Teologi Al Ma’un Menjadi Basis Utama dalam Membangun CSPR

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 23 Januari 2020 21:26 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA- Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bentuk  rasa tanggung jawab yang dilakukan oleh sebuah perusahaan terhadap sosial dan lingkungan sekitar di mana perusahaan tersebut berdiri. Akan tetapi menurut Rismawati Sudirman dalam acara Diskusi Publik dan Diseminasi Hasil Riset Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan bahwa pelaksanaan CSR selama ini telah kehilangan ruh agama sehingga menjadikannya sangat kental dengan kepribadian yang materialis, egois, sekular, bahkan ateis.
 
“Sifat-sifat materialistik, egoistik, sekularistik, dan ateistik menjadikan segala hal harus diukur. Kebanyakan mereka bicara soal skala-skala, semuanya harus dilihat dengan angka-angka, paradigma untung-rugi dan sebagainya, nihil nilai-nilai spiritual,” ungkap Risma pada acara tersebut yang diselenggarakan di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah jl. Cik Ditiro pada Kamis (23/1).
 
Dosen Universitas Muhammadiyah Palopo ini menegaskan bahwa sifat-sifat tersebut menjadikan manusia menghamba pada materi dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Pada suatu titik manusia akan merasa frustasi karena apa yang diupayakan tidak mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya. 
 
Dalam upaya mengisi kekosongan tersebut, sehingga manusia mendapatkan suasana batin yang tenang, Risma menyampaikan supaya substansi CSR mesti didekonstruksi menjadi Corporate Spiritual Responsibility atau CSpR. Teologi Al Maun menjadi basis utama dalam membangun konsep CSpR ini karena dianggap menjadi salah satu surah yang menjadi landasan gerakan sosial dalam Islam. 
 
“Al-Ma’un dalam konstruksi gerakan Muhammadiyah dimaknai sebagai gerakan amal dengan menyeimbangkan antara ibadah ritual dengan ibadah sosial. Sehingga ini menjadikannya lebih hidup tidak hanya pada tataran ritual tetapi juga pada tataran sosial yang bersifat dinamis-transformatif,” ujar Risma. (ilham)
Shared:
Shared:
1