Buya Yunahar Ilyas, Pakar Tafsir yang Mumpuni

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 05 Januari 2020 16:21 WIB

Oleh: M. Din Syamsuddin

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015;

Ketua Dewan Pertimbangan MUI

Kepergian Alm. Yunahar Ilyas ke hadirat Allah SWT, 2 Januari 2020, setelah menderita sakit di RS PKU Muhammadiyah dan RS Sarjito Yogyakarta, adalah duka bagi segenap keluarga besar Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia. Kewafatannya bukan saja merupakan kehilangan bagi keluarga besar kedua organisasi itu, tapi juga bagi umat Islam Indonesia dan Dunia Islam. Almarhum adalah salah seorang ulama Indonesia yg ikut berkiprah di dunia, khususnya di forum Liga Muslim Sedunia (Rabithat al-‘Alam al-Islamy) yg berpusat di Mekah.

Di Muhammadiyah, almarhum adalah kader sejak aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan kemudian di PP Muhammadiyah sejak Tahun 2000. Beliau merupakan figur ulama yg memiliki wawasan pengetahuan keislaman yang luas. Kemampuan Bahasa Arab yang dimilikinya memungkin Almarhum mampu memdalami sumber-sumber Islam, Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta literatur-literatur keislaman klasik maupun modern. Fokus perhatiannya pada tafsir menjadikannya seorang pakar tafsir yang mumpuni. Hal ini ikut mewarnai penulisan Tafsir Al-Tanwir yg merupakan salah satu produk monumental Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Selain seorang ulama, Alm. Yunahar Ilyas adalah seorang muballigh handal yang piawai berceramah dalam bahasa sederhana dan mengena.

Tak pelak lagi Alm. Yunahar Ilyas merupakan aset Muhammadiyah yang unik dan langka. Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan menuntut adanya figur ulama-muballigh sekaligus ulama-intelektual. Keberlangsungan gerakan dakwah Muhammadiyah meniscayakan adanya figur pimpinan yg memiliki wawasan pengetahuan keagamaan yg luas sehingga mampu mengembangkan pikiran keislaman yg berkemajuan namun tidak tercerabut dari akar dan dasar-dasar ajaran Islam. Memang cukup banyak kader ulama di lingkungan Muhammadiyah, baik alumni Luar Negeri maulun Dalam Negeri, namun mereka memerlukan waktu utk tampil dan ditampilkan. Namun, untuk sementara waktu, agaknya Muhammadiyah terutama utk tingkat pusat, menghadapi kelowongan figur ulama utk menggantikan posisi Alm. Yunahar Ilyas. Simaya Muhammadiyah sebagai gerakan Islam menuntut adanya shibghah Islamiyah. Tanpa shibghah Islamiyah Muhammadiyah akan kehilangan ruh Islami.

Di Majelis Ulama Indonesia, di mana Almarhum menjabat sebagai salah seorang ketua kemudian Wakil Ketua Umum hingga akhir hayatnya, juga tak terlepas dari sentuhan pikiran Almarhum.  Almarhum ikut mewarnai keputusan-keputusan MUI. Sebagai seorang ulama, Almarhum mampu memposisi diri pada Wasathiyat Islam sejati, yang tidak sekedar menekankan moderasi dan toleransi, tapi memadukannya dengan watak i’tidal dan tawazun. Yg pertama menekankan penegakan keadilan dan adanya keadilan dalam masyarakat, maka pengamal Wasathiyat Islam sejati akan gusar dan prihatin jika merajalela berbagai bentuk ketidakadilan. Yang kedua, tawazun, juga mengejawantah dalam sikap kecenderungan menegakkan keseimbangan dan prihatin terhadap berbagai bentuk kesenjangan dan ketimpangan. Dua kriteria Wasathiyat Islam ini, i’tidal dan tawazun, sering dilupakan karena hanya terfokus pada moderasi dan toleransi. Akibatnya, kita menjadi lembek (bukan lembut) terhadap kemungkaran-kemungkaran terutama yg bersifat struktural yg melekat dalam sistem kehidupan kolektif/kebangsaan. Dari jarak dekat, saya menilai Almarhum Yunahar Ilyas, sebagai ulama sejati, memiliki kuat komitmen kepada Wasathiyat Islam demikian. Hanya saja, Almarhum banyak memilih diam  (tidak berbicara di ruang publik yg luas), dan hanya memilih berbicara pada audiens terbatas, yakni  jamaah kajian tafsir yg diasuhnya. Sikap demikian sebenarnya cukup berarti dari pada banyak ulama lain yg bisu karenanya lidahnya kelu, atau cenderung menggebu-gebu membela pihak tertentu. Maka kewafatan ulama dari umat ini perlu menjadi peristiwa yg disikapi secara ijabi (responsif utk mengajukan solusi).

Adalah manusiawi kalau kita bersedih atas kewafatan Almarhum, namun akan lebih baik kalau kita mengambil hikmah dari setiap kehilangan tokoh, yaitu dengan berupaya menghadirkan generasi penerus. Wa kafa bi al-mauti wa’izhan, cukuplah bagi kalian kematian sebagai pelajaran. Maka jadikanlah kewafatan Almarhum Yunahar Ilyas sebagai pelajaran, yakni dengan menghadirkan Yunahar-Yunahar baru.

Shared:
Shared:
1