Muhammadiyah dan Upaya Persatuan Sepak Bola Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 21 Februari 2020 12:22 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Meski dikenal sebagai organisasi Isalam sosial kemasyarakatan yang bergerak dan memiliki concernt dalam bidang pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial bagi mereka yang megalami ketretindasan. Namun Muhammadiyah juga bergerak dalam peninggkatan mutu dan prestasi di kancah dunia sepak bola tanah air.

Menurut berita yang dilangsir dari Bola.com, pada Kamis (20/2) terdapat 4 klub Liga Indonesia yang menjalin kerjasama dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Diantaranya ada PSS Sleman, yang bekerjasama dengan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) tahun 2019, PSIM Yogyakarta yang menjalin kerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tahun 2018, Arema yang bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2018, dan terbaru adalah Persebaya Surabaya dengan Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya tahun 2020.

Selain dalam bentuk komersial, jalinan kerajasama antara klub sepak bola dan PTMA juga terdapat skema kerjasama yang lain, diantara adalah proses transfer pengetahuan, baik dalam bidang manajemen, kebugaran dan fisik pemain yang dipantau melalui perhitungan kesehatan berbasis akademik dan tim kesehatan dari kampus.

Kerjasama yang dilakukan anatara Muhammadiyah yang diwakili Amal Usahanya (AUM) bukanlah suatu yang mengherankan, menginggat Muhammmadiyah di masa awal pembentukan induk organisasi sepak bola Persatuan Sepak Seluruh Indonesia (PSSI) juga didirikan para tokoh Muhammadiyah. Yakni Soeratin Sosrosoengondo dan Abdul Hamid BTN yang keduanya merupakan anggota Muhammadiyah. Bahkan Dasron Hamid, anak dari Abdul Hamid BTN pernah menjabat sebagai Rektor UMY.

Selain nama tersebut, ada lagi pemain Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang berasal dari keluarga Muhammadiyah seperti Djamiat Dalhar dan Maulwi Saelan (kiper legendaris).

Dalam usaha perjuangan kemerdekaan Indonesia, sepakbola menjadi salah satu metode perjuangan yang digunakan. Lahirnya PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) pada 1930 adalah tonggak berdikarinya kaum pribumi terhadap para penjajah dan di sisi lain sebagai perlawanan terhadap federasi sepakbola Hindia Belanda, NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Unie) yang kerap diskriminatif terhadap pesepakbola pribumi.

Selain pembangunan manusia melalui pembentukan organiasai persepakbolaan, Muhammadiyah tidak lupa membangun sarana penunjang untuk meningkatkan mutu pemain saat itu. Seperti pada tahun 1918 bersamaan dengan lahirnya Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PS HW) Muhammadiyah telah memiliki Lapangan Sepak bola pertaman, Lapangan ASRI yang terletak di Jl. HOS Cokroaminoto No.17, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Kini menjadi Klinik Utama Asri Medical Center UMY.

Kedepan, Muhammadiyah harus memiliki perhatian lebih serius dalam dunia sepak bola, karena selain memiliki mata rantai sejarah yang panjang antar keduanya, sepak bola saat ini juga menjadi olahraga yang sangat populer. Artinya, sepak bola menjadi lahan dakwah yang potensial. Seperti yang disampaikan oleh kader Muhammadiyah yang saat ini menjabat sebagai ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DIY, Ahmad Syauqi Soeratno.

Menurut pengalaman Syauqi, dinamika dakwah sepakbola terjadi dengan banyak cara. Seperti ketika dirinya menghilangkan praktik takhayul dan khurafat (jimat) di sepakbola yang melibatkan berbagai latar budaya dan kepercayaan. Sepak bola juga masuk dalam jenis olahraga yang memiliki nilai entertain (hiburan), sehingga bisa memiliki prospek industri. Industri yang masuk dalam lingkaran sepak bola bukan hanya pemodal besar, tapi juga pedagang asongan yang menjual air mineral sampai yang menjual cemilan, tukang parkir, supir angkot, warung kopi pinggir jalan, semua bisa dijajakan dan menemani ketika suporter datang dan pulang.

Selain itu, keberadaan staidon sepak bola yang didesain dengan menarik dan diselenggarakan kegiatan-kegiatan yang atraktif, serta yang memiliki nilai sejarah juga akan menjadi daya tarik masyarakat untuk berbondong-bondong mengunjunginya, hal ini juga bisa menjadi lahan bisnis yang prospektif.

Keterlibatan PTMA dalam persaingan dunia sepak bola nasional, yang berkapasitas sepagai sponsor, harus berdampak positif yang disebabkan kehadirannya. Lebih dari kerjasama dalam sektor komersial dan implementasi akademik. Tapi juga sebagai tempat menyemaikan nilai-nilai luhur. Misalnya kampus yang menjadikan dirinya sebagai rumah kedua bagi suporter fanatik klub, bukan hanya menjadi rumah singgah namun juga sebagai rumah internalisasi nilai dan pemahaman terkait sportifitas dan nilai-nilai luhur perjuangan.

Sehingga tema muktamar ke-48 yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah pada 1-5 Juli 2020 di Solo nanti, bukan hanya menyasar sektor-sektor mainstream. Tetapi juga mencerahkan dan membidik sektor-sektor yang selama ini dianggap di luar jangkauan radar. Maka, sebagai organisasi yang berkeinginan memajukan Indonesai dan mencerahkan semesta, enlightment Muhammadiyah sudah seyogyanya bisa turut dirasakan kelompok masyarakat olah raga. (a'n)

Shared:
Shared:
1