MPM Perkuat Kelembagaan Dampingan Koperasi Masyarakat Palu

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 07 Februari 2020 14:43 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, PALU-- Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah perkuat kelembagaan dampingan melalui Pelatihan Manajemen Koperasi, untuk anggota dan pengurus Koperasi Luku Karya Mandiri pada Jum’at (7/2) di Kampung Nelayan Resort, Kota Palu.

Ketua Koordinator fasilitator Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi (TRR) MPM PP Muhammadiyah, Adib Nurhadi menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan merupakan tindak lanjut program yang telah dicanangkan untuk dampingan kelompo petani bawang goreng yang tergabung dalam koperasi. Kegiatan ini juga didukung oleh Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu).

"Kita jangan sampai berhenti hanya pada pembentukan kelompok, tapi harus ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan untuk membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) profesional, yang nanti akan mengurus koperasi dan kelompok,” tuturnya.

Koperasi Luku Karya Mandiri merupakan koperasi yang beranggotakan dan dikelola oleh para petani bawang serta anggota lain yang berasal bukan dari petani bawang, koperasi ini berlokasi di Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Kedepan, koperasi yang bergerak di sektor pertanian juga akan merambah dan memperluas cakupannya, terlebih kepada industri kecil-menengah yang lain. Karena untuk wilayah Sigi dan Palu mulai banyak usaha retail-retail besar, yang keberadaannya mampu menggeser keberadaan toko-toko kecil milik masyarakat lokal.

Sementara, Ketua MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah (PWM Sulteng), Muhammad Syaifuddin Nasrun menyebut, pengetahuan anggota dan pengurus koperasi atau dampingan MPM di wilayah nya perlu untuk di up grade keilmuannya.

"Kita harus semakin cerdas, karena berusaha untuk cerdas dan meningkatkan pengetahuan adalah perintah Allah. Selain itu, manusia yang memiliki ilmu, dia posisinya lebih tinggi beberapa derajat di mata Allah SWT,” ungkapnya.

Dosen Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu ini berharap, kelompok dampingan MPM di Sigi yang mayoritas adalah petani bawang untuk terus-menerus memperkuat pengetahuan nya, terlibat masalah out farm. Menurutnya, petani bawang goreng selama ini sering mengalami masalah pada penjualan yang dimonopoli oleh tengkulak. Sehingga diharapkan petani bawang goreng selain tanam juga melakukan olahan lanjutan.

Dampingan MPM kelompok petani bawang goreng merupakan para penyitas dari gempa bumi dan tsunami Palu yang terjadi pada 28 September 2018 lalu. Pasca bencana tersebut, petani bawang mengalami kesulitan air untuk melakukan proses produksi atau tanam bawang. Namun kesulitan tersebut bisa diatasi setelah MPM memberikan bantuan dalam bentuk sumur artesis, selain diperuntukkan kepada petani dampingan, sumur tersebut juga bisa dimanfaatkan petani sekitar kelompok. (a’n)

Shared:
Shared:
1