Fatmawati: Perempuan Muhammadiyah Pengawal Revolusi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 22 Februari 2020 11:17 WIB

Oleh: Affandi

Fatmawati binti Hassandin tidak hanya berjasa dalam menjahit Sang Saka, bendera pertama Republik Indonesia. Tetapi juga seorang ibu negara yang tangguh dalam menjaga bara api perjuangan sang suami, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Soekarno untuk tetap menyala dalam masa-masa sulit di bawah penindasan Jepang, masa menuju kemerdekaan, hingga masa-masa sulit mempertahankan kemerdekaan di bawah serangan Agresi Militer Belanda 1 dan 2.

Keluarga Aktivis Militan Muhammadiyah

Meskipun gerak dakwah Muhammadiyah di Sumatera secara resmi baru ditetapkan pada 1925 melalui pendirian Cabang Muhammadiyah pertama di Maninjau oleh AR Sutan Mansur, secara kultural dakwah Muhammadiyah ditengarai telah sampai di pulau Sumatera beberapa tahun sejak kelahirannya pada 1912 di Yogyakarta.

Salim dan Hardiansyah dalam Napak Tilas Jejak Muhammadiyah Bengkulu (2019) mencatat secara kronik, jejak kultural dakwah progresif yang kelak menjadi cikal bakal Muhammadiyah telah sampai di Bengkulu pada 1915 oleh para pendakwah Islam dari Minangkabau.

Saat Fatmawati lahir pada 5 Februari 1923, Muhammadiyah belum memiliki cabang resmi di luar Jawa. Tetapi, antara tahun tersebut hingga 1925 saat kedatangan seorang nasionalis pendiri Sarekat Ambon Alexander Jacob Patty di Bengkulu untuk menjalani masa pembuangannya, ditengarai sebagai tahun berdirinya Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi pergerakan di Bengkulu.

Dalam otobiografi Fatmawati, Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1985) Muhammadiyah ketika itu langsung memanfaatkan kehadiran AJ Patty untuk turut berkiprah dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah yang segera dianggap pemerintah kolonial Belanda sebagai ancaman.

Keputusan Muhammadiyah Bengkulu itu mengakibatkan ayah Fatmawati, Hassandin yang merupakan pegawai perusahaan lima besar Belanda bernama Borsumy (Borneo-Sumatera Maatschappij) sekaligus menjabat sebagai sekretaris Muhammadiyah dituntut oleh pemerintah kolonial untuk memilih satu di antara dua pilihan: keluar dari Borsumy atau menghentikan kegiatannya di Muhammadiyah yang seringkali konfrontatif terhadap pemerintah seperti rapat atau mengadakan arak-arakan yang berujung di kantor polisi.

Suasana tanah air pada 1923-1930 yang subur oleh pergerakan nasional membuat Hassandin tidak berpikir panjang untuk keluar dari Borsumy—yang menyediakan jaminan hidup layak dan memulai hidup dengan pendapatan tak menentu atas keputusannya untuk tetap berkhidmah pada Muhammadiyah sebagai jalur perjuangan kemerdekaan.

Tak kalah dengan Hassandin yang terkenal militan pada Muhammadiyah, ibu Fatmawati Siti Chadijah aktif di dalam ‘Aisyiyah guna memberikan ketrampilan atau mengajar baca tulis. Saat Fatmawati menginjak usia remaja, baik Hassandin maupun Siti Chadijah telah menjabat sebagai konsul Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Oleh keduanya, Fatmawati selalu dilibatkan dalam konferensi Muhammadiyah yang digelar setiap tahun untuk menyanyi atau membaca Al-Qur’an.

Menjadi Istri Proklamator

Sejak Fatmawati lahir hingga dewasa, kesulitan ekonomi sama sekali tidak menghentikan laju khidmat Fatmawati dan kedua orangtuanya untuk menghidupkan Muhammadiyah. Saat Soekarno diasingkan di Bengkulu bersama istrinya Inggit Garnasih pada 1938, Fatmawati yang terpaksa berhenti sekolah dasar tingkat 5 tetap giat dalam organisasi Nasyi’atul ‘Aisyiyah.

Kedatangan Soekarno yang berkawan dengan Hassandin menjadi perantara bagi Fatmawati untuk bertemu dengan Pastor Cobben—yang menjamin pembiayaan sekolah Fatmawati di Sekolah Katolik.

Sosok Fatmawati yang sopan, cerdas, dan pandai dalam bernyanyi membuat dirinya mendapatkan peran langka di Sekolah Katolik itu untuk memerankan Bunda Maria pada perayaan Natal 24 Desember 1988—sekaligus menyanyikan kidung Natal Stille Nacht—yang disaksikan langsung dan disambut baik oleh para pastor, suster, Soekarno, Inggit, dan kedua orangtuanya yakni Hassandin dan Siti Chadijah.

Menginjak usia 17 tahun, Soekarno dengan membawa alasan 18 tahun pernikahan bersama Inggit tidak memberikan keturunan memberanikan diri melamar Fatmawati yang segera dijawab dengan persyaratan bahwa sebagai perempuan Muhammadiyah, Fatmawati tidak mau dipoligami.

Atas alasan tersebut, Soekarno harus bersabar selama tiga tahun untuk menceraikan Inggit Ganarsih secara baik-baik dengan perundingan dan bantuan para sahabatnya terutama Hatta, Ki Hadjar Dewantoro, pengurus pusat Muhammadiyah Kyai Mas Mansyur hingga tokoh Muhammadiyah Bengkulu Oey Tjeng Hien.

Setelah urusan dengan Inggit selesai, pada tahun 1943 pernikahan melalui wali pun dilaksanakan antara Fatmawati yang berada di Bengkulu dengan Soekarno yang berada di Jakarta.

Mengawal Sang Saka Revolusi

1 Juni 1943 Fatmawati bersama kedua orangtuanya mulai tinggal di Jakarta. Mereka tinggal di kediaman Kyai Mas Mansyur hingga pekan kedua sebelum berpindah ke rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56.

Tinggal di sana, Fatmawati mulai menjalani hidup sebagai istri pejuang revolusi. Dirinya mulai berkenalan dengan berbagai tokoh nasional seperti Hatta, Radjiman, Ki Hadjar, Syahrir hingga para perwira tinggi kemiliteran Jepang yang dekat dengan Soekarno seperti Jenderal Yamamoto dan Laksamana Maeda.

Fatmawati mencatat saat usia kandungan anak pertamanya—Muhammad Guntur Soekarno Putra—berusia sembilan bulan di antara Oktober-November tahun 1944, seorang perwira Jepang datang ke rumahnya membawa dua kain warna bendera Jepang, merah dan putih, yang segera ia jahit sebagai bendera yang kelak dikenal sebagai bendera Indonesia.

Fatmawati menjadi saksi pidato lahirnya lima sila (Pancasila) oleh Soekarno dalam sidang PPPK (Panitia Penyelidik Persiapan Kemerdekaan) Indonesia pada 1 Juni 1945. Saat momentum kemerdekaan dirasakan sudah dekat, bersama putra pertamanya yang masih bayi Muhammad Guntur Soekarno Putra Fatmawati dan Soekarno diamankan oleh para pemuda dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia di Rengasdeklok.

Pada hari Jum’at bulan Ramadhan 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan dibacakan. Bendera yang dijahit oleh Fatmawati lebih dari delapan bulan sebelumnya akhirnya dikibarkan pertama kali diiringi lagu Indonesia Raya.

Penghargaan Pada Ibu Bangsa Indonesia

Ujian berat Fatmawati dan Soekarno justru dimulai setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Usaha-usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia diuji secara berat di tengah-tengah peperangan hingga selesainya Agresi Militer II pada akhir tahun 1948.

Setelah kelahiran anak kelimanya, Mohammad Guruh Soekarno Putra, Fatmawati berpisah dengan Soekarno seiring berita bahwa Soekarno hendak memperistri Hartini. Fatmawati setia pada janjinya bahwa perempuan Muhammadiyah tidak mau dipoligami. Fatmawati juga terus berkiprah bagi pengembangan dakwah Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Dari pernikahan dengan Soekarno, ia dikaruniai lima anak, tiga diantaranya adalah perempuan yakni Megawati Soekarno Putri, Rachmawati Soekarno Putri dan Soekmawati.

Atas jasanya terhadap revolusi kemerdekaan, 4 November 2000 Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid melalui Keppres Nomor 118/TK/2000 menetapkan Fatmawati sebagai Pahlawan Nasional.

Bertepatan dengan hari lahirnya, 5 Februari 2020 Presiden Republik Indonesia Joko Widodo juga meresmikan patung Fatmawati Soekarno karya pemahat Garuda Wisnu Kencana I Nyoman Nuarta di Simpang Lima Ratu Samban, Bengkulu. Patung dari tembaga setinggi 7 meter itu rencananya akan dikembangkan sebagai ikon kota Bengkulu.

“Monumen ini menjadi penanda bukti hormat kita atas perjuangan beliau Ibu Fatmawati. Mengingatkan kita semua anak-anak bangsa generasi penerus untuk meneladani sikap kenegarawanan Ibu Fatmawati. Memotivasi bangkitnya sikap-sikap kepahlawanan, rela berkorban untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” tutur Presiden Joko Widodo dalam kesempatan tersebut.

Shared:
Shared:
1