Belajar Merawat Ukhuwah dari Tokoh Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 04 Maret 2020 16:16 WIB

Oleh: A’n Ardianto

Mengutip Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir di acara salah satu stasiun televisi swasta, bahwa terdapat tiga ciri yang membuat bangsa ini retak. Pertama, sikap sembrono dari masyarakat ataupun elite bangsa. Kedua, sistem yang luruh dan lemah, dan ketiga adalah nilai-nilai berbangsa yang tidak dipahami maksudnya secara mendalam dan hanya dihafal.

Kekinian, ketiga ciri tersebut seakan melekat semakin kuat dan dianggap menjadi kebenaran publik. Karut-marut cara berbangsa yang dilakukan oleh sebagian elit merambat sampai kebawah, masyarakat umum. Sistem hukum menjadi abu-abu. Indonesia sebagai negara yang pondasinya terdiri dari nilai luhur budaya bangsa dan agama. Seakan tidak berdaya menahan terpaan disebabkan ego sektoral.

Sehingga, memunculkan pertanyaan, sampai kapan kita akan mau dikoyak, diguncang atau bahkan dikecoh oleh ego sektoral yang berpotensi membuat pecah sesama anak bangsa? Bukankah negara ini berdiri di atas kebhinekaan yang ditopang diatas kesepakatan untuk bersatu-padu, sebagai negara Darul Ahdi Wa Syhadah atau juga boleh disebut sebagai Darus Salam. Karena Indonesia sebagai negara yang damai dan normal tidak terjajah.

Soekarno mengatakan, “perjuangan ku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan saudara sendiri.” Sebuah pesan mendalam yang dilontarkan Bapak Proklamator Bangsa yang harusnya dipatri dan diindahkan bagi siapasajayang mengaku dirinya sebagai bangsa Indonesia.

Dalam dinamika bernegara, apalagi perkumpulan yang memiliki jumlah pengikut begitu banyak, tentu tidak bisa memungkiri adanya ‘riak’, namun hal tersebut dapatlah dikatakan wajar. Namun hal yang tidak boleh dilupakan bahwa negara ini memiliki modal sejarah yang panjang dalam membangun dan menggalang persatuan.

Sehingga, dalam menghadapai persoalan lebih baik mengedepankan prinsip umum dalam resolusi konflik yakni don’t fight, solve the problem.

Ketua PP Muhammadiyah ke 10, KH Abdur Razaq Fachruddin semasa hidupnya sering menggunakan prinsip ini dalam menyelesaikan persoalan disekelilingnya. Misalnya ketika ada Pemuda Cina non-muslim yang meminta ke Pak AR untuk mensholati jenazah bapaknya.

Dikisahkan, ketua Takmir Masjid Ngabean mendatangi Pak AR untuk meminta pendapat dan solusi terhadap permintaan pemuda non-muslim yang meminta jenazah untuk disholatkan. Almarhum bapaknya yang selama hidup banyak membantu masjid dan dikenal sebagai orang yang baik, membuat takmir masjid ‘pekewoh’ atas permintaan tersebut. Namun persoalan tersebut selesai di tangan Pak AR, serta diterima dua belah pihak.

“Baik, turuti permintaan orang cina itu. Nanti disholatkan berbarengan dengan sholat ashar.” Kata baik yang sekaligus turut datang untuk takziyah dan sholat di Masjid Ngabean. Pak AR meminta peti jenazah tersebut dimasukkan ke masjid dan diletakkan di samping jamaah sholat asar. Namun seusai sholat, pemuda tersebut menanyakan terkait posisi jenazah saat ‘disholati’.

“Kenapa cara mensholati ayah saya berbeda dengan biasanya. Bukankan jenazah diletakkan di depan orang sholat, bukan disampingnya ?” tanya pemuda tersebut ke Pak AR. Dengan lembut Pak AR menjawab, “Ini jenazah istimewa nak, jadi cara mensholatinya berbeda dengan mensholati orang Islam.” Kemudian pemuda tersebut mangut-mangut dan menerima penjelasan Pak AR dengan lapang dada.

Cara-cara tersebut merupakan ikhtiar Pak AR dalam menjawab persoalan, tapi tetap dengan mengedepankan islah dan tidak menyakiti pihak lain. Hubungan harmonis para tokoh Muhammadiyah bukan hanya dijalin dengan non-muslim, terlebih dengan sesama muslim tokoh Muhammadiyah bersahabat bahkan dijalin dengan sangat rekat.

Misalnya, persahabatan antara Habib Chirzin dengan mantan Ketua Umum PBNU, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebagai tokoh Muhammadiyah, Habib Chirzin mengakui kehebatan Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur ibarat sosok penyatu kerukunan umat beragama. “Saya tidak bisa membayangkan Indonesia seperti sekarang ini dalam keharmonisan antara umat beragama, nasionalisme, dan keindonesiaan bahkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa sentuhan dan perawatan Gus Dur. Dan keharmonisan itu lah hasil tanaman nilai nilai yang disemaikan oleh Gus Dur,” ungkapnya.

Juga kisah antara Bambang Pranowo, yang saat itu menjabat sebagai ketua GP Anshor (NU) di Kecamatan Sawangan Magelang. Guru Besar IAIN Jakarta dan mantan Rektor Universitas Mathla’ul Anwar dulu ketika masih aktif di Anshor sering diminta Pak AR untuk menggantikannya dibeberapa tempat ketika Pak AR berhalangan untuk menghadiri. Selain itu, mahasiswa yang pernah ngekos di rumah Pak AR saat itu juga kader muda NU, yakni Syaefudin (Simon) Zuhri dan Rizal.

Shared:
Shared:
1