Penguatan Generasi Masa Depan Harus Diurus dengan Serius

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 01 Februari 2020 14:34 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL-- Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra-puti sang hidup yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu. Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu.

Potongan puisi dari Khalil Gibran tersebut dikutip oleh Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Siti Zulaikha pada Sabtu (1/2) untuk menggambarkan keadaan generasi muda milenial yang hidup di era digital sekarang ini.

“Kita bicara tentang pola asuh anak yang berada di generasi digital, namun kita yang mengasuh anak adalah orang tua yang ‘kolonial’. Karena anak mu adalah anak zaman. Maka perbedaan generasi ini juga menjadi persoalan tersendiri dalam urusan keluarga, karena akan berpengaruh kepada kesuksesan atau cita rasa yang berbeda,” ungkapnya.

Sehingga, orangtua harus siap dan berani membuka dirinya untuk belajar memahami anak dan lingkungannya saat ini. Semangat belajar yang dimiliki oleh orang tua anak merupakan langkah untuk menyelesaikan persoalan yang muncul dari ketimpangan zaman, sehingga persoalan tidak terjadi berkepanjangan.

Semangat belajar dunia anak merupakan perintah dalam Al Qur’an, karena salah satu perintah yang ada dalam QS An-Nisa ayat 49. Yakni perintah untuk tidak meningalkan generasi yang lemah setelahnya. Maka belajar mengenai dunia anak yang sesuai zaman merupakan bentuk cinta dan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Ilmu yang didapatkan sebagai bekal untuk membentuk atau mencetak generasi yang kuat dan unggul.

“Kita sering lupa bahwa mengurus anak tidak memberikan petunjuk, karena yg sering kita dipakai hanya larangan dan perintah. Padahal petunjuk atau penjelasan bisa menjadi strategi yang jitu dlm cara mengurus generasi mendatang. Strategi ini perlu karena sikap anak yang serba ingin tau, sehingga perlu untuk memberikan petunjuk kepada anak, bukan hanya melarang dan memerintah,” ucapnya.

Mengurus anak juga harus memiliki landasan yang kuat, misalnya melakukan Tafsir Berkemajuan terhadap maqasid syari’ah terkait dengan hifdzun nasl (menjaga keturunan). Jika dalam tafsir klasik tentang hifdzun nasl berkisar diantara persoalan untuk pembahasan untuk cara menghindari zinah. Maka dalam Tafsir Berkemajuan, harus lebih luas.

“Karena ini juga termasuk dalam maqosid syariah, tentanghifdzun nasl (menjaga keturunan). Yaitu memberi rasa aman, nyaman, dan melindungi anak kita. Ini sebagai tafsir Berkemajuan. Karena bukan hanya menelantarkan, membunuh atau membiarkan anak kita. Tapi kita harus memberikan yang terbaik buat anak kita,” urainya. (a'n)

Shared:
Shared:
1