Demokrasi Harus Menghasilkan Kearifan Kolektif

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 30 Desember 2019 17:30 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Menyoroti masalah demokrasi saat ini, Purwo Santoso Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogykarata menyarankan agar masyarakat menalar politik yaitu membendung politisasi agama dengan lebih mengedepankan keberagaman dari pada kebenaran agama.

Mengurai masalah demokrasi saat ini, pertama, Indonesia belum menep (lincah) menghasilkan kearifan kolektif. Kedua, kita membangun demokrasi tanpa ‘demos’ artinya membangun demokrasi tanpa kewarganegaraan tetapi masih kenegaraan.

“Ketika saya menekuni tentang desentrasliasi dan ononomi daerah adalah yang berperan itu ahli tata negara bukan ahli adat. Itu berarti kewarganegaraan belum sepenuhnya berperan dalam demokrasi,”urainya.

Guru Besar Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM mengajak agar semua warga negara tidak hanya berfikir mekanistik dalam berdemokrasi.

“Demokrasi yang mekanistik mungkin cocok dan menghasilkan demokrasi di Amerika dan Eropa. Tetapi perlu direvisi dan dikawal ketika diterapkan di Inoensia sehingga meghasilkan kearifan kearifan kolektif dan kearifan warga negara,” katanya.

Terakhir Purwo mengajak, kalau reformasi mau diteruskan maka tidak bisa bermain-main dengan kewarganegaraan dan kecerdasan warga negara sebagai pemilik negeri ini. Karena dengan mekanisme yang ada itu, bisa dicuri oleh elit.

“Dimanapun di negeri ini kita tidak bisa menghindari dari elit. Tetapi mendisplinkan elit supaya terjebak oleh masa, itulah tantangan terberat kita semua,” ajaknya. (andi)

Shared:
Shared:
1