Garis Tegas ‘Aisyiyah Terhadap Modernisme

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 17 Januari 2020 11:29 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Sebagai bagian dari realitas, manusia dalam modernitas adalah perencana dan perancang yang tidak hanya memiliki pandangan mengenai bagaimana dunia bekerja, namun juga menguasai berbagai alat untuk mencapai pemahaman tersebut.

Sosiolog kontemporer, Zygmunt Bauman berpandangan bahwa modernitas padat menyebabkan masyarakat tumbuh dalam bimbingan ide dan tatanan, sementara dalam moderintas cair masyarakat didikte oleh ilusi mengenai kecepatan dan perubahan yang terus menerus hingga akhirnya kehilangan dasar.

Modernitas dalam sisi historisnya memiliki kesamaan atau bahkan identik dengan westernisasi  atau Amerikanisasi, dimana konsep suatu peradaban dianggap maju apabila menyamai atau setidaknya berusaha untuk menyamai peradaban yang dimiliki oleh Barat atau Amerika.

Secara definitif, ciri khusus modernitas adalah suatu lukisan dimensi masyarakat modern dengan maksud untuk ditanamkan dalam benak masyarakat tradisional atau pra modern, yang secara lembut sebagai daya dominasi kebudayaan baru (Barat) terhadap kebudayaan luhur dari suatu bangsa yang dianggap pra modern tersebut.

Menyikapi perkara ini, MajalahSuara ‘Aisyiyah (SA) tahun VIII No. 3 edisi Maret 1933 memperbincangkan tentang masalah modernisme. Sebagai isme, modern dikupas oleh Majalan SA. Disebabkan banyak khalayak yang waktu itu khilaf dan salah dalam meletakkan diri di “lapangan” yang disebut sebagai modernisasi.

Memang benar, roepanya banjak dikalangan bangsa kita itoe jang sama chilaf dan salah letak nempatkan diri di lapangan modernisme itoe. Sehingga boekan lagi ia mendjadi seorang modern jang menoedjoe kepada perobahan masjarakatnja, keloehoeran oemoem tetapi dari kemodernisme-nja, ia mendjadi koetoe-koetoe atau penjakit masjarakat.

Sebagai alasan modernisme, banyak puteri-puteri menanggalkan pakaian ketimuran, kain dan baju kebaya. Berganti pakaian bergaya Barat. Mode tersebut mereka ikuti untuk mengejar prestise, berbangga disebut sebagai perempuan modern. Bukan hanya tentang fashion, aktivitas yang dijalankan juga mengadopsi dari Barat.

Mengaku sebagai puteri kemajuan, puteri modern yang dengan bangga meningalkan budaya ke-Timuran. Berganti budaya Barat yang menampilkan lekuk tubuh, dan berpakaian yang tidak sopan bagi untuk lingkungan masyarakat Timur.

Adapoela orang mengakoe dirinya seorang poeteri kemadjoean, poeteri modern, sebab dia gesit mengempit rangket dengan tjalana pendeknja mode Hollywood, dan alisnja Greta Garbo serta berbimbingan dan berhimpitan tangan dengan kaoem pemoeda kaum lelaki setjara kemerdekaan semerdeka-merdekanja.

Garis tegas yang diletakkan oleh ‘Aisyiyah sebagai gerakkan perempuan muslim dalam membendung arus modernisasi sebaga cara membentengi kaum putri dari budaya yang tidak sesuai, budaya yang menghilangkan adat istiadat murni, adat ke-Timuran, pusaka nenek moyangnya. Serta, menjaga kemurnian Tauhid yang merupakan tuntunan Agama Suci.

Ombak modernitas pantas diambil perhatian oleh kaum putri yan telah mengetahui kedudukannya sebagai putri angota masyarakat pemangku umat. Sebab jika tidak diperhatikan, kemungkinan besar kaum putri akan tengelam dalam dalam lautan tiru-meniru dan melupakan budaya luhur bangsa yang telah melekat dalam dirinya.

Sebagai bangsa yang berbudaya luhur, kaum putri Indonesia jangan sampai didikte oleh zaman yang berjalan diatas percepatan dan di jalur bebas hambatan dengan cara yang ugal-ugalan. Maka Majalah SA pada waktu itu telah membuat garis terang, jelas dan tegas dalam perkara modernisme. Tidak berlebihan, jika garis ini juga berlaku pada terpaan budaya yang datang dari budaya Islam Transnasional.(a’n)

Shared:
Shared:
1