TBC Sebagai Seteru Abadi Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 01 Februari 2020 10:10 WIB

 

Oleh: A’an Ardianto

Muhammadiyah dalam tugas dan beban sejarahnya, dikenal sebagai organisasi Islam modern yang konsen menghilangkan Tahayul, Bid’ah danChurafat (TBC). Sebagai suatu yang harus dijauhi oleh umat Islam, ketiga entitas tersebut karena dianggap sebagai penghambat kemajuan umat, serta menjadikan umat Islam terpuruk dan terkurung di dalam konsep-konsep atau pandangan mereka sendiri terhadap Tuhan, alam, dan hubungan sosial. Kepercayaan nyeleneh yang umat Islam anut, seperti adanya hari-hari yang tidak baik, kepemimpinan yang sudah digariskan, dan kembalinya kejayaan nusantara setelah 500 tahun seperti yang diramalkan (Sabdopalon dan Nyoyogengong).

Masa awal Muhammadiyah menyulut seteru atau perlawanan terhadap TBC adalah ketika perilaku umat Islam dalam bentuk ritual-ritual yang tidak sesuai dengan ajaran syari’at Agama Islam. Sulut seteru tersebut dimulai dari usaha Muhammadiyah dalam pemurnian ajaran Islam dari kepercayaan yang masih singkret dengan ajaran animisme dan dinamisme. Ritual-ritual tersebut yang awalnya adalah budaya kemudian bergeser menjadi bagian dari ajaran Islam yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga menimbulkan ketergantungan umat Islam tidak lagi kepada Tuhan dan usahanya sendiri.

Sehingga keberhasilan dan kegagalan atas usaha yang dilakukan manusia digantungkan kepada ritus-ritus nir-ilmiah, berharap kepada pohon beringin, pantai laut kidul, karena dianggap memiliki penunggu yang memiliki otoritas atas berhasil dan tidaknya usaha yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu, TBC juga mengalami tranformasi dan berubah kedalam bentuk-bentuk baru. Dalam pandangan Kuntowijoyo, TBC juga bisa dimaknai sebagai mitos dalam arti luas, Kunto membagi mitos dalam tiga fase.

Yakni mitos lama, baru dan kontemporer. Mitos lama dan baru dalam priodesasi perlawanan Muhammadiyah terhadap TBC sudah terlewat (meski belum sepenuhnya berhasil). Sekarang yang menjadi tantangan Muhammadiyah adalah mitos kontemporer, Kunto menyebutkan mitos kontemporer lebih mengarah kepada usaha komersialisasi. Seperti keperkasaan seorang pria, tipisnya tubuh wanita, sepak bola, bentuk-bentuk ritual yang dikomersilkan tersebut didukung dan diramu sedemikian rupa oleh kemajuan informasi dan teknologi.

Ritus mitos kontemporer menjadi bagian dari gurita kapitalisme global. Mitos-mitos tersebut merupakan hasil dari skematisasi kelompok pemenang ‘peran dunia’ yang kemudian mereka memanfaatkannya menjadi komoditas. Gejala tersebut muda tersebar terlebih karena lemahnya imunitas umat Islam terhadap serangan ‘penyakit’ baru ini.

Sebagai contoh, suporter miskin rela menghamburkan uang penghasilannya sebagai kuli bangunan yang tidak seberapa demi membeli tiket pertandingan dan datang ke Stadion, teriak, sorak-sorak, bahagia yang seketika (lalu sedih), pulang dengan lelah dan lesu karena kekalahan tim yang didukung. Pekerja kantoran dan mahasiswa rela bolos atau mengatur ulang jadwal kerja dan kuliah esok harinya karena pada waktu dini hari mereka asik dibuai pertandingan sepak bola oleh televisi.

“Dibeberapa kalangan supoter fanatik, sepak bola dianggap sebagai agama kedua (second religion).”

Dari berjalannya mitos tersebut ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan, tanpa disebutkan kita sudah mengetahui siapa kedua pihak tersebut. Maka sebagai organisasi moder Islam yang memiliki jejak sejarah sebagai penghalau atau penghilang praktik-praktik TBC, Muhammadiyah memiliki tanggungjawab dan sebagai tugas pencerahan umat terhadap peliknya persoalan ini.

Taggungjawab dan tugas atas penanganan persoalan tersebut merupakan konsekuensi logis dari hadirnya Muhammadiyah itu sendiri. Maka Muhammadiyah harus mengambil alih ‘take over’ peran kapitalis yang secara ugal-ugalan mengeksploitasi sumber daya umat Islam. Beberapa tawaran seperti yang disampaikan oleh Munir Mulkhan, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) diantaranya adalah mengajak Muhammadiyah untuk melakukan kapitalisasi sumber daya sosial yang dimiliki oleh Muhammadiyah.

Menurutnya, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar tentu memiliki masa yang berjumlah jutaan. Kapitalisasi kekuatan sosial, termasuk didalamnya budaya, sejarah dan politik. Kapitalisasi sosial umat Islam juga berkaca pada kembalinya semangat berjamaah dikalangan umat Islam yang mulai tumbuh. Kapitalisasi kekuatan sosial umat Islam juga bermaksud supaya distribusi kekayaan yang diserap dari mereka juga akan kembali lagi ke mereka, serta sebagai upaya distribusi kekayaan supaya tidak hanya berputar di kalangan elite (aghina’), hal ini sesuai dengan perintah dalam QS. al Hasyr ayat 7.

Selain modal sosial, Muhammadiyah juga memiliki Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang mencapai anggka ratusan bahkan ribuan. Dengan banyaknya angka tersebut, Muhammadiyah berpeluang besar menggeser peran kapitalis-kapitalis tersebut. Keberadaan AUM juga perlu dikembangan, artinya Muhammadiyah perlu memiliki AUM yang bukan hanya bergerak pada bidang-bidang maindstream saat ini, seperti di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial saja. Tapi juga harus mulai merancang untuk memiliki AUM di bidang lain, misalnya bidang olahraga yang diurus dengan management yang Islami, modern dan rapi.

Langkah awal Muhammadiyah bisa dimulai dengan melakukan pengulangan proses demistifikasi dikalangan umat Islam, yang menyatakan bahwa pribumi atau umat Islam sebagai kelompok miskin, kalah dan tidak memiliki daya menjadi kaya. Demistifikasi diupayakan sebagai langkah untuk ‘mencuci’ paradigma dasar umat Islam, bahwa keberdayaan atau keberhasilan adalah hak semua pihak yang merupakan hasil linier atas usaha yang dilakukan. Seperti yang dinyatakan dalam QS. ar Ra’d ayat 11, sehingga didalamnya juga terjadi proses tranformasi sosial umat Islam dari ketak-berdayaan menuju keberdayaan.

Shared:
Shared:
1