Muhammadiyah Harus Tampil Berani Hadapi Serangan Pemikiran

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 27 Februari 2020 14:44 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL — Keberadaan Guru Besar di Universitas Muhammadiyah harus memiliki dampak signifikan dan postif terhadap umat. Terlebih Guru Besar bidang Ilmu Agama Islam, keberadaannya harus bisa menjembatani kutub puritan dengan moderat yang keduanya memiliki arus di Muhammadiyah.

Singgung Agung Danarto, Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Yogyakarata (UMY) dalam sambutannya di acara Penyerahan Surat Keputusan Guru Besar dan Pengarahan oleh LLDikti pada Kamis (27/2) di UMY.

Pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammadiyah jangan sampai ‘mandhek’, dahulu yang dilakukan oleh Muhammadiyah untuk kehidupan umat dan bangsa dianggap sebagai suatu yang asing dan baru di zamannya. Kini, sesuatu tersebut telah banyak direplikasi oleh yang lain, sehingga jika yang dilakukan Muhammadiyah sama dengan yang dahulu, lalu dimana letak pembaharuannya.

Hal tersebut wajar ditanyakan, menurut Agung, Muhammadiyah di abad pertama banyak melakukan pembaharuan yang kebanyakan adalah mengadopsi dari Barat yang diinternalisasi dengan nilai-nilai Islam dan melahirkan pemikiran, serta bentuk-bentuk amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang di masa itu belum banyak organisasi muslim miliki.

“Inovasi Muhammadiyah abad pertama lebih cenderung kepada pola yang ada di Barat dan diinternalisasi dengan nilai Islam. Sehingga, tidak heran di masa awal, orang-orang Muhammadiyah di cap sebagai kafir,” tuturnya.

Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini menegaskan, Muhammadiyah tidak boleh takut atau berkecil hati dalam menghadapi serangan pemikiran yang ramai saat ini. Ia menekankan bahwa, Muhammadiyah harus berani dan gentel menghadapi serangan-serangan tersebut. Tidak boleh minder, melainkan harus disodorkan dengan argumen yang baik, tertaur dan memiliki rujukan yang kuat.

“Reaksi yang anti dialog, kemudian tidak berani ketemu dengan kelompok yang berbeda itu mengkhawatirkan untuk Muhammadiyah. Karena itu akan menjadi gerakkan yang jumud, gerakan yang tidak berani berhadapan dengan realitas,” kata Agung.

Memetakkan aliran kelompok puritan dan modernis di Muhammadiyah, Agung mengidentifikasi bahwa kelompok puritan lebih cenderung kepada mereka yang berada di Pondok Pesantren, Ma’had yang berada di Perguruan Tinggi Muhammadiyah(PTM). Dan kelompok modernis yang lebih cenderung berada diseperti Universitas dan Sekolah Tinggi.

Meskipun demikian, peta tersebut bukan suatu yang ‘dipatok mati’. Karena sering juga terjadi anomali pada dua lembaga pendidikan tersebut.

Menyinggung terkait pengukuhan Guru Besar yang ada di UMY, Agung bersyukur karena ada dua Guru Besar yang dikukuhkan adalah professor di bidang Ilmu Agama Islam. Keberadaan Guru Besar tersebut diharapkan bisa menjadi jembatan corak pemikiran puritanisme dan moderinsme yang berada di Muhammadiyah.

“Kalau kelompok lain hanya berhenti pada pengertiaNar ruju’ ila qur’an wa sunnah. Tapi Muhammadiyah masih ada tambahannya yakni menggunakan akal pikiran yang sejiwa dengan ajaran Agama Islam. Maka bagi orang Muhammadiyah tidak cukup hanya memahami ayat/teks, tetapi juga melakukan afirmasi terhadap berbagai macam konsep ilmu pengetahuan dan hasil pemikiran kontemporer,” urai Agung.

Adanya professor baru di perguruan tinggi Muhammadiyah, Agung berharap kepada mereka supaya bisa mengisi ruang kosong yang dibutuhkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah dalam melakukan pembaharuan di abad kedua.

“Pembaharuan di abad kedua tidak hanya dalam bidang eksakta, sains, dan teknologi tetapi dalam bidang sosial dan pemahaman agama Islam. Sehingga bisa mengangkat Indonesia menjadi sebagai negeri yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur,” tutup Agung. (a'n)

Shared:
Shared:
1