Puncak Spiritualitas Tertinggi Warga Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 22 Februari 2020 21:44 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, MEDAN — Kita masih beruntung, karena masyarakat di Negara kita masih percaya dengan agama. Sehingga tugas Muhammadiyah tidak terlalu berat, bayangkan jika organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah hidup di Barat. Karena di sana kepercayaan yang mendasar terkait nilai keagamaan dan keTuhanan saja sudah banyak tergerus.
 
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Majelis Tarjid dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syamsul Anwar ketika memaparkan materi Spektrum dan Akar Masalah Kemanusiaan: Perspektif Agama, di acara Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah tahun 2020 di Kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Sabtu (22/2).
 
“Ada fenomena di masyarakat Barat yang harus kita waspadai supaya tidak terjadi pada masyarakat kita. Yang disebabkan tidak percaya agama dan menyebabkan kehilangan makna hidup," ucap Syamsul.
 
Di Barat, hal ini kemudian melahirkan paham baru yang berlandaskan pada etika individualistic dan paham filsafat sosial yang menyebutkan bahwa paham sosial ini tidak boleh bergantung kepada orang lain. Dan memunculkan konsep unproductifberden (keadaan tidak produktif), yakni keadaan dimana manusia sudah tidak produktif lagi dan harus disingkirkan keberadaannya dari struktur atau tatanan masyarakat.
 
Konsep tersebut dilekatkan kepada orang yang sudah lanjut usia (lansia). Kemudian kelompok lansia diminta untuk mengucapkan komitmen bahwa, mereka akan meningalkan dunia yang saat ini dijalaninya. Cara mereka meningalkan dunia bisa melalui beberapa cara, diantaranya adalah dengan cara Euthanasia, atau kematian melalui jalur medis, yang dalam pandangan masyarakat Barat jalur kematian ini dianggap sebagai ‘mati yang terhormat’.
 
“Di sini mungkin masih dianggap asing, tapi ini adalah realitas dan bisa jadi hal ini nanti berlaku juga di negeri kita. Dari itu Muhammadiyah mengusahakan untuk adanya rumah-rumah rawat bagi warga senior. Karena ada diantara mereka ini yang kehilangan makna hidup, karena dia hidup di tengah-tengah keluarga yang sibuk dan seperti dilupakan keberadaannya," urainya.
 
Fenomena ini menjadi tantangan Muhammadiyah kedepan, sehingga diperlukan pengkayaan pengetahuan agama untuk meninjau dan menjawab, serta mengelola persoalan kemanusiaan. Dengan demikian Muhammadiyah harus mengembangkan spiritualitas baru disamping yang saat ini telah ada, yakni berbasis etika asih. 
 
Basis etika tersebut adalah etika keterlibatan, maka bagi warga Muhammadiyah puncak spiritualitas tertinggi adalah dengan berlaku dan terlibat kedalam urusan persoalan kemanusiaan yang diwujudkan menjadi amal usaha.
 
“Bukan etika intensi, yang mementingkan kesucian batin dan hidup secara mengasing, dan memandang dunia sebagai suatau yang jahat dan buruk. Sehingga spiritualitasnya terbebas dari dunia ini. Ini berbeda dengan etika yang dipahami oleh Muhammadiyah, sehingga Muhammadiyah hidup semakin panjang dan gerakkannya bukan semakin menyempit, namun semakin melebar," tuturnya.
 
Menyambung yang disampaikan Syamsul, Fifi Theresia Mahaputri, Direktur Pelayanan Medis RSIJ Sukapura Jakarta Utara mengulas data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 bahwa, 8,9% dari jumlah penduduk Indonesia terdiri dari 47,48% lansia laki-laki dan 52,52% adalah lansia perempuan, yang tersebar sebanyak 49,64% di kota dan 50,36% hidup di desa. Maka Muhammadiyah sebagai gerakkan layanan sosial, dalam melihat data ini tidak boleh diam.
 
Sehingga Muhammadiyah mencoba melakukan ikhitar untuk mengurangi problematika sosial lansia melalui pendekatan pelayanan di luar panti yang dikemas dengan istilah Muhammadiyah Senior Care. Pendekatan ini bertujuan untuk peningkatan kualitas kesehatan lansia, peningkatan pengetahuan dan keterampilan kepada keluarga dan lingkungan, dan diharapkan terbentuknya keluarga ramah lansia. (a'n)
Shared:
Shared:
1