Derap Pemberdayaan sebagai Metode Dakwah Bil Hal Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 08 Februari 2020 18:18 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, PALU-- Derapkan civitas akademikanya untuk lebih mengenal pemberdayaan masyarakat, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu selenggarakan Kuliah Tamu dengan tema "Pemberdayaan Dalam Dakwah Muhammadiyah" pada Sabtu (8/2) di Aula Utama Rektor Unismuh Palu.
 
Wakil Rektor 1 Unismuh Palu, Rafiudin Nuruddin mengungkapkan, gerak dakwah pencerahan yang dilakukan oleh Muhammadiyah bukan hanya dalam bentuk retoris, melainkan langkah-langkah konkrit yang disebut sebagai metode dakwah bil hal.
 
"Dakwah Muhammadiyah setidaknya harus berdimensi pada pembebasan dan pencerahan. Dalam dua aspek ini, keberadaan kampus dan civitas akademika nya bisa saling kolaborasi untuk keberdayaan umat. Yang dijalankan dengan majelis di Muhammmadiyah," ungkapnya.
 
Metode dakwah ini dalam bentuk lainnya bisa juga disebut derap pemberdayaan. Program pemberdayaan diantaranya adalah pendampingan masyarakat, sebagai catur dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA).
 
Koordinator Komunitas Khusus MPM PP Muhammadiyah, Wuri Rahmawati menjelaskan, pemberdayaan tidak cukup dengan waktu yang singkat setahun-dua tahun. Akan tetapi pemberdayaan dilakukan dengan sustainable, cara nya bukan dilakukan secara sepihak, melainkan dengan cara sinergi atau kolaboratif.
 
"Pemberdayaan tidak bisa dipatok hanya setahun atau dua tahun, melainkan harus dilakukan dengan berkesinambungan. Sehingga dibutuhkan sinergi segala pihak," ucapnya.
 
Dosen Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta pada program komunikasi ini menyarankan untuk dibuat Memorandum of Understanding (MoU), yang dijalin antara Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang memiliki sumberdaya untuk melakukan pemberdayaan. Misalnya dengan perguruan tinggi, karena memiliki sumberdaya insani yang berkompeten dalam penelitian, pendampingan dan pemberdayaan.
 
Wuri juga berharap, pasca terjadinya bencana alam di Palu pada September 2018 lalu bisa menjadi pelecut semangat untuk mengejar ketertinggalan. Ia menyakini, masyarakat Palu adalah masyarakat yang kuat dalam menghadapi segala cobaa dan masyarakat yang mampu menggerakkan diri dan kelompoknya menjadi lebih berdaya.
 
Kesenjangan yang terjadi disuatu lingkup masyarakat tertentu bisa menjadi obyek dakwah, karena dalam setiap kesenjangan akan ditemukan satu kelompok masyarakat tertindas. Baik tertindas secera struktural, kultural, ekonomi dan lain sebagainya. Maka dibutuhkan metode tersendiri supaya bisa masuk ke jenis-jenis masyarakat dengan segala kompleksitas nya. (a'n)
Shared:
Shared:
1