Fenomena Kerajaan Baru, Tanda Tugas Dakwah Pencerahan Muhammadiyah Perlu Digencarkan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 15 Februari 2020 01:55 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Ketua Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Ziyad melihat munculnya berbagai fenomena kerajaan palsu, nabi palsu, hingga paranormal yang mengaku dapat memanggil para malaikat dan nabi sebagai tanda bahwa pekerjaan rumah Muhammadiyah untuk berdakwah masih perlu ditingkatkan.

“Dari aspek teologis menunjukkan lemahnya iman. Sehingga muncul nabi-nabi baru yang dengan mudah menyeret banyak orang untuk percaya,” ungkap Ziyad membuka Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah bertemakan “Fenomena Kerajaan Baru” di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Jumat (14/2).

Selain aspek teologis, Ziyad menyoroti ada aspek sosiologis dan ekonomis yang membuat masyarakat mudah tertipu.  Mendukung Ziyad, Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Iskandar menyampaikan bahwa sebagian besar pengikut kerajaan palsu Kerajaan Agung Sejagad adalah orang yang sudah tua dengan tingkat ekonomi ke bawah dan tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik.

Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yahya Isdiya melihat bahwa secara sosiologis kenestapaan masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi ke bawah mampu menggiring mereka kepada jebakan janji janji mengenai kesejahteraan berbagai kerajaan dan nabi palsu.

“Apalagi secara konteks zaman, masyarakat terbentuk menyukai hal yang instan, ditambah adanya perasaan ketidakhadiran negara pada kenestapaan mereka sehingga kesadaran mereka mudah diekspolitasi. Muhammadiyah harus lebih proaktif untuk menjangkau mereka melalui amal usahanya,” imbuh Isdiya.

Memberikan epilog mengenai fenomena anomali ratu adil, Ketua Umum Pimpinan Pusat berpesan agar para mubalig Muhammadiyah menyikapinya dengan cara paling bijak dan mencerahkan.

“Para mubaligh Muhammadiyah harus menghadirkan Islam yang mencerahkan, juga menghadirkan kepastian nilai dan paham dalam menghadapi segala sesuatu. Sebab agama bukan hanya ilmu. Nilai agama harus sampai ke jiwa. Kedua, di saat masyarakat hilang pegangan, mubalig Muhammadiyah harus menjadi pelita, agama harus menjadi kanopi suci. Tidak cukup menghakimi, tapi juga memberi jalan keluar,” pesan Haedar. (afn)

Shared:
Shared:
1