Pertentangan Agama dan Pancasila, Berikut Pandangan Haedar Nashir

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 14 Februari 2020 11:04 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir memberikan komentar terkait tema yang sedang hangat diperbincangkan publik tentang relasi agama dan pancasila. Komentar tersebut disampaikannya selepas menerima Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta pada Rabu (12/2).

Dalam kaitannya tentang pertentangan agama dan Pancasila yang sekarang sedang hype dibincangkan publik, Haedar menyarankan agar tokoh-tokoh bangsa dapat menahan diri untuk tidak membuat isu-isu yang membuat gaduh.

“Kepada para pejabat, apalagi kalau pejabat baru, harus mau belajar, bahwa menjadi pejabat itu mengurus urusan publik yang luas. Dalam perkataan dan membuatpernyataan, agar tidak keliru,” ungkap Haedar.

Haedar menilai tidak perlu mempertentangkan antara Agama dan Pancasila karena hubungan keduanya terjalin secara positif. Semua sila yang ada dalam butir-butir Pancasila telah melambangkan upaya pembumian nilai-nilai agama dalam kehidupan bernegara secara koheren dan simultan, sehingga mempertentangkan keduanya hanya akan membuahkan kegaduhan yang kontra produktif.

“Agama itu positif untuk pancasila, bahkan dalam Pancasila ada sila ketuhanan yang maha esa. Bahkan dalam konstitusi dasar kita pasal 29, eksistensi agama diakui. Bahkan Bung Karno mengatakan negara Indonesia itu bertuhan dan harus bertuhan. Itu kata Bung Karno,” terang Haedar.

Menurut Haedar, jika ditemukan ada salah pandang dari Agama yang negatif terhadap Pancasila, hal yang sama bisa terjadi salah paham terhadap pancasila dan negatif terhadap agama. Padahal Haedar menjelaskan bahwa kalau diperhatikan secara saksama, dari lima silanya tidak ada satu pun yang bertentangan dengan agama.

“Salah paham terhadap agama atau pandangan yang salah tentang agama, bisa menimbulkan salah paham terhadap pancasila, begitu juga sebaliknya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih meluas, perlu untuk memperdalam horizon keilmuan kita tentang agama dan pancasila,” jelas Haedar.

Nilai-nilai Pancasila secara organik telah tumbuh hidup dalam laku dan alam pikiran serta kesadaran bangsa Indonesia. Kelahiran Pancasila merupakan serapan dari seluruh kearifan yang terbentang sepanjang garis khatulistiwa sehingga kehadirannya diterima semua kalangan. Pancasila mampu tampil memberikan jawaban memuaskan baik bagi kelompok sekuler maupun religius.

“Kalau agama yang hidup di negeri ini kemudian dipertentangkan dengan pancasila, maka yang muncul adalah konflik. Apakah kita ingin menciptakan konflik? Maka dari itu kita harus arif. Jadi, jangan mempertentangkan keduanya,” pungkas Haedar.

Shared:
Shared:
1