovokasi, abaikan saja. Dalam QS an Nahl ayat 126 juga dikatakan bersarbar itu lebih baik. Kalau kita melayani mereka yang suka konflik dan permusuhan, berarti kita sama dengan mereka. Sebagai manusia yang diberi kecerdasan oleh Alllah, kita harus tetap berpegang pada universal etik atau ukhuwah insaniyyah,” kata Dadang.

Bagi Dadang, segenap bangsa Indonesia mestinya bersyukur oleh Allah ditakdirkan hidup di sebuah negara yang plural, berbagai macam aliran. Hanya sedikit negara-bangsa yang serumit Indonesia dari segi keragaman. Di negara ini, ada berbagai suku, ras, agama, sekte, mazhab, tarekat, dan lain-lain. Muhammadiyah dan NU memiliki peran yang luarbiasa sebagai benteng pertahanan Indonesia dalam melerai berbagai konflik horizontal di tengah masyarakat.

“Persatuan tidak harus sama. Justru kalau sama, tidak perlu kita membangun toleransi. Adanya konsep toleransi, karena adanya perbedaan-perbedaan itu. Kalau ada penyeragaman secara paksaan, yang ada bukan damai malah konflik. Kita diciptakan dengan kehendak, keinginan dan pikiran yang berbeda-beda. Yang diperlukan dengan adanya perbedaan itu sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 adalah lita’arafu, saling memahami,” pungkas Dadang. (ilham)

Shared:
Shared:
1