Lima Karakter Identik Gerakan Perempuan ‘Aisyiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 06 Januari 2020 10:55 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, MAGELANG -- Jika masih ada saudara-saudara kita para perempuan yang masih tertinggal karena ketidaktahuannya, maka adalah kewajiban perempuan ‘Aisyiyah untuk memberdayakan dan membuat mereka menjadi lebih baik. ‘Aisyiyah tidak boleh berpangku tangan karena merasa jumawah atau merasa lebih baik dan maju.

Hal tersebut diungkapkan oleh Siti Noordjanah Djohantini, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah dalam pembukaan Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) ke-2 Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah (Jateng) pada Sabtu (4/1) di Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang.

Noordjanah dalam kesempatan itu menyampaikan lima karakter identik yang memperkuat gerakan perempuan ‘Aisyiyah. Karakter tersebut dimaksudkan sebagai identifikasi untuk mengetahui ciri yang melekat pada gerakan perempuan berkemajuan.

Pertama, sebagai gerakan Islam berkemajuan yang membawa misi Islam rahmatan lil alamin yang berpandangan sesuai dengan Muhammadiyah, yakni Islam tengahan atau wasathiyah. Karakter atau ciri pertama ini yang harus melekat pada gerakan perempuan Berkemajuan.

Kedua,‘Aisyiyah memiliki tanggung jawab untuk membawa para perempuan hadir dan menjadikan kehidupan perempuan Indonesia yang maju, perempuan yang bisa memberi manfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat secara luas.

“Jika masih ada saudara-saudara kita para perempuan yang masih tertinggal karena ketidaktahuannya, maka adalah kewajiban perempuan ‘Aisyiyah untuk memberdayakan dan membuat mereka menjadi lebih baik,” tuturnya.

Karakter gerakan perempuan berkemajuan tidak boleh berdiam diri atau berpangku tangan terhadap gejala sosial yang terjadi disekitarnya. Noordjanah menekankan bahwa, ‘Aisyiyah tidak boleh berpangku tangan hanya karena merasa sudah hebat, maju dan menganggap yang lain bukan dari bagiannya.

Peran kebangsaan yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah tidak hadir dari ruang hampa, melainkan sesuai dengan historisnya. Di masa awal berdirinya, peran ‘Aisyiyah telah dikenal luas sebagai gerakan pembebasan kaum perempuan dari ketertinggalan. Salah satunya adalah melalui inisiasi diadakannya Kongres Perempuan yang pertama pada tahun 1928 di Yogyakarta.

Ketiga, adalah karakter ‘Aisyiyah yang harus berkiprah luas pada kepentingan kebangsaan atau kepentingan NKRI. Karakter ini linier dan tidak ahistoris, bahwa ‘Aisyiyah organisasi perempuan Islam dengan tidak mengkesampingkan peran kebangsaan dan kenegaraan. Menurut Noordjaannah perempuan tidak bisa hanya berpikir pada dirinya semata,

‘Aisyiyah juga mendorong peran perempuan dalam kenegaraan, sebagai langkah membentuk Negara yang inklusif gender. Karena ‘Aisyiyah menyakini  membangun negara bukan hanya tugas laki-laki saja tetapi membangun negara adalah tugas semua warga negara termasuk di dalamnya adalah perempuan ‘Aisyiyah.

Keempat, adalah gerakan amal usaha. Disampaikan oleh Noordjannah bahwa luar biasa KH Ahmad Dahlan dengan para pendahulu yang membangun gerakan masif dakwah di tingkat masyarakat tetapi juga ada gerakan yang diinstitusionalisasi yang kemudian menghadirkan lembaga-lembaga dan intitusi-institusi baik itu pendidikan, kesehatan, sosial dan bidang lainnya.

Terakhir, karakter gerakan Perempuan Berkamajuan untuk memperkuat gerakan ‘Aisyiyah adalah menggiatkan dakwah di akar rumput. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga eksistensi gerakan ‘Aisyiyah sampai pada tingkat pimpinan yang paling bawah, karena Ranting sebagai ujung tombak maka harus tetap tegak.

“Kekuatan di akar rumput adalah kekuatan di mana ‘Aisyiyah bisa diterima oleh masyakat luas karena kita bersama-sama mereka untuk memajukan kehidupannya,mensejahterakannya, membawa mereka, kita semua dengan seluruh warga menuju kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya.

Shared:
Shared:
1