Pesan Penting dalam Film Jejak Langkah Dua Ulama Bagi Generasi Muda

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 25 Februari 2020 18:36 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA- Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga (LSBO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan soft launching film Jejak Langkah Dua Ulama di Ampli Theater kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Selasa (25/2). Film tersebut merupakan garapan LSBO PP Muhammadiyah bekerjasama dengan Pondok Pesatren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Setelah pemutaran film yang disutradarai oleh Sigit Ariansyah ini, perwakilan dari Pesantren Tebu Ireng Agus Muhammad Mughni turut memberikan testimoni setelah menyaksikan film Jejak Langkah 2 Ulama.

“Sangat terharu melihat film yang menceritakan dua ulama besar Nusantara KH. Hasyim dan KH. Dahlan ini. Dari apa yang disuguhkan dalam film tersebut, setidaknya, betapa dua ulama besar ini, mereka sangat mencintai ilmu terutama agama,” ujar Agus.

Agus mengatakan bahwa KH. Dahlan dan KH. Hasyim merupakan dua ulama yang memiliki sanad keilmuan yang hampir mirip. Keduanya menuntut ilmu tidak hanya di tanah air, namun berdiaspora sampai ke Mekkah. Walau keduanya berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, namun mereka memilih jalan yang berbeda: KH. Hasyim Asy’ari sangat menyukai hadis dan KH. Ahmad Dahlan lebih tertarik pada pemikiran dan gerakan Islam.

“Keduanya satu guru, satu ilmu. Tapi karena diniatkan menyebarkan dakwah nilai-nilai Islam, tak pernah kita menyaksikan kedua ulama kondang kita ini berseteru,” tegas Agus.

Perjuangan dan dedikasi Kh. Dahlan dan KH. Hasyim pada agama dan tanah air telah memberi ornamen baru untuk kemajuan Islam di Indonesia. Dengan demikian, kata Agus, kedua ulama besar ini patut dicontoh generasi penerus.

“Apa yang patut kita tiru dari mereka adalah hormat pada gurunya. Mereka juga mendirikan organisasi besar pada usia yang relatif muda. KH. Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 di usia 44 tahun. KH. Hasyim mendirikan NU tahun 1926 di usia 55 tahun”, jelas Agus.

Muhammadiyah dan NU lahir dari orang-orang besar, yang mempunyai satu tujuan, satu misi, dan dari guru yang sama dengan sumber ajaran Islam yang sama juga yaitu Al-Qur’an dan hadis. Karena itu menurut Agus tidak perlu terlalu diperdebatkan hal-hal yang berkaitan dengan khilafiyah, karena masing-masing kedua ormas ini memiliki argumentasinya.

“Dari film ini saya mendapatkan inspirasi bahwa perbedaan tidak membuat KH. Dahlan dan KH. Hasyim bertengkar, ini yang patut dicontoh! Mudah-mudahan kita bisa meniru akhlak mereka. Ini kesan saya dalam film ini,” pungkas Agus. (ilham)

Shared:
Shared:
1