Kerja-Kerja Muhammadiyah untuk Kemanusiaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 02 Maret 2020 10:41 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SLEMAN-- Muhammadiyah sebagaimana melalui tangan-tangan jeli dan kreatif pengurus, majelis, tokoh dan fasilitator diharapkan terus berkreasi untuk mendampingi komunitas rentan disekelilingnya.

Menurut Ahmad Ma’ruf, Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyatakan bahwa, Human Investment secara sederhana dipahami sebagai cara untuk membantu berdaya kelompok rentan melalui cara-cara kreatif.

“Nilai kemanusiaan secara sederhana bisa dilakukan oleh siapapun. Muhammadiyah berkiprah untuk kemanusiaan yang lebih luas, salah satunya bersahabat, ngopeni kelompok minoritas, rentan termasuk didalamnya difabel,” ungkap Ma’ruf saat ditemui diselah acara Pelantikan Pengurus Koperasi Simpan Pinjam Bangun Akses Kemandirian (KSP Bank) Difabel, Ngaglik pada Ahad (2/3) di Sleman.

Muhammadiyah diusianya yang masuk abad kedua diharapkan tetap memperhatikan kelompok tertindas atau minoritas. Ma’ruf menguraikan bahwa, pendampingan yang dilakukan oleh Muhammadiyah melalui MPM, merupakan langkah yang seimbang, sejalan dengan sejarah kehadirannya.

Sebagai model, kelompok dampingan MPM, KSP Bank Difabel menurutnya sudah on the track. Dibuktikan dengan konsistensi yang selama ini mereka jalankan, dari sisi organisasi dampingan ini telah melakukan kaderisasi pengurusan, dalam bisnis juga mengalami trend positif, karena omset yang mereka miliki terus mengalami peningkatan.

“Sekarang adalah waktunya untuk skill up, yaitu menguatkan kemampuan mereka biar semakin dipercaya. Sebagai indikator kepercayaan tersebut adalah dengan bertambahnya jumlah anggota,” tuturnya.

Selain itu, indikator perbaikan bisnisnya adalah dengan semakin sejahteranya pengurus dan anggota kelompok. Dibentuknya kelompok dampingan merupakan kepanjangan aksi dari dakwah jama’ah. Hal ini dimaksudkan sebagai langkah penguatan kelompok rentan.

Melihat pembagunan yang terus ‘berlari’, Ma’ruf menyarankan untuk kepada kelompok rentan dampingan MPM, khususnya yang bergerak pada sektor produksi supaya bisa memanfaatkan momen tersebut, dan jangan sampai ditinggalkan oleh zaman. Misalnya terkait dibukanya Bandara baru di Kulonprogo, supaya produk dampingan bisa masuk menjadi barang yang dijual di sana.

Sebelum masuk ke pasar-pasar kelas menengah-atas, produk dari kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) harus dinaikkan standarnya. Bisa dimulai dengan menaikkan standar SDM yang mengelola, dan standarisasi produk supaya bisa melewati proses kurasi oleh penyelenggara.

Dalam konteks kemanusiaan, kelompok petani sebagai matapencaharian mayoritas masyarakat Indonesia sampai saat ini masih tergolong sebagai masyarakat rentan, khususnya pada petani pengarap. Serta tidak lupa kepada kelompok nelayan yang kesejahteraannya masih jauh dari angan yang diharapkan. (a’n)

Shared:
Shared:
1