Tidak Ada yang Harus Dipertentangkan antara Keislaman dan Keindonesiaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 03 Maret 2020 17:03 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SIDOARJO - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Selasa (3/3) menghadiri seminar pra Muktamar 48 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA).

Tema seminar pancasila sebagai  Dar al-Ahdi Wa asy Syahadah sengaja diangkat dalam seminar ini untuk memberi penyegaran pemahaman, khususnya umat islam dan warga bangsa bahwa Muhammadiyah melampaui dari organisasi islam yang lain, telah merumuskan posisi dan sikap islam tentang Indonesia melalui konsep Pancasila sebagai  Dar al-Ahdi Wa asy Syahadah.

"Muhammadiyah memandang bahwa antara keislaman dan keindonesiaan itu tidak ada sesuatu yang harus dipertentangkan, jadi setelah Indonesia itu kita proklamasikan dan kita merdeka oleh para pendiri bangsa, sesungguhnya itu merupakan konsep konsensus nasional yang di dalamnya mayoritas muslim bersepakat menjadikan NKRI itu dasarnya Pancasila," jelas Haedar.

Haedar menuturkan bahwa ada perdebatan sebelumnya antara Islam dan Pancasila, tetapi lewat piagam Jakarta kemudian terjadi titik temu. Di mana sila-sila Pancasila itu bagi umat Islam sejalan dengan islam dan juga mewadahi aspirasi umat Islam.

Karena itu umat islam Indonesia saat ini dan kedepan sampai kapan pun tidak boleh lagi berfikir dua hal. Satu, menjadikan Indonesia sebagai Negara agama, baik Islam maupun agama lain.

"Karena kita sudah bersepakat bahwa Indonesia itu dasarnya pancasila, dan pancasila sejalan dengan agama, lebih-lebih dengan Islam," imbuh Haedar.

Dalam konteks ini maka menjadi hal yang paradoks jika ada hal yang mempertentangkan antara Islam dan Pancasila, atau antara Pancasila dengan agama, karena para pendiri bangsa kita sudah menyelesaikannya.

Kedua, jangan juga Indonesia dijadikan Negara yang sekuler atau berideologi lain yang bertentangan dengan pancasila.

"Dengan komitmen ini inshaallah kita tidak akan lagi mengalami dan melakukan perdebatan-perdebatan teologis atau ideologis, yang menyangkut antara agama, Islam, dan Pancasila. Kepentingan kita kedepan kalau sudah selesai dengan teologis, dan ideologis, maka kita menjadikan Indonesia ini sebagaimana cita-cita yang diinginkan oleh para pendiri bangsa. Yakni menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu dan berdaulat adil dan makmur, dalam bahasa Muhammadiyah sebagai Negara yang berkemajuan di berbagai aspek kehidupan. Kalau kita proyeksinya kesitu, kita kedepan akan mengerahkan seluruh energi kolektif bangsa ini,” jelasnya.

Yang terakhir, bagi pemerintah harus jadi acuan juga bahwa dasar Pancasila itu sudah kesepakatan nasional, integratif dengan agama bahkan dengan budaya luhur bangsa.

“Karena pancasila lahir dari serapan agama dan budaya luhur bangsa. Sekaligus seluruh penyelenggara Negara juga harus mengintegrasikannya. Untuk itu maka para pejabat Negara sudah tidak boleh lagi lah berbicara tentang pertentangan antara agama dan Pancasila. Karena selain menunjukkan ketidakpahaman, juga akan memancing kembali konflik ideologi,” pungkasnya.

Shared:
Shared:
1