Gelar Seminar Pra Muktamar 48, UMT Kaji Reinvensi Pendidikan Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 15 Februari 2020 13:04 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, TANGGERANG-- Paham multikulturalisme dalam legacy (warisan) sejarah, tradisi dan nilai-nilai di Muhammadiyah memiliki narasi yang panjang sejalan dengan perkembangan Muhammadiyah dari masa ke masa. Oleh KH Ahmad Dahlan, paham multikulturalisme diperlakukan dengan sangat mewah dan berjalan sejajar antara pemikiran, ucapan dan tindakannya.

Hal tersebut disinggung oleh Desvian Bandarsyah, dosen Universitas Prof. Hamka (Uhamka) Jakarta, di Program Studi (Prodi) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial saat memaparkan materi tentang "Pendidikan Multikulturalisme di Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah" dalam Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah ke 48 di Universitas Muhammmadiyah Tanggerang (UMT) pada Sabtu (15/2).

Menurutnya, sikap toleran yang diajarkan dan dipraktekkan oleh KH Ahmad Dahlan harusnya menjadi rujukan keteladanan utama yang autentik dalam menjalani kehidupan yang saling memberi penghormatan, dan penghargaan antar umat beragama di Indonesia, terlebih bagi segenap lapisan warga persyarikatan Muhammadiyah.

"Yang menarik adalah bahwa Ahmad Dahlan merupakan pribadi yang kokoh dengan dua pandangan yang sangat berimbang, dunia dan akhirat yang sejajar. Meskipun bukan pengusung pluralisme ataupun sekularisme, tetapi afiliasi dan keberpihakan nya kepada Islam sangat jelas. Dan menjaga hubungan antara umat beragama sangat baik,” ungkapnya.

Mengutip pandangan Ahmad Dahlan tentang keberadaan dan diadakannya Muhammadiyah, Desvian menegaskan bahwa, Muhammadiyah tidak didirikan hanya untuk orang Muhammadiyah saja, bukan hanya kepada umat Islam saja. Melainkan diadakannya Muhammadiyah adalah untuk semesta dan kemanusiaan universal. Inilah makna autentik dari rahmatan lil alamin

"Ia (Ahmad Dahlan) merupakan pribadi yang cerdas visioner, tidak terkotak-kotak pada paham keagamaan yang sempit,” imbuhnya.

Praktek pendidikan yang bernilai seperti diusung oleh Dahlan, sesungguhnya menjadi bagian integral dari keberadaan sekolah dan guru, rumah dan orangtua, serta kebudayaan dan masyarakat. Sehingga pendidikan di Muhammadiyah memiliki tempat dan nilai pihak yang jelas. Dengan demikian pendidikan Muhammadiyah diperlukan kehadirannya dengan mengadakan kritik dan jika perlu memberikan perlawanan heroik terhadap kondisi dan tuntutan yang cenderung artifisial dan tergesa-gesa.

Ditinjau dari historis dan filosofis, pendidikan Muhammadiyah menurut Ahmad Amarullah, Rektor UMT membuka dengan pernyataan bahwa, Muhammadiyah dan pendidikan adalah dua unsur yang tidak dapat dipisahkan. Karena pendidikan di kaca mata Ahmad Dahlan memang dianggap sebagai pangkal persoalan yang dibaca secara presisi dan visioner.

Penghargaan terhadap pendidikan di Muhammadiyah merupakan relasi logis bagi organisasi Islam ini. Karena di agama Islam secara khusus juga memberikan penghargaan yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga pencerahan adalah tugas yang senantiasa diemban oleh umat Islam di manapun dan kapanpun.

Dalam menghadapi tantangan kedepan dalam dunia pendidikan, Muhammadiyah dengan washatiyah nya tidak boleh latah dan terombang-ambing diatas gelombang revolusi industri yang marak dipromosikan akhir-akhir ini.

"Saya kira, perlu keberanian merumuskan kembali landasan filosofis pendidikan Muhammadiyah. Sehingga dapat meletakkan secara tegas bagaimana posisi lembaga pendidikan Muhammadiyah dihadapan pendidikan nasional, dan kedudukannya yang strategis sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fungsinya sebagai wahana dakwah pencerahan,” pungkasnya. (a'n)

Shared:
Shared:
1